nongkrong di cafe

Nongkrong di Café dan Sejuta Cerita di Dalamnya

TEMUPENULIS – Ada tiga alasan kenapa gue sering nongkrong di café. Pertama, gue rutin nonton acara open mic yang digelar komunitas stand up comedy. Open mic sendiri merupakan ajang latihan buat komika, sebutan lain bagi stand up comedian, untuk menguji materi komedinya di depan pengunjung café. Semacam latihan begitu, sebelum nanti tampil untuk kompetisi, memenuhi panggilan job atau tampil dalam special show. Latihan stand up comedy memang harus di depan penonton langsung. Ini yang membedakan dengan band atau musisi yang latihan di studio tanpa melibatkan penonton. Ada respon penonton berupa tawa yang menunjukkan lucu atau tidaknya suatu materi komedi. Sepertinya, gue ke café paling sering karena alasan ini. Setidaknya satu kali dalam seminggu, komunitas stand up melakukan open mic.

Kedua, ada ajakan nongkrong bareng temen. Ini semacam undangan yang secara resmi disampaikan secara lisan maupun tertulis di aplikasi chat, seperti pesan di Whatsapp, Messenger di Facebook atau bahkan comment di Bigo Live. Karena sifatnya undangan, harus wajib dipenuhi, kecuali ada agenda lain yang harus dipenuhi seperti menjadi panitia hari kiamat. Beneran ada loh, orang yang ngaku sebagai panitia hari kiamat.  Kaos panitia pun ada.

Ketiga, membeli waktu. Mungkin alasan paling logis yang pernah gue pake. Membeli waktu? … Iya membeli waktu, tetapi bukan dalam artian gue membayar sekian rupiah untuk mendapatkan waktu. Tetapi lebih pada gue sengaja menyempatkan diri ke suatu café dalam sekian jam untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Kesannya memang seperti membeli waktu, gue ke café dan membeli waktu di café tersebut dengan beberapa gelas minuman.

Padahal sesungguhnya waktunya ya sama saja, sehari 24 jam juga. Tetapi dengan ke café, gue sengaja untuk memfokuskan diri pada suatu pekerjaan. Lebih tepatnya sebuah tulisan. Entah tesis, buku, proyek antologi, atau artikel untuk web pribadi. Oya, web pribadi gue ada di bagian bawah tulisan, tepatnya di profil penulis.  Sebenarnya alasan ketiga ini yang membuat gue lebih nyaman berada di café.

Karena sudah beberapa kali ke café, gue jadi punya pengalaman yang patut untuk dibagikan. Karena gue sering ke café dengan alasan membeli waktu untuk menulis, maka gue selalu nongkrong  dan buka laptop. Ya, buka laptop, masa buka mesin kasir … pake linggis lagi.

Kalo buka laptop, gue masuk akun facebook. Kalo buka mesin kasir pake linggis, gue masuk CCTV lalu tayang di acara Patroli Indosiar.

Karena selalu nyalain laptop selama berjam-jam, gue selalu duduk deket colokan listrik. Batere laptop gue udah nge-drop, jadi harus sering nyolok listrik. Kan enggak mungkin juga gue bawa mesin diesel.

Ngomong-ngomong soal diesel, diesel-diesel apa selalu diminta orang beriman? … Diesel-amatkan dari siksa neraka.

Ada juga diesel yang bikin hati seseorang ambyar …. diesel-a sela waktu aku masih merindukanmu yang telah berdua.

Di café, biasanya nawarin suasana baru. Kadang jenuh juga ngetik di dalam rumah, bosen. Jadi cari suasana baru. Iya, suasana baru. Meskipun yang baru tidak benar-benar baru. Kayak kawasan Kota Baru di Yogyakarta. Namanya Kota Baru, tetapi ada banyak gedung tinggalan Belanda.

Oya, ada temen gue yang sedang kuliah S2 di Belanda. Dia ambil hikmahnya saja, eh dia ambil Program Studi Perencanaan Wilayah. Menurut dia, kuliah atau bahkan menjalani kehidupan di Belanda itu enggak enak. Karena masih jaman Belanda. Mending hidup di Indonesia, udah jaman merdeka.

Merdeka.

Suasana baru itu bisa menumbuhkan mood penulis. Nongkrong di café baru yang dikunjungi bisa memberi kesegaran tersendiri. Mencoba minuman baru bisa kadang membawa pengaruh besar bagi seseorang, terutama kalo diajak ngopi-ngopi sama Jessica Kumolo Wongso.

Diajak ngopi sama Jessica Kumolo Wongso, bukan saja membawa suasana baru… tetapi juga kehidupan baru.

Oya, jangan singkat nama Jessica Kumolo Wongso meski ia terlibat dalam sebuah kasus hukum. Pokoknya jangan.

Café merupakan tempat yang asyik buat nongkrong lalu menulis sesuatu. Bukan melulu soal café, tetapi juga bisa berarti tempat-tempat baru yang membangkitkan mood menulis. Tapi jangan juga bawa laptop lalu menulis di warteg alias warung tegal. Sekalipun itu adalah warteg yang baru berdiri atau warteg yang baru pertama kali didatangin. Karena suasananya bakal sama saja. Bakal ada mbak-mbak warteg, dan menunya selalu sama, orek tempe. Karena, bisa saja terjadi dengan makan orek tempe akan mengorek kembali luka lama bersama mantan.

Bagi penulis fiksi, tempat baru juga bakal memperkaya setting tempat sebuah cerita. Misalnya, gue sedang bikin cerita tentang anak kuliahan. Pasti mereka sering ke café untuk kerjain tugas kuliah, nongkrong temen satu genk, atau bahkan jadi lokasi cowok nembak cewek. Jadi gue harus tahu detail café itu kayak apa.

Jangan sampai gue menulis cerita drama romansa, dimana ada cowok nembak cewek tapi seting tempatnya ada warung pecel lele. Bukan enggak mungkin, tapi enggak lazim aja. Misalnya ada cowok mau nembak cewek. Tangan cowoknya udah megang tangan si cewek, lalu cowoknya bilang, “sebenarnya ada yang pengen aku omongin. Sebenarnya aku ini ….”

Lalu mas-mas pecel lelenya nanya sambil teriak, “Lele, dua ya mas?”

“Iya!” jawab si cowok ketus. Terpaksa   si cowok harus mengulang prosesinya, “sebenarnya ada yang pengen aku omongin. Sebenarnya aku ini …. Lele”

Duh, jadi kacau kan ceritanya.

Mending kalo nembak cewek ya ke café, biar agak romantis gitu seperti di film-film. Persoalan setelah jadian, makan di warung pecel lele, ya biasa saja. Kalo pun cewek nanya, kok pas nembak makan di café, lalu jadian makan lele, tenang saja. “Bukankah ikan yang sudah tertangkap tidak perlu diberi umpan lagi?”

Ditulis oleh: Muh Rio Nisafa, penulis komedi yang menuliskan tagline “Life is comedy … and the best joke is our daily life” di banner website-nya, www.riopenuliskomedi.com. Saat sibuk meningkatkan hit websitenya tersebut sambil menjajakan diri buku karyanya, yakni (1) Facebook Love Story, (2) Fiksimini Facebook, (3) Mereka Bilang, Gue Playboy, (4) Tertawalah Bersamaku, (5) Roy dan Joko, (6) Pendawa, Pendamping Idaman Wanita, (7) Memandang Jendela Indonesia dengan Tawa dan (8) Happy Family, Diary Komedi Keluarga Hahaha. Rencana ke depan antara novel “Harta di Bawah Cahaya”; “Rio-pedia”; dan “Jogjatawa”.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: