[Cerpen] Mimpi Terindah

Dia tertawa kecil. “Ya, ampun. Ternyata masalah itu.” Aku meliriknya malu-malu. “Biarkan saja mereka berpikir begitu. Toh, memang terjadi sesuatu diantara kita kan?”

Jam terakhir mata kuliah hari ini. Dosen yang mengajar kewirausahaan tidak bisa hadir karena mendadak harus keluar kota entah untuk urusan apa. Akhirnya kami hanya menghabiskan waktu mencari bahan materi untuk tugas yang akan dikumpulkan minggu depan berkaitan dengan branding strategy.

Dari namanya saja sudah bisa ditebak, bukan? bahwa tugas itu adalah menentukan merek apa yang akan kami gunakan untuk barang produksi kami. Jika kemarin kami dipusingkan dengan pembuatan 3 gaun untuk diperagakan dalam pameran yang hanya diberi waktu satu minggu, sehingga kami harus melakukan kerja gila-gilaan agar tugas itu selesai tepat waktu. Maka sekarang kami juga harus memutar otak untuk bisa menemukan nama brand yang cocok, unik, terkesan elegan, dan memiliki daya jual yang tinggi.

Bagiku sendiri tugas ini sama sulitnya dengan tugas pembuatan 3 gaun itu. Dosen yang memberikan tugas itu pun tidak mau menerima hasil rancangan yang asal-asalan. Keunikan itu juga harus terlihat. Meskipun saat itu hasil rancangan desain yang kusetor pada beliau sangat jauh berbeda dengan hasil jadinya. Aku sangat beryukur mendapat nilai terbaik dari pada yang lain. Tapi untuk tugas kali ini, entahlah. Aku belum memiliki gambaran.

Aku mencari beberapa referensi untuk tugas itu di perpustakaan kampus. Sendiran. Sahabat yang biasa bersamaku sudah pulang lebih dulu. Kelihatannya dia sedang ada masalah. Aku tidak tahu.

Setelah mengajukan beberapa buku yang kupinjam pada petugas perpustakaan, aku pun segera berjalan menyusuri koridor kampus. Berharap bisa segera meninggalkan kampus ini. Karena seseorang yang biasa kujadikan tameng sudah pergi lebih dulu tadi.

Langkahku terhenti. Tatapanku jatuh pada seorang lelaki yang sedang duduk di atas kap mobil dengan tangan kanan dimasukkan ke dalam saku celana kain yang berwarna hitam. Sedang tangan kirinya digunakan untuk menggenggam ponsel yang saat ini menempel di telinga kirinya. Entah siapa yang sedang dihubungi.

Penampilannya saat ini sungguh mencolok, dengan lengan kemeja warna biru tua yang sudah digulung hingga siku dan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya yang mancung. Membuat beberapa mahasiswi yang melihatnya langsung terpesona. Aku tahu lelaki itu pernah menjadi idola di kampus ini. Meskipun sekarang dia jarang menampakkan wajahnya lagi setelah diwisuda dua bulan yang lalu. Tapi kepopulerannya masih belum terlupakan.

Ponsel di dalam tas tiba-tiba berbunyi. Kak Milan is calling.

“Hallo?” sapaku pada orang di seberang sana.

“Kau ada di mana sekarang, Queen?” itulah dia. Menjawab sapaan dengan pertanyaan.

“Di sini!” jawabku. Sedikit ingin menggodanya.

Kudengar dia menghela napas sebelum menjawab, “Iya, Di mana?”

“Memangnya kenapa?”

“Ck, sekarang aku sudah ada di depan kampus.”

“Ada urusan apa kakak datang ke kampus?” tanyaku masih berusaha menggodanya. Padahal aku tahu kalau dia datang untuk menjemputku.

“Aku datang untuk menjemput Rosa.”

“Apa?” tanyaku tidak percaya. “Tapi Rosa sudah pulang.”

Pulang? Baiklah kalo begitu, aku juga pulang saja.”

“Apa?” kenapa jadi begini? “Kakak tidak …”

HAHAHA.” Tunggu, kenapa dia malah tertawa? “Tentu saja aku datang untuk menjemputmu, Queen. Siapa lagi memangnya? Dasar gadis bodoh.”

“Apa?” jadi dia hanya bercanda? Kenapa jadi terbalik begini? Padahal kan, aku yang berniat menggodanya tadi. Benar-benar menyebalkan.

Haha, Makanya sekarang beritahu kamu ada di mana?”

“Di sini!” seruku agak kesal.

Iya, di mana? Biar kakak bisa menghampiri dan langsung memelukmu karena wajah kesalmu sekarang pasti sangat menggemaskan.”

Apa dia bilang? Memeluk … Oh ya ampun, “Jangan!” aku melarangnya. “Tidak boleh!”

“Kenapa?”

“A-aku tidak mau semua yang ada di kampus mengetahui hubungan kita. Biar aku yang menghampiri Kakak.”

“Baiklah, cepat kemari!” perintahnya.

“Ya,” Jawabku singkat. Lalu mengakhiri sambungan kami dan dengan langkah terburu-buru menghampirinya.

Mengurangi kecepatan saat sudah berjarak beberapa langkah darinya. Dia terlihat menegakkan tubuhnya untuk menyambut. Tapi aku langsung menuju pintu penumpang, saat menyadari beberapa pasang mata mengamati kami dengan tertarik. “Kita langsung saja, Kak!” seruku sambil masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian dia mengikutiku masuk mobil.

“Kenapa kau terlihat terburu-buru?” tanyanya sambil memasang seatbelt.

“Apa Kakak tidak bisa melihat pandangan menyelidik yang mereka arahkan kepada kita?”

