Menziarahi Waktu

Sumber: pexels.com

Menjadi orang asing dengan budaya yang asing pun terkadang rasanya menderita. Tanpa Ayah dan Bunda. Namun, aku cukup bahagia dengan anugerah kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan ini.

Aku mampu melihat pohon tak berdaun di sepanjang jalan di musim gugur. Bermanja dengan salju yang menyelimuti pepohonan dan jalanan sekitar. Putih suci tak berdosa, berbeda dengan diriku. Aku selalu merindu kenikmatan indahnya musim semi yang selalu dinanti oleh jutaan manusia.

Sayangnya hati ini selalu terusik ketika mendengar kabar dari negara kelahiranku.  Bahkan aku tak tahu apakah ini merupakan kabar buruk atau kabar baik. Yang jelas aku bosan dengan pertanyaan Bunda.

“Nadira, sebentar lagi kan libur musim panas. Pulanglah ke Indonesia, yaa,” bujuk Bunda di ujung telepon dengan nada manja seolah anak kecil sedang merayu mamanya. Sayangnya kali ini aku tak mampu membayangkan bagaimana ekspresi Bunda.

“Ah, Bunda. Nadira akan pulang tahun depan saja. Biarlah Nadira menghabiskan liburan musim panas di sini.”

“Aku tidak menyuruhmu segera menikah lagi Nadira. Bunda rindu kamu. Sahabat kecilmu pun ingin segera berjumpa denganmu,” tambahnya lagi.

“Bersabarlah. Percaya sama Nadira. Menanti hanya satu tahun itu bukanlah waktu yang lama.”

Kututup telepon itu dengan agak kesal. Tidak! Aku tidak benci dengan Bunda. Justru aku sayang dan rindu sekali dengan Bunda. Hanya saja aku bosan dengan pertanyaan horor yang tak pernah absen disebut ketika meneleponku. Pun beberapa kabar perihal lelaki yang entah sudah memenuhi berapa list ruang tamuku. Sampai saat ini aku tak pernah menghiraukan semuanya.

Kuhamparkan pandangan seluas samudera. Berlabuh dalam keindahan alam yang begitu kupuja. Kini hanya satu doa yang selalu terapal dari lisanku agar Tuhan menyembunyikan matahari.

Entah mengapa bagiku kedatangan musim panas terus menghantui setiap tahunnya. Beberapa kali aku memenangkan perlombaan dengan Bunda, yang selalu mempermasalahkan liburanku jika tak dimanfaatkan untuk pulang. Berbeda dengan diriku yang lebih suka berlabuh seorang diri bersama dunia imajinasi. Kuliarkan seliar-liarnya untuk menjemput ketenangan hati. Sejenak terlupa hiruk pikuk yang sedang kualami.

Sumber: pexels.com

Telepon berdering beberapa kali di atas kasur. Aku tak berani menengoknya, apalagi mengangkatnya. Mungkin itu telepon dari Bunda lagi. Aku tak peduli, bosan dirayu untuk segera menikah. Aku tak ingin menikah dengan secepatnya, apalagi harus dengan dijodoh-jodohkan.

Setelah dering telepon tak lagi kudengar, aku menyambarnya dengan tanpa peduli melihat kontak keluar panggilan tak terjawab. Instagram yang ramai dengan DM dari berbagai orang yang tak kukenal. Kini mendadak aku peduli dengan semua pertanyaan mereka. Hampir satu jam kuhabiskan untuk membalas DM masing-masing. Lalu aku menulis story lagi, “Musim panas pulang ke Indonesia tidak ya?” Kuajukan pertanyaan di instastory-ku.

Dalam sekejap banyak sekali yang sudah menanggapi. Bahkan tak hanya menekan pilihan tulisan ‘Iya’ atau ‘Tidak’. Ada yang memberi saran, liburan musim panas baiknya dihabiskan untuk keliling Amerika saja. Sialnya aku tak punya banyak teman. Teman-temanku sudah bosan mengelilingi Amerika. Sedangkan aku tak begitu tertarik dengan tawaran jalan-jalan. Bagiku cukup menikmati keindahan Kanada dari bilik jendela, atau untuk menghabiskan waktu bersama deretan tugas di luar apartemen saja.

Tak sengaja kulihat story sahabatku, Adeera di Instagram. Tumben sekali, ia sebelumnya hampir tak pernah membuat story iseng atau sekadar informasi. Tidak seperti diriku yang selalu update dan mendapat tanggapan dari banyak orang pengguna Instagram.

Tulisan yang besar berawarna merah dengan latar belakang hitam, membuat  hatiku kacau dan hampir jatuh terhuyung saking terkejutnya. “LEBIH BAIK AKU BUNUH DIRI DARIPADA HARUS MENIKAH DENGANNYA!”

“Adeera, ada apa kau?” teriakku sekencang mungkin di apartemen yang udah kuduga pasti tak ada seorang pun yang mendengarnya. Segera kutelepon Adeera. Nihil! Berkali-kali ia tidak mengangkatnya. Aku terpejam, dan ingin rasanya mentransfer kekuatan untuk Adeera. Aku tahu, pasti ini masalah besar yang berkali-kali ia tuliskan dalam curhatannya melalui e-mail yang dikirim kepadaku, tapi aku tak pernah membalas e-mail itu satu pun.

Aku membuka semua pesan di aplikasi Whatsapp. Puluhan bahkan ratusan pesan hadir dari kontak yang kuberi nama Bunda, Adeera dan Ayah. Aku menyesal sekali. Ya Tuhan…

“Nadira, aku butuh kamu. Hanya dirimu saja sahabatku, Aku ingin kau temani satu hari saja. Tak bisakah kau pulang?”

Pesan singkat dari Adeera kubaca ulang. E-mail segera kubuka, Ia tak lagi mengirim cerita selanjutnya.

“Nadira, Ayah sudah memesan tiket kepulanganmu esok hari. Segera siap-siap ya. Adeera membutuhkanmu!” pesan dari Bunda sekaligus dari Ayah dengan isi yang sama tertulis beberapa kali.

Tak ada waktu untuk berpikir lagi. Aku segera berkemas dan berharap supaya Tuhan segera mempertemukanku dengan hari esok.

***

Aku melihat wajah Adeera yang putih pucat dengan pipi tirus terbaring di rumah sakit. Aku peluk dia seerat mungkin. Ratusan penyesalan tak pernah kumaafkan. Derasnya air mata membasahi tangan Adeera yang lemas. Ia mengusap pipiku yang mulai kering.

“Nadira, kau sudah di sini? Apakah aku masih hidup?” Ia terpejam dengan menahan tangis, aku melarangnya.

“Adeera, kau tidak boleh mencoba bunuh diri seperti ini. Bunuh diri bukanlah jalan akhir sebagai penyelesaian masalah Adeera.”

“Nadira, andai kau bisa membawa mimpiku bersamamu. Alangkah bahagianya. Sialnya aku tak seberuntung dirimu, Nadira. Berkeliling dunia bersama sahabat yang kusayangi, menghabiskan waktu dengan meliarkan imajinasi bersama dan deretan mimpi yang dulu pernah kita ukir,” lirihnya dengan nada yang sangat lemah.

Lagi-lagi air mata ini tumpah tak tertahankan. Aku menyesal dengan semua perlakuanku. Entah apakah ini karena aku yang terlalu sombong atau karena aku yang pernah patah hati karena tak lagi menemukan sahabat seperti Adeera. Hingga aku selalu menghukum diriku agar menjadi orang yang tak peduli!

Seluruh mimpi yang pernah kuukir bersama Adeera ingin rasanya kutegaskan lagi dengan pena hitamku. Sialnya aku tak mampu lagi. Goresan aksara itu telah luntur. Mungkin karena sudah terlalu lama. Andai aku mampu menziarahi waktu bersamamu, Adeera. Aku berjanji akan selalu ada untukmu dan orang-orang yang hidup di sekitarku.

Ditulis oleh: Sayyidatina A.

Facebook Comments
1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

[Cerpen] Kemarahan Gentayu

Aku melewati pintu rimba hutan yang ditakuti para penduduk kampung. Menurut cerita yang kerapkali menyusup rongga telinga penduduk, hutan akan bersuka cita mengirimkan kabar kematian lewat angin di petang hari, saat mega merah gagah tampakkan keanggunan warna, ada pula yang menafsir sebagai waktu bergelimang darah.