Tantangan Berat Dalam Menulis Cerita Anak

Waktu masih kecil saya suka membaca cerita anak. Pada waktu itu televisi merupakan barang mewah, sehingga tidak setiap keluarga memilikinya. Di rumah saya tidak ada televisi. Jadi, bila mau melihat televisi, maka saya harus menumpang di rumah tetangga. Karena di rumah tidak memiliki televisi, maka waktu saya gunakan untuk membaca buku, terutama buku cerita anak.

Ketika remaja saya mengawali menulis dengan membuat cerita anak. Demikian pula ketika tahun 2012 saya kembali menekuni dunia tulis-menulis, saya menulis cerita anak. Menulis cerita anak sangat menyenangkan karena dunia anak-anak penuh dengan cerita.

Menulis cerita anak ternyata tidak segampang yang kita bayangkan. Cerita anak bukanlah cerita orang dewasa yang dibuat dengan tokoh anak-anak. Bukan, bukan seperti itu! Saya harus bekerja keras untuk memilih kata-kata yang tepat, tidak mengandung unsur kekerasan, dan menghindari kisah percintaan dengan bahasa orang dewasa.

Tokoh-tokoh dalam sebuah cerita anak bisa saja anak-anak, remaja, orang dewasa, hewan, benda, dan lain-lain. Yang termasuk anak-anak adalah anak usia dini dan sekolah dasar. Yang termasuk orang dewasa adalah bapak, ibu, kakek, dan nenek. Remaja dan orang dewasa merupakan tokoh yang menyertai dalam cerita anak.

Cerita anak bisa berupa cerita sehari-hari, fabel, dongeng, cerita rakyat, cerita misteri, detektif dan lain-lain. Cerita sehari-hari berupa kisah persahabatan, kerja sama, dan budi pekerti. Fabel merupakan cerita dengan tokoh hewan-hewan. Dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi, terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh. Cerita rakyat adalah cerita dari zaman dahulu yang hidup di kalangan rakyat dan diwariskan secara lisan. Cerita misteri dan detektif adalah cerita yang memerlukan pemecahan masalah.

Dalam menuliskan cerita anak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Penggunaan kata-kata dan penulisan kalimat yang mudah mudah dipahami.

Saya harus pandai memilih kata yang tepat sehingga anak tidak perlu memikirkan arti kata tersebut. Misalnya, saya tidak menggunakan kata minimal dan maksimal untuk menyatakan jumlah. Kata minimal dan maksimal diganti dengan kata-kata paling sedikit dan paling banyak.

 

  1. Kata-kata yang digunakan harus ramah anak.

Seandainya dalam cerita anak tersebut terdapat kata-kata yang tidak ramah untuk anak, hal ini sangat berbahaya. Dalam menulis cerita anak tidak boleh ada kata-kata yang menunjukkan suatu tindakan kekerasan, misalnya memukul, mendorong, mencubit, menimpuk, melukai, dan lain-lain. Sebisa mungkin menggunakan kata-kata yang ramah, sebab anak-anak bisa mencontoh perbuatan atau perilaku seperti dalam cerita. Saya sering mengamati anak-anak di sekitar rumah. Mereka melakukan suatu perbuatan yang tidak terpuji karena mereka mencontoh apa yang dilihat di televisi atau internet.

 

  1. Kalimat yang digunakan harus kalimat sederhana.

Kalimatnya pendek-pendek, tidak mengandung kalimat majemuk yang bisa membingungkan anak-anak. Dalam satu kalimat memiliki pola Subyek-Predikat-Obyek-Keterangan atau pola SPOK. Namun, kadang-kadang saya menuliskan kalimat dengan pola SPO atau SP saja.

Dalam sebulan terakhir ini, saya mendapat tantangan untuk menulis cerita rakyat nusantara atau dongeng. Cerita ini diambil dari beberapa kota atau daerah di nusantara. Ceritanya bebas tapi tetap memenuhi kaidah penulisan cerita anak. Ternyata tidak mudah untuk menceritakan kembali cerita rakyat yang sudah ada. Saya katakan menceritakan kembali, karena cerita tersebut memang sudah ada. Saya harus menulis dengan bahasa dan gaya tulisan saya.

Selain itu saya bisa menulis cerita yang baru sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Jadi, tulisan tersebut hasil dari pemikiran saya berdasarkan sejarah dan keadaan geografi kota tersebut. Misalnya, belum ada cerita anak tentang burung cenderawasih. Dari hasil membaca literatur,  maka saya bisa menuliskan cerita tentang burung cenderawasih. Mungkin ada yang bilang, “Gampang, ya!” Ternyata, tidak gampang menuliskan sesuatu yang kita pikirkan.

Tidak gampang menulis cerita anak, bukan berarti tidak bisa. Banyak cara untuk bisa menulis cerita anak. Salah satu cara yang efektif dengan banyak belajar menulis cerita anak. Sampai sekarang saya masih belajar menulis cerita anak. Satu hari minimal satu cerita anak saya selesaikan. Saya memiliki obsesi bisa menerbitkan buku kumpulan cerita anak.

Saya menyadari bahwa tulisan saya masih jauh dari harapan. Untuk itulah saya harus belajar pada ahlinya. Agar tulisan saya ada yang menilai, maka perlu bergabung dengan komunitas penulis. Di dalam komunitas penulis ini, saya bisa belajar dari mereka yang sudah senior. Yang penting, ketika tulisan saya banyak kritikan, masukan, dan saran, saya tidak mudah tersinggung. Saya menerima kritikan, masukan, dan saran dari mereka. Karena dari situlah akan banyak perubahan-perubahan dalam menulis.

Cara belajar menulis cerita anak lainnya adalah dengan banyak membaca cerita anak yang ditulis orang lain. Kita hanya perlu mempelajari jalan cerita dan gaya bahasa dari seorang penulis, tapi kita memiliki gaya menulis sendiri.

Suatu hari salah satu cerita anak yang saya tulis mendapatkan komentar dari pembaca. Komentar tersebut berisi tentang konsistensi gaya bahasa yang saya tulis.  Dia memberikan komentar, “Itu bahasanya Mbak Ima banget!” Katanya ada ciri khas dalam penulisan cerita anak tersebut. Mungkin saya tidak menyadari hal itu, justru orang lain memperhatikannya.

Setiap ada tawaran menulis cerita anak atau lomba menulis cerita anak, saya merasa tertantang. Bulan November yang lalu, salah satu komunitas menulis mengadakan lomba. Lomba diadakan secara tertutup, artinya hanya anggota komunitas saja yang bisa menjadi peserta. Tema yang diambil dalam lomba ini adalah cerita misteri atau detektif.

Setelah membaca beberapa cerita misteri atau detektif, saya bisa mempelajari tahap-tahap penulisan cerita misteri atau detektif. Dengan penuh keyakinan, saya mengikuti lomba tersebut. Oleh karena tidak banyak anggota komunitas yang mau menulis cerita anak, sehingga peserta lomba sedikit.

Hasil pemenang lomba menulis cerita anak tersebut, tadi malam telah diumumkan. Alhamdulillah, saya menjadi pemenang ketiga. Saya bersyukur, walaupun menulis cerita anak merupakan tantangan berat, tapi saya mampu melewatinya. Saya selalu menepis ketidakmampuan saya dengan kata-kata motivasi: Semua Bisa Dipelajari Dan Dikerjakan.  Seberat apa pun tantangannya, menulis cerita anak tetap bisa dipelajari dan dilakukan. Asal ada kemauan, pasti ada jalan untuk menyelesaikan tulisan.

 

Ditulis Oleh: Noer Ima Kaltsum

Facebook Comments

One thought on “Tantangan Berat Dalam Menulis Cerita Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: