Sekeranjang Buah Mangga Pak Tua

buah mangga
Sumber: pixabay
Bapak tua bertopi a la koboy itu duduk berteduh di bawah plafon toko yang masih tutup. Cuaca pagi menjelang siang cukup membuatnya gerah.

Bapak tua bertopi a la koboy itu duduk berteduh di bawah plafon toko yang masih tutup. Cuaca pagi menjelang siang cukup membuatnya gerah. Menurut perkiraan saya, usia beliau sekitar 60 tahun. Garis-garis keriput menghiasi wajah teduhnya. Sementara itu sepeda motor tua dengan keranjang berisi buah mangga ia biarkan di tepi jalan. Ia menatap setiap orang lewat dengan pancaran penuh harap.

Ketika saya mendekat, dengan sigap beliau menghampiri. Terlihat mangga sangat ranum.  Kemungkinan matang dari pohon. Beberapa masih mentah. “Pinten, Pak?” tanya saya sambil menghidu aroma mangga. Wangi.

Telulas,” ucap beliau ramah.

Njih.” Saya mulai memilih-milih mangga yang akan ditimbang ketika bapak itu menyodorkan plastik berwarna putih susu. Hanya berselang detik seorang laki-laki mengendarai sepeda motor matic tanpa helm menghampiri. Ia mengenakan kaos lengan pendek. Perutnya terlihat menyembul.

“Berapa mangganya, Mbak?” tanya beliau. Saya hanya tersenyum sambil melanjutkan memilih mangga.

 “Tiga belas ribu,” sahut Bapak Penjual.

Ketika ditimbang terlihat jarum panjang melewati angka 2 dan berhenti di tiga garis kecil. “Pinten, Pak?” tanya saya kembali memastikan harga yang harus dibayar.

Nemlikur,”  sahut beliau mantap.

Saya langsung menyerahkan uang satu lembar dua puluh ribu dan tiga lembar dua ribu. Tanpa menawar beliau telah memberi saya lebih. Saya berlalu dengan riang, serupa anak kecil mendapat bonus balon setelah membeli gula-gula. Semoga bapak tua penjual mangga itu pun demikian.

Beberapa hari lalu di sebuah pusat perbelanjaan grosir yang cukup terkenal di Kota Solo, saya pernah melihat harga tertera dengan jenis mangga yang sama, Rp 10.000/kg. Di pasaran, memang harga mangga antara 8 hingga 15 ribu rupiah. Tergantung jenis dan kematangan dari mangga itu sendiri.

Di pasar tradisional sendiri saya mendapati harga mangga matang dari pohon Rp 15.000,-  sedangkan matang dengan bahan-bahan pematang instan dihargai Rp 10.000,-

Secara tekhnis sebenarnya berbelanja di supermarket adalah pilihan cukup menguntungkan. Ia ditaruh di tempat yang teduh, di ruang ber pendingin. Bisa sekalian beli hal-hal lain dengan harga yang lebih murah. Namun, ada kebahagian sendiri saat berbelanja semisal pada bapak tua itu.

Saya kadang membayangkan bagaimana jika beliau keluarga saya. Saya tidak tahu berapa laba yang bapak itu peroleh. Saya pernah mendengar jika laba kotor penjual buah bisa mencapai 200%. Normal, karena berjualan buah ada kerugian besar seumpama tidak laku, apalagi kalau sampai busuk.

 Tiga ribu rupiah selisih dari harga supermarket, tetapi tiga ribu itu bisa saja sangat berarti bagi bapak itu. Ada anak-anak yang ingin bersekolah, ada seorang istri menunggu suaminya membawa lembaran rupian agar dapur tetap ngebul, atau ada orang lainnya dalam pemeliharaan beliau.

Suatu hari pernah pula seorang wanita tua berkebaya lusuh lengkap dengan stagen memikul keranjang di belakang punggung berisikan aneka buah-buahan. Wanita itu menawarkan dagangan dari satu pengunjung ke pengunjung lainnya. Sungguh, usianya seperti ibu saya.

“Mangganya, Mbak,” tawar beliau sambil memperlihatkan empat buah mangga ukuran se-genggaman orang dewasa berbungkus plastik transparan.

Pinten, Mbah?”

“Duapuluh ribu,” ucap beliau lagi.

“Kalau jeruk nipisnya pinten, Mbah?” Jeruk nipis di rumah kebetulan sudah habis. Saya memang sering meminum jeruk nipis hangat di pagi hari.

“Tiga puluh lima ribu,” ucap beliau lagi. Tebakannya saya satu plastik jeruk nipis yang beliau bawa seberat  satu kilogram.

Saya tahu harga pasaran buah mangga, apa lagi mangga yang beliau bawa, biasanya di bawah harga 10 ribu. Begitu pula harga jeruk nipis, harga tertinggi yang pernah saya beli tidak lebih 25 ribu. Ada beberapa kemungkinan mengapa mbah itu mematok harga di atas rata-rata. Bisa jadi beliau hanya memasarkan buah tersebut. Karena dari buah-buah yang saya lihat tampak sekali bahwa itu bukan hasil panen beliau. Sudah berbungkus-bungkus rapi, dan ada buah lain seperti pir.

Saya pernah melihat mbah lainnya yang memasarkan buah, tapi terlihat lebih lusuh, biasanya ini hasil kebun sendiri, bahkan kadang beliau tidak tahu harga pasaran.

