Karena Doa dan Pertolongan-Mu

Sumber: pexel.com

Masih teringat di kepalaku waktu pertama kali melihat luka sobek di kepalanya yang berdarah-darah. Adikku jatuh dari lantai satu  basement di salah satu mal Jogjakarta. Waktu itu aku baru saja tiba di rumah selepas pulang dari bekerja. Pukul 22:30 malam terdengar suara dari luar kamar memanggil-manggil namaku.

“Din, Din. Roni kecelakaan. Sekarang dia sudah berada di Rumah Sakit Sardjito. Ayo cepat ke sana,” perintah Mas Ari.

“Hah! Kenapa Roni? Ya udah, kita berangkat bareng, Mas Ari,” jawabku.

Aku langsung shock mendengarnya. Dengan suasana hati yang cemas dan takut aku bergegas ganti baju dan langsung menuju ke rumah sakit Sardjito bersama bapak dan kakakku. Di sepanjang perjalanan aku berdoa dalam hati semoga lukanya tidak begitu parah dan adikku masih diberi umur panjang. Banyak bayang-bayang ketakutan yang menghantuiku. Momen-momenku dulu saat bersama Roni keluar semua dari ingatan. Teriris hati rasanya.

Sampai di depan pintu masuk IGD rumah sakit tampak orang-orang sedang menunggu adikku di sana. Mereka teman kerja di mal itu. Aku semakin cemas dan kalut saat hendak menuju ruangan IGD. Pikiranku semakin tak menentu, beribu kata berjejal di hati. Ketika aku memasuki ruang IGD, sudah ada dua tetangga yang menunggui adikku. Mereka berdualah yang lebih dulu mengetahui kecelakaan Roni di tempat kerja dan yang mengurusnya.

Saat pertama kali melihat kondisi Roni di dahi sebelah kanannya robek sepanjang 7 cm serta darahnya masih membasahi lukanya yang menganga. Tak hanya kepalanya yang luka, tulang lehernya pun mengalami cedera sehingga harus ditopang menggunakan cervical collar. Dalam keadaan tak sadarkan diri, hanya terlihat jari-jari tangannya yang sedikit bergerak saat berada di tempat tidur penanganan medis.

“Bagaimana ceritanya, Mas, kok bisa jatuh gitu?” tanyaku.

“Nggak ada yang tahu waktu kejadian itu, Mas. Tahu-tahu Roni itu udah ada di lantai dasar basement tak sadarkan diri. Itu pun yang mengetahui pertama kali bukan karyawan sesama anak jaga parkir, tapi dari anak departemen lain,” jawab salah satu teman Roni.

Aku mengangguk paham. Dalam hati dan pikiranku banyak kekhawatiran yang menggelayut; masih bisakah adikku sembuh seperti semula? Atau bisa sembuh tapi dengan dengan cacat tertentu? Masih bisa selamatkah nyawanya? Sampai segitunya aku mencemaskannya. Di sisi lain aku dan keluarga terus berdoa dan berharap semoga adikku diberi kesembuhan oleh Allah subhanahu wata ala.

Suara-suara alat medis, rintihan jerit pasien di sebelah membuat suasana ruangan IGD menakutkan. Terlihat beberapa kali adikku mengalami muntah-muntah meskipun kondisinya belum siuman. Secara bergantian aku, kakakku dan kedua tetanggaku membersihkan wajahnya dari bekas muntahannya. Kami sekeluarga tetap berusaha tenang. Bersyukur punya tetangga yang begitu perhatian dengan kondisi Roni; rela membantu kami dalam pengurusan di rumah sakit. Setelah mendapatkan pertolongan  pertama di IGD selanjutnya Roni dibawa ke ruang rontgen guna pengambilan gambar luka di kepalanya.

“Maaf, orang tua pasien atas nama Roni yang mana ya?” tanya dokter.

“Itu, Dok. Bapak saya ada di luar, ruang tunggu pasien,” jawabku.

“Baik.”

“Permisi, Bapak. Maaf Bapak orang tuanya pasien yang bernama Roni?” tanya Dokter pada bapakku.

“Ya, gimana? Ada apa, Dok?”

“Jadi begini, anak bapak ini perlu ada tindakan operasi bedah di kepalanya. Nah, untuk itu sebelum kami melakukan operasi, kami meminta izin dan persetujuan dari Bapak untuk mengisi surat persetujuan ini.”

“Oh, ya Dok. Saya ngikut dokter aja, nggak papa. Kapan operasinya?”

“Operasinya besok pagi jam 10:00.”

“Baik, Dok.”

Di selasar depan ruang inap pasien operasi bedah ini aku, bapak dan Neni istrinya Roni menginap di rumah sakit, sementara Mas Ari yang membawakan bekal makanan serta minuman dari rumah. Bersama sesama penunggu pasien lainnya kami saling berbincang tentang anggota keluarga yang mengalami sakit. Banyak ragam jenis luka yang dialami para pasien yang kalau mendengar ceritanya ngeri, semuanya sama-sama memerlukan penanganan operasi.

Rupanya teman-teman Roni datang ke rumah sakit lagi, kali ini bersama perwakilan dari manajemen mal. Alhamdulillah, perusahaan memperhatikan karyawannya yang sedang mengalami musibah kecelakaan. Kehadiran mereka memberi kelegaan keluarga kami. Mengingat Roni waktu itu masih terbilang karyawan baru, belum genap setahun bekerja dan belum memiliki kartu jaminan kesehatan dari perusahaan. Walaupun demikian dari pihak manajemen tetap memberikan tanggung jawabnya.

Belum 100% mal ini selesai pembangunannya. Masih terlihat para pekerja bangunan yang melakukan pekerjaannya termasuk bahan material bangunan di berbagai sudut basement. Basement ini terdiri dari dua lantai dan Roni jatuh dari tepian lantai basement yang belum ada pembatas pengamannya. Kemungkinan besar jatuh disebabkan rasa kantuk, anehnya nggak ada satu pun saksi mata yang melihat pas waktu kejadian, tahu-tahu sudah tergeletak pingsan bersimbah darah di kepalanya. Beruntung nyawa Roni masih bisa tertolong. Hanya dengan sepeda motor Roni dibawa ke rumah sakit Sardjito diboncengkan oleh dua orang temannya.

Usai menjalani operasi Roni dipindahkan ke ruang rawat inap. Meskipun lima jam sudah pasca operasi kesadaran Roni belum pulih, masih sama seperti waktu pertama masuk IGD, hanya menunjukkan sedikit gerakan ujung tangan dan kakinya. Banyak alat-alat medis yang menempel di tubuhnya salah satunya alat monitor detak jantung yang membuat hatiku selalu berdesir melihatnya. Siang-malam aku, Mas Ari, Bapak, serta Neni, istri Roni secara bergantian menjaganya. Setiap hari setiap kali melihat luka di kepalanya yang berbalut perban, dengan leher yang ditopang dengan cervical collar membuat air mata ini tanpa sadar mengalir basahi pipi, teringat waktu Roni dulu masih sehat-sehatnya. Suasana hening malam dalam ruangan ini menambah rasa kesedihan semakin dalam. Setiap hari aku selalu berdoa dan berharap semoga Allah memberikan kesembuhan untuk adikku.

Selama beberapa hari Roni masih belum bisa membuka matanya. Efek dari operasi kepala Roni mengalami pembengkakan namun seiringnya waktu berjalan bengkaknya mulai berkurang dan kembali normal serta Roni sudah bisa membuka kedua matanya. Alat monitor detak jantung pun dilepas, tinggal menunggu proses pemulihan tulang lehernya yang masih belum berani untuk menyangga kepalanya. Sampai kurang lebih satu bulan Roni sudah boleh diperkenankan dokter untuk pulang.

Baru beberapa bulan menikah Roni sudah diberi ujian oleh Allah. Masa-masa bulan madunya berganti dengan musibah ini. Kecelakaan yang tak terduga itu tiba-tiba saja terjadi mengejutkan keluarga kami. Saat menunggu Roni di rumah sakit waktu itu bapak pernah menyeletuk tentang kehidupan keluarga kami.

“Ya Allah, dulu ibumu jatuh saat gempa, sekarang Roni kecelakaan; sepertinya hidupku penuh ujian terus,” ucap Bapak mengeluh.

Dengan nada pelan aku menjawab, “Istighfar, Pak. Semua itu cuma sawang si nawang {kelihatanya} kok, Pak. Sebenarnya tiap orang pasti juga punya ujian hidupnya masing-masing, hanya saja mereka tidak menampakkan keluhannya ke semua orang.”

Bapak  menghela napas lalu diam merenung.

 

Ditulis Oleh: Agus Riyanto

Facebook Comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

Mengenang Mbah Jo

“Mbah makan dulu, ya!” saran tetangga. Itulah kalimat yang disampaikan tetangga kepada Mbah Jo ketika sedang di masjid waktu berbuka puasa sudah tiba. Mbah Jo cuma minum.