“Mereka siapa?”

“Orang-orang kampus itu. Mereka pasti curiga terjadi sesuatu pada kita karena medengarkan kata-kata Kakak tadi.”

“Kata-kata yang mana?”

God. Orang ini sangat menyebalkan. “Kata-kata bahwa Kakak … ingin memelukku.” Oh My, wajahku saat ini pasti terlihat merona.

Dia tertawa kecil. “Ya, ampun. Ternyata masalah itu.” Aku meliriknya malu-malu. “Biarkan saja mereka berpikir begitu. Toh, memang terjadi sesuatu diantara kita kan?” katanya enteng. Dia menatapku sesaat, “Ngomong-ngomong, aku suka melihat wajahmu yang merona itu. Aku jadi ingi…”

“Kakak!” teriakku langsung memotong kata-katanya.

“Hahaha, sudahlah jangan terlalu memikirkan pandangan orang lain saat ini. Bukankah kita sudah sepakat?” dia mengingatkan. Benar kita sudah sepakat untuk masalah itu. “Pikirkan saja tempat-tempat mana yang akan kita datangi hari ini dan dua hari kedepan. Bukankah itu lebih menyenangkan?” sarannya.

Aku membalas senyum lembutnya. Iya, benar. Kami telah sepakat untuk melupakan masalah itu. Selama 3 hari, dimulai hari ini. Kami akan bersenang-senang dan melupakan sejenak beban yang menganggu kami selama ini.

“Kamu ingin ke mana dulu hari ini? Ingin belanja sesuatu atau mungkin menonton?”

“Menonton kedengarannya menarik. Ada film bagus yang ingin kutonton, Kak.”

“Baiklah. Kita akan nonton hari ini,” katanya setuju.

Aku tersenyum senang. Kuperhatikan wajahnya dari samping. Lelaki di sampingku ini benar-benar sangat tampan. Rambut coklat bergelombangnya terlihat sedikit berantakan. Dan mata abu-abunya fokus memandang jalanan di depannya. Kulepas seatbelt agar bisa bergelanyut manja di lengan kirinya dan menyandarkan kepalaku pada bahu lebarnya. Dia mengusap pipiku. Tahu bahwa aku ingin bersikap manja padanya.

Aku sungguh masih tidak menyangka bahwa selama ini perasaanku padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Kami saling mengakuinya dua hari yang lalu. Awalnya kupikir saat aku mengungkapkan perasaanku padanya, dia akan merasa jijik padaku. Tapi nyatanya, selama ini dia juga mencintaiku dan tersiksa oleh perasaan itu. seperti yang kurasakan.

Mungkin jika orang lain tahu, mereka akan menganggap kami gila. Tapi kami tidak peduli. Kami telah memutuskan untuk menjalin hubungan rahasia ini selama 3 hari. Sebelum nantinya berakhir dan dia pergi meninggalkan negeri ini untuk melanjutkan pendidikan beasiswanya di Eropa. Dan selama 3 hari ini kami akan bertingkah layaknya pasangan kekasih yang sesungguhnya

“Kita sampai.” Dia memberitahu bahwa kami telah sampai di sebuah Mall di kawasan Laksda Adisucipto yang cukup terkenal di kota ini. Dan kami langsung menuju Cinema XXI yang berada di lantai tiga dan melihat-lihat bebarapa film yang akan tayang.

Aku langsung menunjuk salah satu film yang memang sedang ingin kutonton. “Kita nonton film ini saja, Kak!”

Dia terlihat mengerutkan keningnya. “Midnight Sun?” aku mengangguk antusias. Lalu dia menoyor kepalaku pelan. “Dasar Wanita. Kenapa kalian hobi sekali menonton kisah melodrama seperti ini, sih?”

“Sembarangan! Ini kisah romantis, tahu!” aku menyangkalnya.

“Ya, ya, baiklah, Nyonya!” Dia langsung menyerah, mungkin karena melihat wajah cemberutku. “Bisakah kita bekerja sama kali ini? Anda mengantri karcisnya, sementara Saya akan membeli cemilan dan minuman, bagaimana?” aku mengangguk setuju.

Setelah dua tiket kudapatkan dan dia juga mendapatkan cemilan serta minuman, kami pun segera masuk dan mencari tempat duduk yang kosong.

“Di sana,” katanya sambil menunjuk bangku kosong baris ke empat dari belakang yang berada di tengah-tengah. Kami langsung menuju bangku itu dan bersiap menikmati film romantis yang akan segera dimulai. Sesaat kemudian, beberapa bangku kosong juga mulai dipenuhi pengunjung.

Aku bergelanyut di lengan kirinya lagi dan menyandarkan kepalaku di bahu lebarnya. Aku mendongak menatap wajahnya dengan tersenyum bahagia. Dia melakukan hal yang sama padaku. Mata abu-abunya menatapku lembut. Memuja seolah hanyalah aku wanita di hidupnya. Masih sulit rasanya mempercayai kalau untuk sesaat, lelaki tampan ini adalah kekasihku. Ini bagaikan mimpi terindah. Rasanya aku tidak ingin terbangun dari mimpi ini dan menyadari kenyataan yang ada. Bahwa sebenarnya, Stevilla Jasqueen adalah adik kandung dari Gevmilan Mahardika.

Oleh : Ila Quznia

Facebook Comments
1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

Ojek Setan!

Sore itu Melia berulang kali mendengus kesal. Dilihatnya langit dari meja kerjanya, awan begitu tebal dan menghitam. Kekesalan…
Read More

Menziarahi Waktu

Menjadi orang asing dengan budaya yang asing pun terkadang rasanya menderita. Tanpa Ayah dan Bunda. Namun, aku cukup…