Kembali ke Mbah penjual jeruk nipis tadi, bisa jadi pula karena memasarkan buah sambil digendong itu berat, makanya harganya dinaikkan. Saya saja dikasih setarus ribu satu jam membawa bakul itu satu putaran pasar akan menyerah. Tidak sanggup, berat, encok saya bisa kumat.

Saya mengeluarkan uang dan membeli ke dua jenis buah tersebut. Kerabat saya yang melihat pemandangan itu sepertinya kurang setuju. “Kok mahal sekali!” sungutnya, ketika mbah itu berlalu.

“Tidak apa-apa, mungkin mbahnya ingin pergi haji. Doa in yang beli juga berangkat,” hibur saya.

“Ini namanya memanfaatin.”

Saya hanya nyengir.

Beberapa tahun lalu, setiap berbelanja ke pedagang tradisional saya selalu bertanya, “Saget kurang, Bu’de?” atau “kasih diskon ya, Pa?” sebenarnya saya tak pandai-pandai pula menawar, tetapi dari ucapan saya itu sungguh, saya berharap pedagang menurunkan harga. Semakin rendah semakin puas pembeli tapi tidak bagi pedagang.

Maksud hati ingin mendapatkan harga semurah-murahnya, agar dapat menghemat pengeluaran anggaran rumah tangga (maklum, mak emak) agar bisa membeli barang lain yang saya inginkan. Namun apa yang saya dapatkan, kehidupan saya semakin tertekan saja. Entah dari mana-mana datangnya. Makanan-makanan akibat harga yang saya tawar tawar itu kadang busuk, basi atau tidak kemakan dengan alasan sepele. Rejeki terasa sempit. Mungkin ulah saya suka menekan-nekan pedagang yang sedang mengais rejeki.

Sejak itu, saya mulai mencoba tidak akan melakukan itu lagi. Saya berjanji pada diri sendiri tidak akan menawar pedagang seperti itu lagi. Waktu kian berlalu, mungkin sudah dua tahunan ritual ini saya terapkan.  Banyak suka dan duka saat berbelanja di pinggir jalan atau pun di pasar-pasar tradisional. Berapapun yang mereka minta saya memilih untuk diam. Kalau terlalu tinggi biasanya saya hanya membeli sedikit. Saya juga telah memiliki daftar toko-toko yang harus saya kunjungi atau saya hindari (semisal mereka yang sering memasukkan barang-barang tidak berkualitas).

Saya adalah anak mantan pedagang kecil. Saya ingat sekali ketika ibu berjualan, harga ditawar serendah-rendahnya oleh pembeli. Kebetulan pembeli itu sepertinya juga sama susahnya dengan kami. Dengan keuntungan nyaris habis bahkan jual modal, ibu terpaksa melepaskan dagangan itu.

Pernah pula saya diajak ke pasar ikan, kami berkeliling dari satu penjual ikan ke penjual lainnya agar mendapatkan harga paling murah. Itu pun masih dtawar. Ibu saya dan pedagang itu selama bertahun-tahun sama-sama pedagang kecil. Hingga toko kami terjual, toko kami  masih kecil.

Di pasar tradisional begitu banyak cerita. Ada ibu tua terkantuk-kantuk menjaga barang dagangannya karena sejak dini hari berada di pasar hingga menjelang siang. Sebut saja pedagang ikan. Kadang mereka harus mengikhlaskan diri meninggalkan buah hati di rumah. Ada pula sepasang manula yang berjualan ayam potong, atau penjaga parkir meski panas menggantang masih sangat sigap mengatur kendaraan-kendaraan.

Pasar tradisional memang identik dengan tempat kotor, panas hingga membuat kita berpeluh-peluh atau tanah becek dan pedagang-pedagang yang kurang ramah. Belum lagi kita harus menggotong-gotong barang belanjaan. Tidak seperti di super market. Saat masuk kita sudah di sambut Pak Security berwajah ramah dengan pintu otomatis terbuka dan hawa dingin menyeruak. Tidak perlu repot-repot menawar harga, cukup melihat lebel saja kemudian kita bisa memilah-milah barang yang kita tentukan. Lengkap pula.

Saya tidak anti tempat belanja mana-mana. fleksibel saja. Saatnya berbelanja di pasar yang becek saya lakoni. Saat harus mampir di supermarket juga tidak apa-apa. belanja di warung tetangga pun tetap bahagia. Atau  belanja di retail-retail yang pemiliknya termasuk orang paling kaya sedunia itu.

Berniaga adalah salah satu  cara pembuka sembilan pintu rejeki. Ada doa dan harapan melangit ketika mereka menggelar barang dagangannya.  Jika ada orang yang menjajakan barang dagangannya, dan kebetulan uang saya tersedia (walau tidak banyak) saya akan beli. Saya pernah amat sangat boros menghabiskan jatah  satu bulan hanya dengan beberapa hari saja, suami saya masih tersenyum kemudian memberi lebih uang belanja. Saya bukan maniak belanja, hanya senang membuat mereka bahagia. Saya percaya, Tuhan memberi saya kecukupan rejeki salah satunya karena doa-doa  mereka.

Sekian, terima kasih

Ditulis Oleh: Raida

Facebook Comments
3 comments
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

Mengenang Mbah Jo

“Mbah makan dulu, ya!” saran tetangga. Itulah kalimat yang disampaikan tetangga kepada Mbah Jo ketika sedang di masjid waktu berbuka puasa sudah tiba. Mbah Jo cuma minum.