Firasat dan Takdir

Berjalan kaki saja sudah susah, apalagi ditambah derita penyakit ginjal yang baru saja keluarga kami ketahui. Akhir-akhir ini ibu mengalami kondisi fisik yang menurun. Sering mual, muntah tiap seusai menyantap makan. Kata dokter dari puskesmas; ibu menderita asam lambung. Namun hingga obat yang diminumnya habis, kondisi badan ibu tidak menunjukkan kesembuhannya. Hanya sedikit berkurang rasa mualnya.

“Bu, udah mendingan belum perutnya?” tanyaku.

“Udah, Gus. Agak mendingan. ”Sambil tangan ibu menepuk-nepuk perutnya.

“Ya, syukurlah kalau begitu, Bu.”

Batinku merasa lega mendengar jawaban ibu. Karena mengingat kondisi ibu yang cukup memprihatikan. Ibu sekarang yang tidak mual-mual lagi. Ini berat, pasti. Karena beban derita yang ibu alami berlipat-lipat ujian hidupnya.

Kadang pikiranku terlempar ke masa lalu di tahun 2006. Saat itulah ibu saya mengalami kejadian yang membuat tulang kaki kanannya patah, yang mengharuskan disambung dengan platina. Karena saat terjadi gempa, ibu pada posisi di samping rumah berdekatan dengan dinding pagar batako milik tetangga. Beruntung ibu tidak tertimpa runtuhan dari bangunan teras belakang rumah, yang atapnya  terbuat dari cor semen. Bisa dibayangkan betapa ngerinya. Aku bersyukur ibu masih hidup.

Sepekan kemudian setelah obat yang ibu minum habis, ibu kembali mengalami muntah-muntah, terlihat sekali wajah ibu yang begitu cemas dan pucatnya.

Duh, ada apa ya dengan kondisi ibu yang tak kunjung membaik? batinku menyeruak tanya.

“Tadi habis makan apa sih, Bu?” tanyaku.

“Makan buah mangga, Gus.”

“Diperiksakan ke rumah sakit aja si ibu,” kata bapak.

“Ya, Pak.”

Sumber: pexels.com

Di tengah diskusi keluarga, bapak memberikan saran kepada anak-anaknya. Melihat ibu yang sakitnya kambuh lagi, tiap malam selalu mengalami muntah-muntah berhari-hari. Hanya dengan cara pengobatan sederhana saja yang kami lakukan saat itu. Namun, hasilnya tak banyak berubah. Hingga tiba pada hari Sabtu jam delapan malam rasa mual-mual ibu kembali kambuh lagi sampai ibu tak tahan merasakannya. Akhirnya, keluarga kami pun memutuskan membawa ibu ke rumah sakit terdekat rumah kami, malam itu juga. Ibu sampai opname lima hari di Rumah Sakit Jogja yang dulu namanya Rumah Sakit Wirosaban.

***

Setelah empat hari pulang dari rumah sakit, ibu balik lagi ke rumah sakit. Kali ini untuk melakukan kontrol kondisi terakhir kesehatan ibu pasca opname lima hari yang lalu.

“Bu Sutinah, maaf sebelumnya. Ini setelah saya lihat dari hasil periksa tadi bahwa kondisi ginjal ibu mengalami penurunan fungsi kerja. Sehingga perlu ada tindakan lanjutan untuk menjaga kondisi darah tetap terjaga, yaitu ibu Sutinah diharuskan menjalani cuci darah,” kata Pak Dokter.

“Ya, Dok. Baik. Kapan mulai cuci darahnya?” aku balik tanya.

“Besok hari Jumat ini, ya? Di ruang Hemodialisa. Untuk jadwal cuci darahnya nanti saya atur,” jawab dokter.

“Baik, Dokter.”

Hari ini ialah hari pertama ibu melakukan cuci darah. Jam tujuh pagi ibu harus sudah tiba di ruang cuci darah. Kakakku yang pertama mengantar ibu cuci darah, karena kesepakatan antara aku dan kakak sebelumnya dalam berbagi tugas mengurus ibu. Kami bersyukur juga ada tetangga dekat bersedia mau menemani ibu di rumah sakit, aku memanggilnya Bude Jar.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam, cuci darah ini dilakukan rutin setiap minggu sekali. Kebetulan ibuku mendapat jadwal cuci darah di hari Jum’at. Di hari pertama seusai cuci darah badan ibu terlihat lemas sekali, maklum sekali cuci darah prosesnya memakan waktu kurang lebih enam jam. Dengan dua jarum suntik yang dipanjar selama berjam-jam dan dengan dibatasi pula takaran minumnya. Bisa dibayangkan dalam kondisi yang lemah itu, ibu masih harus menahan mengonsumsi air minum yang hanya dibatasi satu liter air atau sepadan dengan sebotol minuman air mineral berukuran sedang.

Di pekan jumat berikutnya cuci darah, kali ini ibu mendapatkan saran dari dokter untuk melakukan pemasangan AV SHUNT, semacam pembuatan jalur khusus untuk cuci darah di lengan tangan ibu. Dan untuk memasang AV SHUNT ini lengan ibu harus dioperasi. Kami pun mengikuti saran dokter tersebut. Di hari Rabu tanggal 29 November tahun 2017 ibu melakukan operasi bedah lengan tangan kirinya. Karena sesuatu hal, operasi bedahnya bukan di rumah sakit tempat biasa ibu melakukan cuci darah melainkan di rumah sakit rujukan yang berlokasi di daerah Ngoto, Tamanan, Bantul.

Setelah dua pekan terlewati, kali ini di pekan ketiga pasca operasi bedah selesai, bekas lengan tangan ibu sudah dibolehkan untuk dipasangi jarum suntik. Bagaimana tidak ngilu rasanya bila melihat kondisi ibu yang saat cuci darah berlangsung lengan tangan ibu harus ditusuk dua jarum suntik selama berjam-jam. Dan saat pemasangan pertama jarum suntik ke lengan tangan ibu belum tentu langsung jadi terkadang harus diulangi lagi pemasangannya.

“Aku tak keluar bentar dulu ya, Bu, mau cari angin?”

“Ya, Gus. Jangan lama-lama ya?”

“Ya, Bu. Cuman sebentar kok, paling setengah jam aja udah balik.”

Kebetulan hari itu aku yang menemani ibu cuci darah. Dan di setiap jam sepuluh pagi aku meminta izin ibu untuk keluar sebentar dari ruangan Hemodialisa. Seperti biasa aku kalau keluar cari angin hanya untuk membeli sarapan pagi. Maklum, jam tujuh pagi aku dan ibu harus sudah tiba di ruangan yang penuh dengan pasien penderita ginjal ini. Dan ibu selalu berpesan kepadaku kalau mau keluar sebentar tidak usah sampai pulang ke rumah. Ibu merasa cemas dan bingung bila ibu ditinggal sendirian tanpa ada yang menemani. Repotnya kalau ibu aku tinggal keluar, ibu susah kalau lagi minta bantuan sebentar walau hanya sekadar minta digaruk-garuk badannya dari rasa gatal. Dengan kondisi lengan tangan kiri yang ditusuk dua jarum suntik yang terhubung ke selang-selang mesin pencuci darah yang bergelantungan, yang mengharuskan ibu tidak boleh banyak bergerak. Karena ibu juga harus menjaga posisi lengan tangannya tetap pada posisi tenang.

Ruangan yang penuh dengan pasien dan mesin-mesin pencuci darah ini memberiku kesan sedih, kasihan, iba, terharu. Namun juga membuatku lebih bersyukur bahwa kesehatan itu mahal dan memang perlu hati-hati sekali untuk selalu menjaganya. Setelah mendengar banyak cerita-cerita dan tanya jawab ke dokter di sini, bahwa organ ginjal ini teramat penting gunanya bagi tubuh manusia. Sekali organ ini kena kemungkinan sembuhnya kecil, mengingat fungsi kerja ginjal ini ialah menyaring darah dari racun-racun tubuh yang dibawa oleh makanan yang masuk ke dalam tubuh kita.

“Bu, Bude Jar datang tuh. Aku tak tinggal salat Jumat dulu ya?”

“Ya, Gus. Jumatan di rumah sakit aja, ya?”

“Ya, Bu. Aku salat di masjid rumah sakit ini kok. Aku nggak pulang.”

Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas seperempat siang. Kali ini aku meminta izin lagi pada ibu untuk menunaikan salat Jumat. Karena Bude Jar sudah datang, jadi aku agak tenang meninggalkan ibu. Bude Jar ini adalah orang terdekat ibuku, yang menjadi teman ngobrol sehari-hari di rumah. Candaannya dan cara bicaranya yang khas membuat ibu merasa terhibur oleh kehadirannya. Dan beliau ini yang selalu siap sedia menemani ibu saat melakukan cuci darah di rumah sakit. Biasanya datangnya jelang siang sekitar jam sebelas, menggantikan posisi saya menunggu ibu.

Suatu ketika pernah kejadian saat perawat hendak memasang jarum suntiknya ke lengan tangan ibu, mengalami kegagalan alias tidak pada jalur darah semestinya tapi perawat itu tetap melanjutkannya untuk melakukan cuci darah. Alhasil benar dugaanku sebelumnya, setelah cuci darah berjalan satu jam lengan tangan ibu mengalami pembengkakan, berwarna biru-keunguan.

“Bu, tangan ibu kok warnanya kebiru-biruan gitu? Jangan-jangan tadi mbaknya perawat masangnya jarum suntik kurang pas itu?”

“Ya, Gus. Tadi aku lihat waktu mbaknya masang jarum suntik kayak agak ketakutan gitu. Nggak langsung jadi.”

“Hem, pantes. Harus diganti lagi itu posisi jarumnya, bisa bahaya kalau masih terus dibiarkan.”

Untungnya ada perawat satunya lagi yang ngecek kondisi tangan ibuku. Akhirnya jarum suntiknya pun dilepas dan dipasang ulang. Namun, penggantian posisi jarum ini tidak langsung jadi, sudah bergantian perawat yang mencoba mengulanginya namun juga masih gagal. Akhirnya ada satu perawat laki-laki, dia pembawaanya tenang. Memang dari awal dulu aku melihat cara penanganannya pada pasien sangat telaten. Dan di tangan mas-masnya perawat tadi pemasangan ulang jarum suntiknya berhasil dan aku pun lega melihatnya.

Memasuki pekan ke-18 ibu melakukan cuci darah, kali ini aku mengurus dokumen dari rumah sakit yang sudah habis masa periodenya, karena setiap tiga bulan sekali harus diperbaharui. Ya … dengan waktu sebisanya aku sempatkan menyelesaikan urusan ini.

Malam ini terasa beda, suasananya terasa hening kesedihan. Entah mengapa hati ini berdesir perih serta kecemasan yang tak menentu. Ya, memang benar. Firasatku tak salah, di subuh hari tanggal lima April ibu mengeluh sakit yang tak kira, ibu merasa takut kecemasan bercampur resah. Semalam ibu tak tak sanggup tidur, tersiksa oleh kondisi badannya yang entah mengapa tak mau mereda.

“Gus, ibumu itu ditolongin. Ibu mengeluh sesak napas sama tubuhnya lemas banget,” perintah bapak padaku.

Akhirnya pun ibu dibawa ke rumah sakit pada saat itu juga oleh istri adikku. Dengan kondisi lemah tak berdaya itu ibu masih harus kuat menahan sakitnya hingga ke rumah sakit Jogja. Aku tak tahu harus bagaimana lagi, karena waktu itu bertepatan masuk kerjaku pagi hari yang pas subuh pula aku harus mulai berangkat.

“Ada apa, Rat, Kok kamu ke sini?” tanyaku keheranan.

“Mas Agus, ibu meninggal dunia,” jawabnya.

Mendengar jawaban itu, aku langsung syok dan seketika aku terduduk lemas di depan hotel di mana aku bekerja. Setelah dikabari itu aku langsung meminta izin pada Chef Dedi untuk pulang kerja.

“Hah! Innalillahi wainna ilaihirojiun. Terus, ibu masih di rumah sakit?”

“Ya, ibu masih di rumah sakit sama Mas Ari, Roni dan Bapak.”

Aku pun segera bergegas pulang menuju rumah sakit Jogja. Di sana aku sempat melihat ibu di ruang IGD yang sudah tak bernapas lagi. Aku sentuh kaki ibu yang sudah terasa dingin, sambil menangis aku melihat wajah ibu teringat saat-saat terakhir aku bersama ibu semasa hidupnya. Aku, Bapak, Kakakku masih di rumah sakit sampai selesai mengurus jenazah ibu dikafani di sana. Kami pun tiba di rumah tempat kami sudah banyak orang yang berkumpul menyiapkan tempat dan menyambut kedatangan jenazah ibuku. Dan setibanya aku di rumah, aku menangis sejadi-jadinya. Tak percaya dan menyangka kalau subuh hari itu adalah wajah terakhir ibu hidup yang kulihat. Sesal hati meratapi kepergian ibu untuk selamanya. []

 

Ditulis Oleh: Agus Rianto

Facebook Comments

5 thoughts on “Firasat dan Takdir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: