Ndalem Padmosusastro dan Sejarah Kesusastraan di Surakarta

padmosusastro dan sejarah kesusastraan
Sumber: kurungbuka

Pada bulan April 2016, Budiarto Eko Kusuma, penulis kekunaan.blogspot.com menampilkan sebuah rumah joglo berpagar besi yang terlihat berkarat. Pohon-pohon besar tumbuh subur di sekitar rumah itu. Serupa di pedesaan dan tak berpenghuni. Namun, siapa yang menduga, jika rumah tersebut milik salah satu sastrawan kenamaan. Berada di Jalan Ronggowarsito No. 153, Kelurahan Timuran, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Terletak di tengah kota, di antara gedung modern. Nyaris berseberangan dengan Rumah Sakit PKU Muhamadiyah dan bersebelahan dengan minimarket.

Beberapa pekan lalu saya berkesempatan menyinggahi tempat ini. Ia telah berubah menjadi rumah makan berkonsep pedesaan. Gerbang bernuansa klasik itu tetap dipertahankan. Halaman tertata rapi, sebagai area parkir dan kebun mini. Terlihat pohon kluweh, duwet, mangga sengir, dan sawo bludru. Suasana layaknya pedesaan yang asri. Bahkan sesekali terdengar kicauan burung prenjak.

Di teras bangunan utama tersedia kostum-kostum khas Jawa lengkap dengan caping dan blangkon, yang disediakan secara gratis sebagai aksesori untuk berswafoto. Tiga bangunan tambahan di samping kiri dan kanan dilengkapi ornamen Jawa dan meja kursi yang terbuat dari kayu jati besar.

Warung ini baru saja buka pada tanggal 24 November 2019 lalu. Pagi hingga sore hari sebagai Warung Ndesa dan menjelang malam menjadi tempat Wedangan Ndesa. Karena tempat cukup terbatas, saya sarankan bagi yang berencana datang dengan jumlah rombongan melakukan reservasi terlebih dahulu.

Tempat ini seolah hadir sebagai oasis di tengah hiruk pikuk perkotaan yang telah dijajah oleh makanan cita rasa luar. Di sini menyediakan aneka hidangan kampung seperti jangan desa, lodeh, nasi angsul-angsul, baceman tahu tempe, dan masih banyak lainnya dengan harga sangat terjangkau. Contohnya, nasi angsul-angsul harganya tujuh ribu rupiah. Sajian dihidangkan di atas piring lidi beralaskan selembar daun jati dan daun pisang.

Saya tergelitik mencari informasi lebih lanjut, karena tempat ini memiliki histori sangat kental. Apalagi di teras utama terpasang sebuah foto tempo dulu, seorang sastrawan ternama dari kota Solo. Inilah beberapa penulusuran dari beberapa sumber yang saya rangkum.

Ndalem Padmosusastro adalah tempat petilasan Ki Padmosusastro Projopustaka M.ng, seorang sastrawan sekaligus jurnalis. Lahir di kampung Sraten, Surakarta pada 20 April 1843. Saat kecil, ayahnya—Mas Ngabehi Bangsayuda—memberi nama beliau Suwardi.

Rumah kuno berarsitektur limasan ini merupakan rumah budaya dan berstatus cagar budaya.  Pada tahun 2001-2005 pernah dihidupkan menjadi ruang kreatif, wadah pembelajaran seni, pertunjukan tari, teater, musik, dan tempat program-program budaya. Mahasiswa Program Pasca Sarjana ISI Surakarta, pada waktu itu dibimbing oleh Budayawan Prof. Sardono Waluyo Kusumo banyak melakukan kerja studio di pendopo ini. Setelah bertahun-tahun dirintis akhirnya kandas.

