cerpen kejutan di balik kejutan

[Cerpen] Kejutan di Balik Kejutan

Kepalaku pening. Lena, teman sekelas, seperti menjauh dariku. Tak hanya dia, Vivi dan Sinta pun sering meninggalkanku saat jam masuk kelas. Aku memang kurang peka, tapi setelah kuingat-ingat, tak terpikir olehku kenapa mereka menjauh.

“Mungkin kamu pernah nggak sengaja melakukan kesalahan, Nen. Coba inget-inget lagi, deh.” Mama menjawab pertanyaanku saat kutelpon pada jam istirahat.

Kuceritakan kegelisahan ini kepada malaikat Tuhan yang paling kusayangi. Mama selalu jadi teman terbaikku, apa pun keadaannya. Beliau adalah tempat curhat yang paling asyik.

“Hmm … masalah apa? Kok tiba-tiba mereka menjauh? Katanya teman, kok gitu sih?”

Aku yang kecewa hanya bisa mengomel. Ya, seharusnya mereka langsung bicara saja padaku, kan? Tak usah pakai acara perang dingin begini. Aku bisa menerima kritik. Kami memang baru berteman beberapa bulan. Kami berempat bisa cepat akrab karena nomor urut presensi yang berdekatan. Bahkan, kami sering bertukar teman duduk. Kadang aku duduk semeja dengan Len, lalu Vivi dengan Sinta. Keesokan harinya, kami bertukar lagi. Kami seperti tak dapat dipisahkan. Tapi, bagaimana sekarang?

“Bisa saja mereka bingung menyampaikannya. Coba minta bicara dulu, siapa tahu mereka menunggu kamu mengajak bicara.”

Aku menggaruk pipi. Sulit menerima saran yang … ah, aku malas melakukannya! Siapa yang tak malas, tanpa ba-bi-bu, mereka menjauh. Bahkan, aku yang tadi duduk di sebelah Vivi, benar-benar seperti hantu. Mereka tak melibatkanku dalam obrolan seperti biasa. Aku benar-benar seperti makhluk transparan di sana.

Kantin saat jam pulang sekolah agak lengang. Para penggemar setianya sudah menyambangi tadi saat jam istirahat. Aku yang biasanya makan siang di sini bersama ketiga temanku, sekarang harus rela sendiri. Mereka bahkan pergi tanpa salam waktu bel istirahat belum selesai berdentang.

***

“Tumben sendirian, Nen.” Seorang cowok mencolek pundakku, lalu tanpa diperintah dia duduk di sebelahku.

Cowok imut berbadan tinggi itu teman akrabku dari kelas lain. Rasya namanya. Walaupun sering jahil dan nyebelin, dia adalah sahabatku sejak SD. Selain sekolah yang selalu sama, rumah kami pun sangat dekat. Hanya butuh tujuh langkah. Namun, semenjak masuk SMA, kami agak menjaga jarak. Bukan hanya karena beda kelas, kami selalu menjadi target bahan gosip. Padahal kami hanya berangkat bareng, itu pun karena aku sudah sangat telat.

“Hmm, gitu deh.” Aku menjawab sekenanya, dan kembali mengaduk bakso dan mulai menikmatinya lagi.

Untung kantin sudah kosong, tinggal kami berdua. Kalau tidak, kami tak akan pernah bisa mengobrol leluasa seperti ini. Pasti ada saja yang cie-ciein atau rusuh memotret lalu menyebarkan ke grup whatsapp sekolah.

“Mana yang lain? Bukannya kalian tak terpisahkan?” ledek Rasya dengan cengiran khasnya. Dia membawa jus alpukat, menempelkan dinginnya gelas minuman itu ke pipiku. Spontan, aku menepisnya lalu manyun.

“Ah apa, sih? Aku lagi bete gara-gara itu. Masa aku nggak tahu apa-apa, tiba-tiba ditinggalin gitu aja.”

“Kamu bau kali! Hahahaha.”

Dasar cowok, sedang curhat malah ditertawakan. Kufokuskan pada semangkok bakso. Biarlah, hanya dia saja yang bisa menghiburku sekarang.

“Udah, nggak usah dilipet tuh bibirnya. Kamu hari ini free, kan? Temenin aku yuk, beli kado buat ultah Bunda.”

Aku langsung menoleh dan menelan bakso. “Astaghfirullah, aku baru ingat, Ras. Ya Allah. Okay, aku juga mau beli kado buat Bunda. Kuhabiskan dulu ya baksoku.”

“Habiskan, Nen. Itu mangkok sama sendoknya sekalian ya!”

“Sekalian dimakan?” Aku melengo demi mendengar joke yang murahan.

“Emang kamu kuda lumping? Hahaha. Sekalian dicuci lah. Hahaha.”

Hish, emang cowok ini tidak ada matinya menggodaku. Tapi bersama dia, aku selalu gembira. Seperti sekarang ini, aku bisa sedikit melupakan masalahku dengan teman-teman.

cerpen kejutan di balik kejutan
Sumber: pixabay

***

Bel pulang sekolah sudah lama berdentang. Ketiga temanku langsung bergegas pergi begitu saja. Aku tak terlalu memikirkannya. Toh aku ada janji sama Rasya. Aku juga langsung meluncur turun ke parkiran motor. Vespa butut dan pemiliknya, Rasya, sudah menunggu.

Aku dan Rasya tiba di toko yang kami tuju. Sebuah toko serba ada yang menawarkan banyak sekali barang kebutuhan. Tante Ami, bundanya Rasya, suka sekali merangkai bunga atau apa pun tentang bunga. Aku ingin memberikan vas bunga yang cantik. Bunda pasti akan menaruh di meja rias kesayangannya nanti. Entah kalau Rasya. Dia tidak bilang mau membelikan beliau apa.

Setelah memilih, kami menuju kasir. Berderet-deret orang mengantre di kelima kasir. Aku bolak-balik memilih kasir yang antreannya pendek plus sedikit belanjaannya. Namun, napasku seperti berhenti mendadak. Di depanku, Vivi, Lena dan Sinta sedang asyik mengobrol. Mereka sepertinya tak menyadari bahwa aku berdiri di belakang mereka.

“Eh, Nena bakal suka nggak ya kejutan kita? Kayanya tadi dia udah bete banget tuh. Lihat nggak, mukanya manyun terus. Hahaha.” Vivi jelas-jelas memberiku bocorin. Aku terkejut tak memahami apa yang mereka obrolkan. Kejutan? Untuk apa?

“Pasti suka lah. Kan dia penggemar SF9. Apalagi biasanya si Ro Woon. Aku bisa membayangkan wajah terkejutnya nanti.” Kali ini Lena yang berbicara. Dia tertawa sampai memegangi perutnya. Aku jadi ingin tahu, apa sih yang dia bayangkan tentang aku.

“Eh tapi, Nena nggak akan marah, kan, ya? Aku tadi ngeliat dia pas kita tinggal gitu. Aku kok takut ya?” Si Sensitif Sinta mulai urun suara.

Vivi dan Lena hanya tertawa. Mereka sepertinya sedang merencanakan sebuah kejutan. Aku sungguh tak tahu ada peristiwa penting apa di hidupku hari ini.

“Nggak bakal kok! Aku malah pengen menggelitiki kalian sampai nangis.” Aku yang sudah tak tahan ikutan menyeletuk dari belakang. Sontak ketiga temanku kaget setengah mati.

“Neee … Nee … Na.” Sinta mulai gagap.

“Kok kamu di sini? Eh … ada Rasya juga. Ha … hai!” Vivi kaget melihat aku dan Rasya.

Aku tak menjawab. Semua barang kutaruh di meja kasir dan segera membayarnya. Ketiga temanku menunggu dengan salah tingkah.

***

“Nen, kami minta maaf ya. Kami salah.” Vivi memandangku bak kucing memelas.

Aku, Rasya, Vivi, Lena dan Sinta sudah duduk di salah satu meja kafe. Es krim yang kami pesan mengepulkan asap pertanda dingin. Sedingin mukaku sekarang. Aku melirik Sinta, hanya dia orang yang akan langsung mengaku apa yang terjadi sebenarnya.

“Nen, aku cuma ikut mereka. Kami ingin membuat surprise pas hari ultahmu.”

Aku melongo. Ultah? Aku menoleh pada cowok yang malah tertawa terbahak-bahak ini.

Sorry teman-teman, aku ngejahilin kalian. Kukira kalian teman dekatnya Nena, aku nggak percaya kalian iyain aja pas nanya tanggal lahir Nena.”

Mengalirlah cerita atas semua kesalahpahaman. Ternyata mereka berhasil dijahili Rasya. Vivi tanya hari ultahku via chat. Rasya memberikan info hoaks dan malah memberitahu ultahku jatuh di hari ultah bundanya. Ya, memang selama ini, aku jarang sekali memberi tahu tanggal lahirku. Kupikir untuk apa, toh aku tidak suka kejutan-kejutan. Seperti sekarang ini.

Mendengar penuturan Rasya, perutku kaku karena tak bisa berhenti tertawa. Mereka bertiga pun jadi ikut tertawa akan kebodohannya. Beginilah akibatnya jika informasi tidak di-cross check terlebih dahulu. Aku hanya bisa mencubit lengan Rasya, si cowok penyebab keisengan ini.

“Ya sudah, sini mana SF9-ku,” tagihku kepada mereka bertiga.

“Lah, kan, belum ultahmu. Lima bulan lagi kukasih,” celetuk Vivi yang sudah tahu tanggal lahirku yang sebenarnya.

“Ye, nggak bisa. Kan nantinya itu juga buatku.”

Kami kembali tertawa dan menjadi akur lagi, walaupun karena berita hoaks kami sempat salah sangka. Niat mereka hanya ingin memberi kejutan. Namun, akhirnya justru mereka yang terkejut. Benar-benar hari yang konyol. Hari yang pastinya akan kami kenang selamanya.

“Besok-besok, jangan tanya apa pun ke Rasya. Tanya langsung ke aku. Sumber valid!”

***

Ditulis Oleh: Dhita Erdittya

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: