[Cerpen] Pagi Yang Tidak Biasa

Supri, setiap hari duduk di tempat yang sama, memandang ke arah yang sama, dan bibirnya selalu bergerak seolah melantunkan sesuatu. Setiap pagi ia menunggu seseorang yang akan lewat jalan raya itu. Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya yang ia tunggu. Setiap hari menunggu, tapi setiap hari pula ia pulang dengan wajah penuh kekecewaan. Saban hari duduk di tempat yang sama dan melihat kejadian yang sama, membuatnya hafal kendaraan-kendaraan yang selalu lewat. Pukul 06.00 ia mulai duduk di sana. Kendaraan yang pertama kali ia lihat adalah mobil sedan abu-abu, melintas dengan kecepatan tinggi. Mobil itu keluar dari arah sebuah club di ujung jalan, pemuda dalam mobil itu pulang dengan keadaan mabuk.

            Kendaraan kedua melintas pukul 06.10. Sebuah mobil colt biru muda, membawa sayur mayur dari pasar. Mobil itu melintas tidak terburu-buru, supirnya selalu menikmati jalan lengang dengan sebatang tembakau kretek. Lalu driver ojek online yang berangkat dari rumah akan melintas pukul 06.25, ia tahu betul siapa dia, mereka bertetangga.

            Pukul 06.40, menjadi detik-detik yang ia tunggu. Badan lelaki itu berubah dari loyo menjadi tegak. Kaca mata hitam yang menggantung di matanya ia lepas. Bibir keringnya terus melantunkan sesuatu tanpa suara, mengiringi seorang perempuan yang akan melintas di depannya menggunakan motor matic hitam. Ia menengok ke kanan, mencari di mana perempuan itu akan muncul. Bibirnya semakin cepat berkomat-kamit, tanpa suara, tapi dari gerak bibir yang sangat ketara bisa ditebak, ia mengucap nama seseorang. Semakin perempuan dengan motor matic hitam itu akan mendekat, semakin cepat bibirnya bergerak.

            “Isna, Isna, Isna, Isna.” bibir itu mengucap nama perempuan itu, tanpa suara. Supri sangat mengenal perempuan itu, dari sebelum kondisinya seperti sekarang.

Dulu dia adalah lelaki yang rupawan, dan Isna adalah calon pengantinnya. Mereka kenal saat masih SMA, berpacaran hingga lulus dan masing-masing telah bekerja. Namun  nahas, nasib Supri harus kehilangan syaraf kakinya mengubah sebagian hidupnya. Ia lumpuh, harus memakai kursi roda ke mana saja. Kehilangan pekerjaan, kehilangan karir yang cukup bagus, kehilangan teman dan kawan dan ia hampir kehilangan calon pengantinnya. Ia kehilangan kehidupannya yang dulu. Sekarang ia hanya bisa duduk termangu di kursi roda yang setia menemani saat pagi hari menunggu perempuan itu.

            Dua tahun silam, Supri ditabrak sebuah mobil sedan abu-abu di jalan raya selepas subuh. Waktu itu jalanan masih sepi, belum banyak orang dan kendaraan yang melintas. Ia tergeletak tidak sadarkan diri di samping trotoar jalan. Pengendara mobil sedan itu melarikan diri. Supri sangat beruntung. Seorang pedagang sayur yang sempat menolongnya, membawa ia ke rumah sakit. Hari masih gelap, tidak ada kerabat yang mengetahui keadaannya di rumah sakit. Mereka datang setelah seorang tetangga tukang ojek menjadi saksi hidup kejadian itu, menyebar berita kecelakaannya. Orangtuanya sudah meninggal beberapa bulan sebelumnya, hanya keponakan dan beberapa kerabat yang menjenguknya di rumah sakit.

            Dokter memvonis kakinya mengalami kelumpuhan, syaraf-syarafnya mati. Ia tidak bisa jalan setelah pulang dari rumah sakit. Isna mengetahui kabar itu, ia datang ke rumah Supri membawa sebuah kotak merah berukuran kecil, berisi cincin.

            “Maaf, untuk saat ini aku tidak bisa, Mas. Aku belum siap,” ujar Isna seraya mengembalikan cincin lamaran yang diberikan Supri sebelum orang tuanya meninggal.

            “Apa maksudmu? Apa kau malu dengan keadaanku?”

            “Tidak, Mas. Aku perlu waktu.”

            “Sampai kapan?”

            “Aku belum tahu, mulai besok pagi duduklah di pinggir jalan itu. Aku setiap hari akan lewat di sana. Jika aku tidak berhenti dan menemui kamu, berarti aku belum siap, Mas.”

            Sejak pagi itu Supri setiap hari duduk di pinggir jalan, menunggu Isna sesuai janjinya. Sudah hampir dua tahun setelah janji itu terucap, belum satu kali pun perempuan itu berhenti dan menemuinya. Selama itu pula tidak pernah ada percakapan di antara mereka.

            Supri selalu duduk dan menunggu, setiap pagi hari. Sebelum mandi dan sarapan ia sudah berada di tempat itu. Ia selalu datang lebih pagi dari Isna. Ia tidak mau ketika Isna berhenti, tidak ada dirinya menunggu di sana. Beberapa menit setelah ia sampai, sebelum mobil pertama melintas, seorang perempuan pedagang buah memberinya dua buah pisang. Untuk sarapan, kata perempuan itu. Tidak ada obrolan setelah kata terimakasih yang diwakilkan dengan anggukan. Perempuan itu melanjutkan perjalanan.

            Hari ini tepat pukul, 06.40. Seharusnya Isna dan motor matic hitamnya akan melintas sambil membunyikan klakson. Mata Supri masih mencari dari arah kanan, ia belum menemukan perempuan itu muncul. Bibirnya yang selalu mengucap tanpa suara perlahan membeku. Waktu telah berlalu, bibirnya kian beku, dan terkunci rapat. Ia menyadari, tidak ada Isna hari ini. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Isna mengingkari janjinya. Ia tidak lewat jalan itu. Supri pulang dengan kecewa, sedih dan sedikit marah.

            Hari berikutnya Supri kembali dengan runtinitasnya, ia masih menunggu di tempat yang sama dan waktu yang sama. Masih terlalu pagi, ia belum juga mandi dan makan pagi. Seperti pagi-pagi sebelumya, perempuan pedagang buah itu datang membawa dua buah pisang. Untuk sarapan, kata perempuan itu lagi. Dan kembali seperti biasa, terimakasih diwakilkan dengan anggukan. Perempuan itu segera pergi, dan sedikit tersenyum melihat Supri tidak memakai kaca hitamnya.

            Selepas itu, mobil pertama melintas dengan kecepatan tinggi. Seperti biasa, ia keluar dari club di ujung jalan. Dan berturut-turut mobil pembawa sayur dan tukang ojek online itu melintas. Bibir Supri mulai mengucap nama itu lagi, tanpa suara, hanya gerakan yang seakan bisa didengar oleh orang yang melihat. Waktu Isna melintas hampir tiba, bibir Supri semakin kerap bergerak. Kepalanya kembali menengok ke kanan, menanti kemunculan Isna. Namun, ia tidak muncul lagi pagi ini.

            Hari-hari setelah itu sama, Supri terus menunggu Isna yang tidak kunjung muncul. Sampai di pagi yang agak mendung, udara sedikit bercampur dingin, tetapi entah kenapa Supri memaksa memakai kemeja hitam dan sepatu hitam. Ia sudah berada ditempat penantiannya tepat waktu. Kali ini Supri sudah mandi, rambutnya tersisir rapi, meskipun ia belum makan pagi. Perempuan pedagang buah itu datang seperti biasa, membawa duah buah pisang. Tumben sudah mandi, kata perempuan itu. Ia segera berlalu meninggalkan Supri.

            “Terima kasih,” kali ini ucapan itu tidak diwakilkan apapun, terucap jelas dari bibir yang terlihat segar.“Bisakah kau tinggal sejenak dan menemaniku?”

            Supri meminta pada perempuan itu. Ia adalah Kiki, teman saat SMA. Juga perempuan yang mencintai Supri dalam diam.

            “Tentu, dengan senang hati.” Kiki duduk di samping Supri, meletakkan rombong buah di depannya. Hari ini ia akan jualan di sana sambil menemani Supri menunggu Isna.

            Pagi ini berjalan tidak seperti hari-hari biasanya, berbeda 180 derajat. Tidak ada mobil sedan abu-abu melintas, tidak ada tukang sayur dengan rokok kreteknya, tidak ada driver ojek online dan pagi ini tentu tidak ada Isna.

            Supri dan Kiki duduk berdua, berdampingan, dan saling memandang. Beberapa pengendara telah mampir untuk membeli buah dagangan Kiki.

            Langit mendung memang bukan kepastian untuk turunnya hujan. Matahari yang semakin tinggi berhasil mengusir mega yang hitam. Langit mendadak cerah, sinarnya menyirami jalan raya aspal.

            “Kenapa pagi ini kau begitu rapi dan berpakaian serba hitam?”

            “Orang yang aku tunggu, tidak akan pernah melintas lagi di jalan ini.”

            “Bagaimana bisa?”

            “Beberapa minggu lalu, ia telah meninggalkan hatiku seutuhnya. Dan hari ini ia juga meninggalkan dunia.”

            Kiki tercengang, diam-diam menyimak cerita Supri, yang ia dapat dari pengendara sedan abu-abu. Sesaat setelah subuh, orang itu datang dan membawa kabar memprihatinkan.

            Kata Supri, Isna telah menikah dengan pemuda pemilik sedan abu-abu yang suka mabuk itu. Setiap pagi ia harus merawat suaminya yang mabuk berat ketika sampai di rumahnya yang mewah, hal itu yang membuatnya selalu telat berangkat kerja di pagi hari. Waktu biasa ia melintas jalan raya menjadi molor, mendekati jam kerja. Ia selalu terburu-buru dan ngebut, takut jika terlambat masuk kantor. Ia bukan tidak pernah melintas jalan itu lagi, ia selalu melintas tapi dengan segala perubahan dalam dirinya. Sampai akhirnya pada malam hari sepulang kerja, ia menabrak sebuah truck pasir dan meninggal. Dalang dari penabrakan Supri adalah dirinya di dua tahun silam. Semua terjadi karena Supri tidak mendapat warisan dari kedua orang tuanya yang juga tertabrak di tempat yang sama, mobil yang sama, dan juga dalang yang sama.

Ditulis Oleh: Rega Ade Pratama

Facebook Comments