Penulis Naik Kelas

Sumber: pexels.com
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang. Biasanya menekuni sebuah hobi akan memberikan banyak nilai positif. Setiap orang memiliki kegemaran yang berbeda.

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang. Biasanya menekuni sebuah hobi akan memberikan banyak nilai positif. Setiap orang memiliki kegemaran yang berbeda. Hobi yang kita tekuni bukan hanya semata-mata mengeluarkan biaya tapi justru bisa mendatangkan rupiah dan menggelembungkan pundi-pundi.

Sumber: pexels.com

Sejak masih SMA, saya memiliki hobi menulis. Alhamdulillah, saat itu saya sudah bisa menembus media pada tahun 1988/1989, di Majalah Anak “Putera Kita”. Ketika kuliah, juga sempat menulis cerita untuk anak dan berhasil menembus Koran Kedaulatan Rakyat. Akan tetapi hobi ini berhenti setelah menikah dan memiliki anak.

Sebenarnya, banyak hal yang bisa saya tuliskan. Mulai dari pengalaman di rumah, pengalaman mengajar dan peristiwa-peristiwa lain yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, saya harus memulai lagi. Saya harus berani untuk menulis walaupun mungkin kalimatnya masih terasa kaku.

Ketika mulai menulis lagi dan tembus media koran lokal, rasanya inilah langkah awal dan memotivasi saya untuk terus menulis. Setelah mengenal media sosial seperti, facebook, twitter dan blog, saya mulai mengisi ketiga akun itu dengan tulisan-tulisan saya. Senang rasanya, tulisan saya ada yang membaca dan memberi manfaat bagi orang lain.

Setelah mengenal facebook, saya menemukan komunitas menulis dan mulailah saya bergabung dengan beberapa komunitas. Tujuan mengikuti komunitas menulis adalah agar ada kemajuan.

Ternyata, mengikuti komunitas menulis ini banyak memberikan manfaat. Meskipun anggota komunitas memiliki latar belakang yang berbeda tapi kami memiliki tujuan yang sama, yaitu bisa lebih maju lagi. Waktu itu, tidak semua anggota komunitas menulis yang saya ikuti sudah memiliki pengalaman menulis, pengalaman menerbitkan buku (milik sendiri atau berupa antologi), dan tembus media. Bahkan ada anggota yang sama sekali belum memiliki karya.

Komunitas menulis yang saya ikuti mengadakan pertemuan setiap 2 bulan sekali. Setelah komunitas ini berjalan lebih lama dan anggotanya semakin bertambah, banyak anggota yang tulisannya tembus media dan menerbitkan buku. Rupanya, mengikuti komunitas memang sangat bermanfaat.

00000

Nah, ternyata hobi menulis ini memang sangat menyenangkan karena juga bisa mendatangkan uang. Saya ingin setiap hari ada pencapaian tertentu yang harus saya lewati. Saya tidak ingin menulis dengan kondisi hanya begitu-begitu saja. Bila diibaratkan anak sekolah, saya harus menjadi penulis yang naik kelas. Banyak cara yang saya tempuh agar saya menjadi penulis yang naik kelas.

Kalau dulu, kegiatan menulis hanya untuk mengisi waktu luang, sekarang sudah berbeda lagi. Menulis adalah sebuah kebutuhan. Kalau menulis hanya untuk mengisi waktu luang, berarti kalau waktu luangnya tidak ada, saya tidak menulis dong. Saya mulai mengubah kebiasaan saya ini.

Saya tidak lagi memanfaatkan waktu luang untuk menulis melainkan saya meluangkan waktu untuk menulis. Bahkan ketika pekerjaan menumpuk dan badan mulai merasa lelah, saya tetap harus menulis. Bagaimana agar saya bisa konsisten meluangkan waktu untuk menulis? Saya harus konsisten mengisi blog saya dengan tulisan bermanfaat.

Bila di awal-awal mengisi blog dengan tulisan keseharian yang sifatnya hanya berbagi pengalaman, kini saya harus mengisi blog dengan tulisan yang bisa memberi manfaat untuk orang lain. Apa pun tulisannya harus berisi informasi yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Sekarang tidak lagi menulis yang sifatnya “nyampah”.

Ada beberapa hal yang harus saya lakukan agar saya menjadi penulis yang naik kelas, di antaranya:

  1. Menulis status di facebook jangan hanya sekadar “nyampah”, tulis status yang bermanfaat

Saya mulai menulis status dengan berbagi cerita pengalaman/peristiwa yang bisa menginspirasi orang lain, menulis tentang perjalanan wisata, tips-tips dan lain-lain.

  1. Mulai mengisi blog pribadi maupun blog keroyokan dengan tulisan yang positif.  Ternyata, mengisi blog sangat mengasyikkan, apalagi kalau ada interaksi antara saya dan pembaca.
  2. Tidak cepat puas dengan prestasi yang sudah diraih.

Pertama kali tembus media, saya menulis cerita anak dan dongeng. Setelah itu, saya mencoba untuk menulis dan mengirimkan tulisan tentang fiktif, humor, motivasi dan pengalaman rohani. Selain menulis untuk bisa tembus media, saya mengikuti beberapa lomba penulisan seperti lomba blog, lomba menulis artikel, lomba Instagram (yang ada kaitannya dengan penulisan), dan lomba menulis buku antologi. Saya telah memiliki satu buku yang saya terbitkan secara indie dan 4 buah buku antologi.

Saya memang harus rajin mengikuti lomba. Dengan mengikuti lomba, saya harus disiplin menulis, disiplin mengatur waktu, dan menuliskan sesuatu yang lebih baik.

Tidak semua lomba yang saya ikuti, saya menjadi salah satu pemenang. Meskipun banyak “tidak lolosnya” tapi saya tetap semangat. Bagi saya lomba hanya sebagai ajang mengasah kemampuan agar tulisan kita lebih tajam, berkualitas dan berbobot.

  1. Banyak membaca dan mencari referensi yang relevan.

Tidak semua tulisan yang kita buat merupakan hasil pemikiran kita sendiri. Kadang-kadang saya membutuhkan referensi untuk mendukung tulisan yang saya buat. Dengan demikian saya harus banyak membaca buku, majalah, membuka internet dan lain-lain. Sebagai penulis memang harus rajin membaca.

  1. Membuat kerangka tulisan lebih dahulu.

Saya sering menuliskan sesuatu mengalir begitu saja. Ada kelebihan dan kekurangan bila kita menulis mengalir tanpa kerangka tulisan. Dibanding kelebihan, banyak sekali kekurangannya bila kita menulis tanpa menyiapkan kerangka tulisan.

Ada kalanya saya mengalami buntu dan macet waktu menulis. Kalau  sudah menyiapkan kerangka tulisan, dengan mudah saya bisa melanjutkan tulisannya. Tanpa kerangka tulisan, biasanya urutan tulisan di luar dari rencana.

  1. Bila mengalami buntu dan macet saat menulis.

Kalau mengalami macet, saya akan berhenti menulis. Saya akan melakukan penyegaran dengan cara sekadar bersepeda berkeliling sawah dekat rumah, refreshing ke tempat wisata dekat rumah, atau melakukan aktivitas lain selain menulis.

  1. Tiap penulis berusaha untuk menerbitkan buku.

Suatu saat, saya mendapatkan tawaran untuk membuat buku secara indie. Saya hanya diminta untuk menyetorkan naskah. Proses edit, layout, pembuatan cover, pengurusan ISBN dilakukan oleh tim teman saya. Akhirnya, saya bisa memiliki buku yang dicetak secara indie. Buku tersebut berjudul “Menjadi Kaya Dengan Menulis”. Buku ini ternyata ada yang bentuknya e-book.

Saat ini saya masih mengumpulkan tulisan tentang motivasi menulis. Saya ingin naik kelas, kalau dulu saya menerbitkan buku secara indie, sekarang saya berusaha agar bisa menembus penerbit.

  1. Jadi penulis harus tangguh dan tidak mudah putus asa.

Saya termasuk orang yang pantang menyerah. Beberapa tulisan yang dikirim ke media tapi belum berjodoh alias belum tembus media, saya tidak putus asa. Di sini saya harus belajar banyak. Mungkin gaya tulisan saya belum sesuai dengan media yang saya tuju. Saya tetap menulis dan tetap mengirimkan tulisan ke media.

Bila mengikuti lomba dan tidak lolos, itu artinya saya harus lebih sering mengikuti lomba yang lebih menantang. Sekarang lomba penulisan diikuti oleh penulis-penulis yang memiliki jam terbang tinggi. Bila yang berhasil lolos adalah penulis-penulis berkualitas, itu wajar. Di sinilah, saya belajar dari keberhasilan penulis lain.

  1. Mengikuti komunitas menulis untuk saling menyemangati.

Saya mengikuti komunitas menulis, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Banyak manfaat yang saya peroleh ketika mengikuti komunitas ini. Ketika berkumpul atau di grup WhatsApp, biasanya tiap anggota “pamer” keberhasilan. Pamer di sini adalah ajang memberikan semangat bagi anggota lain.

Keberhasilan teman biasanya akan diikuti keberhasilan anggota yang lain meskipun berbeda prestasi yang dipamerkan.

  1. Penulis jangan asal nulis tapi harus tahu EYD atau PUEBI.

Sudah saatnya saya menulis yang tidak asal menulis. Saya harus menulis sesuai PUEBI, sistematis dan berkualitas. Agar saya tidak menulis secara asal, saya perlu menyiapkan KBBI. Selain itu saya juga harus rajin mengedit tulisan agar kesalahan penulisan seminimal mungkin.

Tidak gampang menjadi penulis yang naik kelas. Semua butuh proses dan harus sabar. Namanya juga ingin naik kelas, tentu harus melewati beberapa ujian, bukan? Seandainya ujian yang kita tempuh itu gagal, berarti kita harus mencoba lagi. Kalau naik kelas, saya juga bakalan bangga, sudah melewati masa sulit dan berhasil. (SELESAI)

Ditulis Oleh : Noer Ima Kaltsum

Facebook Comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like