Fawarti Gendra Natautami, sebagai perwakilan keluarga dan inisiator Rumah Budaya dan Warung Ndesa menuturkan, tempat ini akan kembali menjadi ruang untuk menghidupkan kultur yang mardiko dan marsudi. Selaras dengan karakter almarhum yang terkenal sebagai Tiyang mardiko ingkang Marsudi Kasusastran Jawa yaitu orang yang merdeka menekuni kesusastraan Jawa

Di tempat ini menurut rencana akan digelar aktivitas kebudayaan secara rutin. Sedangkan kehadiran Warung Ndesa bertujuan menghidupi program-program kegiatan tersesbut.

Ki Padmosusastro ketika kecil belum mengenal sekolah. Sekolah masuk di kota Solo pada tahun 1870. Itu pun khusus untuk anak-anak Eropa yang tinggal di Hindia Belanda dan tidak bisa diikuti orang Jawa. Sedangkan politik etis masuk pada tahun 1905-an. Politik etis mencakup transmigrasi, irigasi, dan edukasi. Hal ini  merupakan bentuk tanggung jawab dan balas budi Belanda kepada tanah jajahannya.

Meski tidak bersekolah dan bukan dari kalangan elit, Suwardi tumbuh dan berkembang di lingkungan yang sadar akan pentingnya literasi. Keluarganya begitu peduli dengan pendidikan. Suwardi belajar menulis dan membaca sejak berusia 6 tahun. Ia juga diajarkan bahasa Melayu, Belanda, dan Jawa.

Karena kecerdasannya itu, di usia sembilan tahun, Suwardi dapat membantu pekerjaan orangtuanya. Ia dijadikan abdi dalem keraton Surakarta dan ditempatkan di kepatihan. Pada saat itu, pekerjaan ini sangat diidamkan masyarakat. Bisa diibaratkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada masa sekarang.

Kegemaran menulis membuat dirinya menduduki jabatan-jabatan pada pemerintahan keraton Surakarta. Diangkat sebagai mantri gedhong kiwa (kepala urusan gedung sebelah kiri) dengan julukan Mas Gus Behi. Disebut demikian karena masih sangat muda menduduki jabatan itu. Sepuluh tahun kemudian menjadi Jaksa Anom (Jaksa Muda) dengan nama Mas Ngabehi Bansayuda, lalu menjadi Panewu Jaksa (Kepala Tata Usaha Kejaksaan), namanya berganti menjadi Ngabehi Kartipradata. Karena persoalan utang piutang dengan bangsa Tionghoa dan faktor harga diri, pada usia 42 tahun Ki Padmo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Panewu Jaksa—abdi dalem golongan priyayi.

Pada usia 43 tahun, ia memperdalam ilmu kesusastraannya dengan menerbitkan Kalawarti Djawi Kandha. Mulai saat itulah banyak terlahir karya-karyanya. Namanya berganti menjadi Ki Padmosusastro. Ia juga memimpin Radyapustaka, kemudian namanya diubah menjadi Ngabehi Wirapustaka. Saat ini Radyapustaka menjadi museum tertua di Indonesia yang terletak di Jalan Slamet Riyadi.

Ki Padmosusastro juga pernah menerbitkan kalawarti Sasadara, Tjandrakanta, dan Waradarma. Sekitar tahun 1910 beliau dijuluki sebagai Ki Prajapustaka.

Ki Padmosusastro terkenal tekun. Ia tidak hanya seorang pujangga, tetapi juga dwijo dan lantip. Pergaulannya dari kalangan keraton, tokoh nasional dokter Tjipto Mangunkusumo, sesama teman belajar, termasuk C.F. Winter, Roorda, dan Ronggowarsito sendiri sebagai gurunya. Bahkan, pejabat pemerintahan Belanda yang mengurusi pendidikan pribumi H.A. De Nooy kagum atas kepandaiannya, sehingga membawanya ke negeri Belanda. Selama di Belanda Ki Padmosusastro berhasil menulis Serat Woordenlisjst dan Urapsari .

Karya-karya besar Ki Padmosusastro lainnya di antaranya:

  • Rangsan Tuban (Cerita tentang dua orang pangeran)
  • Panjebar Semangat (1961, Berisi mengenai sejarah, ajaran, pengabdian, dan pengetahuan Ki Padmosusastro terhadap Sastra Jawa di Surakarta)

Almarhum juga bersahabat baik dengan Tan Khoen Swie, pemilik  penerbitan Boekhandel Tan Khoen Swie di Kediri. Tan sering mengajak para penulis seperti Ki Padmosusastro tinggal di rumahnya selama berulan-bulan untuk menulis di kebun, bersemedi di sana, dan menggali inspirasi. Jika ada yang menghasilkan karya, maka akan diterbitkan. Pada tahun 1883 Penerbitan Tan bahkan telah mencetak 400 judul dari beberapa pujangga yang berasal dari berbagai wilayah.

Tulisan-tulisan Ki Padmosusastro banyak diabadikan tahun 1890-1925 dalam bentuk cetakan beberapa penerbit, dicetak kembali tahun 1950-an. Terbitan-terbitan itu masih dapat dijumpai di perpustakaan-perpustakaan dan terdigitalisasi di museum yang mengoleksi naskah lama.  Penggunaan aksara Jawa dalam terbitan-terbitan itu merupakan kendala besar bagi generasi muda untuk memahami kandungan konsep-konsep pemikiran Ki Padmosusastro.

Ki Padmosusastro pernah menjadi jurnalis koran Bromartani II bersama gurunya, Ronggowarsito. Koran Bromortani II  mulai beroperasi tahun 1865 sampai 1932. Sedangkan Bromortani I hanya bertahan kurang dari dua tahun, 1855-1856. Koran Bromartani adalah koran berbahasa Jawa pertama di Hindia Belanda.

Lewat tutur bahasa dan deskripsi menarik, Ki Padmosusastro mampu mencatat peristiwa sejarah yang terjadi di kota Solo. Ia bahkan jurnalis pertama yang ke luar negeri dan mengungkapkan perkembangan kota dan masyarakat pada zamannya. Ia begitu berani menggambarkan bahwa pemilik persil  hanya untuk orang Belanda, Arab, atau Cina. Sedangkan orang Jawa tak  mungkin memilikinya. Sejak dulu peran wartawan sangat penting hingga mendapat sebutan awune dhuwur yaitu Karisma Tinggi.

George Quinn, peneliti Universitas Northern Territory, Darwin dalam bukunya The Novel in Javanese menyebut Ki Padmosusastro Bapak Sastra Jawa Modern karena memelopori cara bercerita modern (gagrak anyar) dalam sastra Jawa.

Heri Priyatmoko, dosen sekaligus sejarawan yang meneliti jejak Ki Padmosusastro mengungkapkan, Ki Padmosusastro berbeda dengan sastrawan dan wartawan Jawa pada zamannya, yang melakukan kritik menggunakan simbol-simbol seperti Ronggowarsito. Beliau menggunakan kata-kata lugas dan langsung.

Ki Padmosusastro mengembuskan napas terakhir pada tanggal 1 Februari 1926 di usia 83 tahun karena sakit dan lanjut usia. Meninggalkan seorang istri yang bernama R. Estri (Nyahi Booging), seorang putra, Bambang Sutejo Mangundipoero RT, dan putri R. Ngt. Endah Joyokartiko. Makam beliau dapat kita jumpai di Jalan Tejomoyo Selatan, Panularan, Kecamatan Laweyan, Surakarta.

****

Ditulis oleh: Raida

Sumber:

  • Majalah Tempo edisi 7 Agustus 2006
  • sarang-kalong.blogspot.com by Padmo Adi, 6 Mei 2012
  • kekunaan.blogspot.com 12 Apri 2016
  • jatim.sindonews.com by Ary Wahyu Wibowo, 2 Desember 2019
  • solotrust.com 3 Desember 2019
  • Dokumen geni.com
Facebook Comments
1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like