ondel ondel

[Cerpen] Ondel-Ondel dan Hidup yang Layak untuk Dilanjutkan

“Elu terlalu nekat!”

Aku tak berani menatap mata nyalang Encang Beni. Dengus napasnya terdengar melambat, bersamaan denganku yang semakin tertunduk dalam. Hampir sepuluh menit sudah aku terduduk di hadapan adik mendiang Abah itu, macam pesakitan. Selama itu pula telingaku panas, ditambah dada yang berdenyar-denyar seiring intonasi ceramahnya yang tak pernah memakai nada rendah.

“Tapi, Cang,” sergahku di sela jeda kalimat laki-laki pengganti abahku itu, “Mira butuh uang belanja. Samsul dan Ima juga sudah butuh seragam baru, sepatu baru. Ane malu pinjam duit sama Cang melulu.”

Sengaja pandanganku bergeser ke rak sepatu di sudut teras. Kuharap Encang Beni juga akan melihat, sol sepatu Samsul yang menganga. “Cang, ane cuma bisa ngamen ….”

Salah. Bukan menjadi iba, tapi justru aku yang terlonjak ketika meja digebrak.

“Tapi ngamen ondel-ondel dilarang sama Pemda, Rulll! Bebal banget kepala situ!”

Laki-laki yang masih tegap itu—meski usianya dipertengahan tujuh puluhan—bangkit  dengan cepat. Setelah mengulang petatah petitih tentang tanggung jawab moral, merawat budaya dan—tak lupa—impian mulia Abah, Encang Beni berbalik dan berjalan cepat meninggalkan rumahku.

“Wa’alaikum salam ….” Lalu aku terkejut sendiri, ketika sadar, Encang Beni tak beruluk salam ketika pergi tadi.

Aku ingin masuk ke dalam, rebah di ranjang, melepaskan penat di punggung, di bahu. Seluruh ragaku. Namun, lamat-lamat suara genjotan timba di belakang mengingatkan aku bahwa Mira sedang larut dalam kesibukannya.

Sambil melawan nyeri, aku coba meluruskan kaki kanan. Balutan kain cokelat di pergelangan baru tadi pagi dikencangkan lagi oleh Mira. Napasku bergemuruh sebagai ganti tak mengaduh. Semua gara-gara musik pengiring yang terlalu gaduh, sehingga aku tak menangkap suara mobil aparat yang merapat.

Insting pertama dari seseorang yang sadar telah berbuat salah adalah lari. Namun sepertinya hukuman dari Tuhan dibayar lunas saat itu juga. Sandal jepit usang yang kupakai rupanya enggan kuajak pergi. Baru beberapa langkah saja, talinya putus dan membuatku terjungkal dan terguling dalam rangka boneka raksasa yang masih kupakai. Aji, keponakanku, yang hanya bertugas mengoperasikan tape, ringan saja melesat pergi.

Entah harus bersyukur atau menyesal, karena cedera, para petugas Kamtib itu enggan membawaku naik ke atas truk mereka. Sebagai gantinya, gerobak yang berisi tape dan speaker mereka angkut, termasuk kaleng berisi recehan tak seberapa yang terkumpul selama ngamen setengah hari itu.

Atau ini karena aku kualat sama Abah? Mataku terpejam, demi menyempurnakan bayangan sosok laki-laki yang dengan jiwa raganya mampu memberi nyawa pada warisannya, Ondel-ondel. Ampun, Abah …, batinku mengerang. Encang Beni sudah sepantasnya mengamuk. Apa yang sudah aku lakukan pasti sangat menyakitkan buatmu, Bah.

Dalam kelam pejam mata, aku seolah bisa memutar ulang adegan dua puluh tahun lalu, waktu umurku belum lagi genap lima belas tahun. Abah yang sedang membelah bambu bakal rangka boneka menggumamkan pesan-pesan di sela kepulan asap tembakau.

“Rul, Ondel-ondel ini harta kita sebagai orang Betawi. Kebanggaan kita!” Petuah tentang pentingnya menjaga dan melestarikan budaya mengalir berselang-seling dengan perkara teknis pembuatan boneka raksasa itu.

“Pilih bambu yang tumbuhnya tegak, jangan yang rebah. Bambu yang tegak itu lebih matang dan rata terkena sinar matahari. Lebih mudah diolah dan dibentuk menjadi rangka.”

Aku sebetulnya tak tertarik dengan kehidupan yang digeluti oleh Abah. Namun, dari sanalah aku makan, bersekolah dan tumbuh dewasa dalam masa-masa yang menyenangkan. Sanggar kesenian yang dikelola Abah dan Encang Beni sempat berjaya dan membawa kemakmuran bagi anggotanya.

Tapi kini? Ampun, ya, Abah …. Aku seperti lupa pada kisah Abah, tentang bagaimana Gambang Kromong adalah nyawa magis bagi pasangan Ondel-ondel.

Dadaku terasa nyeri oleh rasa bersalah. Aku telah melakukan hal yang terlarang, dengan memakai kaset rekaman Gambang Kromong sebagai musik pengiring ngamenku.

“Lihat baik-baik, Syahrul! Alunan Gambang Kromong itu yang menggerakkan ‘mereka’!” Abah berteriak di tengah alunan musik kencang sambil mengarahkan telunjuknya pada sepasang Ondel-ondel yang sedang menari. Usai berkata seperti itu, Abah ikut melenggokkan badannya sambil sesekali menggelengkan kepalanya. Matanya terpejam, larut dalam alunan Gambang Kromong.

Sayang, kecintaan Abah pada dunianya tak juga sampai menyentuh hatiku. Apalagi ketika Abah jatuh sakit karena infeksi luka akibat tergores batang bambu. Di hari Abah meninggal dunia, aku berdiri sambil menatap nyalang pada topeng boneka besar berwarna merah yang teronggok di bangku teras.

Ketika itu aku protes. Mana? Katanya kalian adalah penjaga kami? Katanya kalian adalah penolak bala, lalu kenapa abahku mati? Setelah itu dengan parang kubelah topeng itu. Aku marah dan kecewa, juga kehilangan. Dan hanya Encang Beni yang bisa membuat aku berhenti, itu pun dengan satu tamparan keras di wajahku.

Namun setelah itu adik Abah satu-satunya itu mendekap erat badanku. Memaksa kepalaku rebah di bahunya dan membiarkan ketika kepalan tanganku meninju punggungnya pelan-pelan.

Satu usapan lembut pada tulang pipiku membuatku tergeragap. Ada senyum Mira yang kutangkap pertama kali saat membuka mata. Saat itu baru kusadari rasa dingin yang menjalari pipiku. Aku menangis?

“Cang Beni sudah pulang? Kok, nggak panggil Mira, Bang?”

Melihat warna mukaku, Mira tak membutuhkan lagi jawaban. Tangannya gegas mengambil cangkir kopi yang nyaris masih utuh, karena Encang Beni kemari memang tidak untuk santai-santai menyeruput kopi.

“Tunggu, ya, Bang. Setelah ini Mira bantu Abang ke kamar.”

ondel ondel
Sumber: bieananda devianart

***

“Samsul takut sama Ondel-ondel ….” Rina, ibu Samsul berbisik di telingaku. Dia menjelaskan sebabnya mengapa anak laki-lakiku—yang ketika itu baru berumur dua tahun—menolak ketika akan kuajak ke sanggar.

Sepeninggal Abah, berkat ketekunan Encang Beni membujukku, akhirnya aku mau membantu-bantu kegiatan di sanggar. Pamanku itu tidak langsung memberiku tanggung jawab yang besar, karena dia ingin kecintaanku tumbuh seiring berjalannya waktu. Bukan karena paksaan. Aku diminta mengurus kostum penari dan mengawasi latihan pemain Gambang Kromong.

Perlahan, aku mulai paham, mengapa Abah rela melebur dengan dunia Ondel-ondel. Ada ruh yang perlahan mulai mengisi jiwaku, dan aku tidak ingin mengulang sejarah. Anakku harus mengenal dunia ini sedari dini. Itulah mengapa aku ingin selalu mengajak Samsul ke sanggar. Lagipula ketika itu Rina tengah mengandung anak kami yang kedua. Jika Samsul ikut denganku, pekerjaan rumah Rina tentu akan lebih ringan.

Aku lalu terpikir, untuk memodifikasi topeng laki-lakinya. Mengapa hanya topeng boneka perempuannya saja yang tersenyum? Mengapa tidak keduanya saja yang tersenyum. Dengan begitu, anak-anak kecil tak akan takut pada Ondel-ondel. Demikian juga dengan Samsul. Syukurlah, Encang Beni setuju. Beberapa topeng boneka laki-laki mulai diganti.

Namun, masa-masa sulit itu datang tanpa sempat kami sadari. Gempuran budaya dari luar negeri membuat pamor Ondel-ondel makin redup. Kami mulai jarang menerima panggilan untuk tampil. Padahal Encang Beni sudah bersedia menurunkan standar penampilannya.

“Mau tidak mau, kita harus ikuti zaman. Tapi tidak berarti kita sepenuhnya keluar dari pakem.” Begitu yang beliau putuskan pada akhirnya. Sanggar mereka tidak lagi hanya menyanggupi acara-acara besar, tapi kini sekadar pesta syukuran khitanan saja kami jabanin.

Tetap saja, pendapatan sanggar menurun. Kami harus melepas anggota-anggota yang sudah seperti keluarga. Tak ada kekecewaan. Mereka mengerti bahwa semua harus terjadi. Beberapa anggota masih memaksa untuk tetap bergabung, meski itu artinya upah mereka berkurang banyak, atau bahkan harus dicicil.

“Kami sudah berjanji kepada Abah, akan menghidup-hidupkan sanggar ini.” Ucapan salah satu anggota sanggar membuat tangisku pecah dan mata Encang Beni membasah. Kami berpelukan erat saat itu. Saling menumpahkan air mata untuk kemudian bersama-sama menjadi kuat.

Namun pukulan takdir kembali datang. Rina tak selamat usai persalinan. Aku membayangkan si kecil Ima, bayi merah yang akan tumbuh tanpa sentuhan ibunya. Seperti aku sendiri, dulu. Abah …, ajarkan aku kuat seperti dirimu dulu. Bagaimana caranya, Abah?

“Bah ….” Ada yang menepuk punggung tanganku. Hangat.

Lalu ada yang membelai balutan kain di pergelangan kakinya. Menyisakan rasa geli, tapi ada rasa lain yang meresap. Sayang, aku merasakan kasih sayang.

Lagi-lagi senyum Mira yang pertama kali kutangkap. Dia—yang ketika aku lunglai—yang tulus mengulurkan tangan untuk merawat bayi Ima, mengasuh Samsul, dan mengurusku. Dia yang menggandeng tanganku, meyakinkan bahwa hidup sangat layak untuk dilanjutkan. “Cintamu padaku tak pernah tumbuh pun tak apa-apa. Tapi lanjutkan hidup demi cintamu pada Samsul dan Ima, titipan dari Pok Rina!”

Kugenggam tangan mungil Mira. Beruntung aku menerima ‘lamarannya’ ketika itu. Tak lama seseorang merebut tanganku dari Mira. Gadis kecil berkucir kuda menangkup tanganku dengan dua tangan kecilnya. “Bah, lihat aku bikin apa ….”

Mataku nanar, lalu mengerjap basah. Boneka Ondel-ondel sebesar lengan, dengan wajah jenaka bergoyang-goyang lincah di depan pandanganku.

Aku tertawa dan nyaris tersedak. Itu adalah boneka tangan berbentuk Ondel-ondel yang terbuat dari botol air mineral bekas. Topengnya asal saja memakai sendok plastik, hiasan rambut dan pakaiannya dari kertas krep berwarna-warni.

“Ima, ini bagus. Bagus sekali!” Kubelai puncak kepala anak gadisku. “Abah akan buat yang lebih bagus. Ajari Abah, ya?”

***

“Hebat, Lu, Rul!”

Tentu perlu alasan istimewa untuk Encang Beni mengeluarkan pujian seperti itu. Namun dengan melihat arah pandangan matanya, aku tahu alasan di balik pujiannya itu.

Ratusan boneka tangan Ondel-ondel memenuhi lantai teras rumahku. Sebentar lagi Aji akan mengemasnya dan mengatur pengirimannya pada pemesan. Anggota-anggota sanggar yang bertahun lalu sempat keluar, berhasil kuyakinkan untuk kembali dan membantu usaha baruku ini.

Aku menyembunyikan pandangan, sambil mengusap pita kecil yang melintang di badan boneka. Ada nama sanggar Abah tertulis di atasnya. Sanggar Laras Bestari.

“Terima kasih, Cang. Saya hanya ingin menghidup-hidupkan apa yang sudah Abah perjuangkan.” []

Ditulis Oleh: Oky E. Noorsari

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!