Kauman yang Hilang dan Islam di Mangkunegaran

Sumber: dokumentasi Evy Sofia

“Kang, aku ikut acaranya, ya?” kataku tanpa pikir panjang setelah membaca di akun Kang Heri Priyatmoko ada pamflet acara Jelajah dan Bincang Budaya Kauman yang Hilang dan Islam di Mangkunegaran.
“Cepetan daftar. Kuota terbatas, lho!” balas Dosen Jurusan Sejarah Universitas Sanata Dharma ini.
Dengan semangat, aku pun segera menghubungi nomor WA yang tertera di pamflet untuk mengamankan satu kursi sebagai peserta. Singkat cerita, aku pun terdaftar mengikuti acara keren ini.
Sehari sebelum acara, panitia dari komunitas pecinta sejarah Solo Societeit mengirimkan pesan agar semua peserta jelajah datang tepat waktu dan membawa payung untuk berjaga-jaga. Tak lupa tata tertib juga disosialisasikan lewat WA.

Sumber: dokumentasi Evy Sofia

Hari Minggu tanggal 27 Mei 2018, petualangan yang memicu rasa ingin tahuku pun tiba. Tepat pukul 15.00 aku sampai di Masjid Al Wustho Mangkunegaran yang menjadi titik kumpul acara jelajah. Setelah mengisi absen, semua peserta dikumpulkan untuk mendapatkan pengarahan dan pembagian kelompok.
Dari total 60 peserta, akhirnya dipecah menjadi tiga kelompok oleh panitia. Aku masuk dalam kelompok 2 dengan pemandu jelajah bernama Mas Nunung. Tanpa menunggu lama, rombongan pun diberangkatkan.
Rute jelajah dimulai dari Masjid Al Wutho terus ke utara melewati gang sempit di kampung Totogan. Begitu sampai di tepi Kali Pepe, pemandu memberi aba-aba agar rombongan kelompok 2 berbelok ke barat hingga langkah terhenti di depan pagar Masjid Al Ikhlas yang dikenal juga dengan sebutan Langgar Rawatib.
Menurut sejarah, masjid ini didirikan di atas sebidang tanah yang dibeli oleh sepasang suami istri pada tahun 1935. Mereka merasa prihatin karena warga Kauman tidak ada lagi yang salat dan memilih menjalankan ritual Hindu di Candi Prambanan.
Yang lebih menyedihkan, sebenarnya dahulu di Kauman Mangkunegaran terdapat masjid besar, tetapi kemudian Mangkunegara IV memindahkannya ke utara Kali Pepe. Hingga sekarang masjid ini masih berdiri megah di sebelah utara SD Muhammadiyah 1 Surakarta dan diberi nama Masjid Al Wustho. Benar, masjid yang menjadi titik kumpul jelajah hari ini.
Pertimbangan untuk memindahkan masjid adalah lokasi masjid lama di Kauman Mangkunegaran letaknya terlalu dekat dengan pusat ekonomi, yaitu Pasar Legi. Selain itu setelah disepakatinya Perjanjian Salatiga, maka terjadi perubahan pengaturan wilayah, termasuk daerah Kauman Mangkunegaran ini.
Fakta sejarah lain yang menarik adalah Mangkunegara adalah raja yang tidak mendapatkan gelar Sayidin Panatagama. Ini berarti beliau tidak berkewajiban melakukan islamisasi di daerah kekuasaannya. Sangat berbeda dengan raja Keraton Kasunanan yang berkepentingan untuk mengembangkan ranah keagamaan. Tidak heran jika di Kauman Kasunanan terdapat Masjid Agung dengan segala denyut nadi kegiatan religiusnya.
Alih-alih memakmurkan aktivitas keagamaan, Mangkunegara memilih fokus untuk pembangunan ekonomi. Kepemilikian Keraton Mangkunegaran atas Pabrik Gula Colomadu dan Tasikmadu membuat kerajaan semakin melimpah ruah kekayaannya. Ibaratnya keraton Mangkunegaran sudah memiliki surga di dunia sehingga tidak terlalu sibuk mengejar surga di akhirat.
Berbekal kekayaan yang melimpah ruah inilah, akhirnya masjid lama dipindahkan ke masjid baru yang berlokasi di utara Kali Pepe dan di barat Keraton Mangkunegaran. Dengan demikian tamat sudah keberadaan masjid di daerah Kauman Mangkunegaran.
Meski sedih saat menyimak cerita pemandu jelajah tentang redupnya kegiatan keagamaan di Kauman Mangkunegaran, senyumku kembali mengembang tatkala menginjakkan kaki di lokasi kedua. Terletak di pinggir Jalan S. Parman, tepatnya di depan Pasar Legi Solo, pemandu mengajak peserta berhenti di depan Toko Cat ABC.
Keningku sempat mengernyit saat melihat bentuk fisik bangunan. Sama seperti toko-toko yang berjajar di kanan kirinya, penampakan Toko Cat ABC tidak seperti cagar budaya. Baru setelah pemandu jelajah memberikan keterangan, sedikit demi sedikit tabir yang membingungkanku mulai tersibak.
Pemandu menceritakan dulu Toko Cat ABC ini adalah rumah pendapa dengan halaman yang sangat luas. Saking luasnya, bangunan rumah kuno ini mulai dari timur Langgar Rawatib hingga berakhir di Jalan S. Parman. Jika diukur dalam satuan, panjangnya bisa lebih dari 100 meter.
Rumah ini ditempati oleh Raden Mas Penggulu Iman. Beliau adalah cucu Raden Mas Said atau Mangkunegara I. Walaupun seorang perempuan, tetapi jabatan yang diembannya sangat mentereng. Bagaimana tidak, seorang penghulu biasanya dipangku oleh seorang lelaki. Namun Keraton Mangkunegaran berhasil menjungkirbalikkan kebiasaan yang berlaku di dalam sejarah.
Ini artinya Keraton Mangkunegaran menghargai adanya kesetaraan gender di dalam memilih pejabat negara. Sungguh berbeda dengan Keraton Kasunanan yang lebih patriarkis susunan pemangku kekuasaannya.
Oke, sekian dulu bagian pertama dari tulisan “Kauman yang Hilang dan Islam di Mangkunegaran”. Di bagian kedua, aku akan melanjutkan dengan cagar budaya lain yang tidak kalah seru ditelusuri.
Ditulis oleh: Evy Sofia

Facebook Comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

Surat untuk Ayah

“Duh, udah jam segini, kok, Ayah belum pulang? Bisa-bisa gagal lagi, nih,” gerutu seorang bocah berambut ikal. Sejak…
Read More

[Cernak] Gara-Gara Jo

“Seribu, dua ribu, tiga ribu… Cukuplah.” desis Gilang yang sedang menghitung uang tabungannya. “Gilang, tabunganmu kamu buka?” tanya…