cerpen cinta yang berdarah

[Cerpen] Cinta yang Berdarah

TEMUPENULIS – Tubuh seorang perempuan tergeletak di kasur tanpa amben. Matanya tertutup dengan tubuh terkulai lemas tidak sadarkan diri. Ruang kamar berukuran 3×4 sedikit di terangi cahaya. Pemiliknya sengaja memasang lampu tidur kuning, membuat cahaya remang-remang menutupi tubuh perempuan itu.

Telapak tangan seorang lelaki menyusuri tubuhnya, dari ujung kaki sampai wajah. Tidak perlu waktu lama, bibir lelaki itu mendekat ke pipi perempuan yang pucat. Napasnya pendek, tapi beradu dengan cepatnya waktu hingga udara yang keluar tidak beraturan. Suhu dalam kamar panas, karena tidak ada udara segar yang masuk. Lelaki itu berkeringat sekujur tubuh. Airnya mengalir dari dahi, berkumpul di ujung hidung, lalu jatuh tepat mengenai kelopak mata perempuan itu.

“Di mana ini?” Anita sadar dari lelapnya yang tidak nyenyak.

Mata Barjo terbelalak mendengar suara itu, ia tidak mengira bius yang diberikan habis dengan cepat. Napasnya terhenti sejenak saat memandang Anita yang berangsur sadar. Kali ini jantungnya yang berdetak tidak teratur.

Anita sadar dalam keadaan bingung, matanya mengitari seisi ruangan, menerka tempatnya berada. Dia hanya ingat sedang dalam mobil bersama kekasihnya menuju ke sebuah kafe. Matanya menjadi buram setelah meminum air yang diberikan Barjo di dalam mobil. Selang beberapa menit, ia pingsan.

“Barjo, apa yang kamu lakukan?” ujar Anita saat melihat Barjo bertelanjang dada.

“Eh, ta..tadi kamu pingsan, An,” jawab Barjo gagap.

Anita menggeleng, saat tahu jaket dan jilbab sudah tanggal darinya. Ia tidak mau mempercayai apa yang ada dalam pikirannya. Tidak, tidak mungkin Barjo berbuat nekat. Selama ini Anita percaya Barjo adalah lelaki yang baik.

“Pingsan? Tidak, tidak mungkin. Aku di mana?” ujar Anita gelisah, ia menarik kaki dan memeluknya di sudut tembok.

Mulut Barjo membeku, tidak tahu harus menjawab apa. Detak jantungnya semakin cepat, hasratnya semakin kuat seiring Anita menolak.

“An, maafkan aku,” Barjo menarik tangan Anita. Namun, Anita dengan sigap mengelak.

Barjo jatuh oleh gerakannya sendiri. Ia semakin panik, kesempatan yang ia nanti sejak lama terancam sirna di depan mata. Tubuh Anita, ia menginginkannya. Sebenarnya Barjo pernah mencoba untuk berterus terang dengan keinginannya itu, tapi Anita tidak sudi.

Sudah lama Barjo memiliki niat bejat itu, tapi Anita berbeda dengan perempuan lain yang pernah memiliki hubungan dengannya. Perempuan di depannya itu sangat menjaga kehormatan seorang perempuan.

“An, kamu sayang aku kan?” tanya Barjo suatu hari saat berdua dengan Anita di dalam mobil.

Anita bingung dengan pertanyaan itu, ia menganggap itu sebuah pertanyaan bodoh. Sudah tentu ia sayang dengan kekasihnya, jika tidak mengapa ia menerima saat Barjo menyatakan cinta?

“Apa maksudmu? Tentu saja iya!”

Barjo terdiam mengatur napas. “Boleh aku pegang tanganmu?”

Anita tertawa kecil medengar ucapan Barjo. Tadi, kemarin, dan hari-hari sebelumnya tidak perlu ada pertanyaan seperti itu saat mereka bergandengan. Namun, entah kenapa Barjo bersikap lain.

“Boleh,” jawab Anita sembari mengulurkan tangan kanannya.

Senyuman kecil tumbuh di wajah Barjo, lalu ia memegang tangan kekasihnya itu dengan lembut. Matanya memandang mesra ke wajah Anita yang tersipu malu. Anita membalas senyuman Barjo. Dalam benaknya Barjo adalah lelaki baik, kadang hal-hal semacam itu terjadi secara spontan. Tidak banyak lelaki meminta izin untuk memegang tangan perempuan, meskipun baru pertama kali ini Barjo mengatakannya.

Tangan mereka berpegangan cukup lama sampai mobil menepi di jalan yang sepi. Hari sudah malam, tidak banyak kendaraan yang lalu-lalang.

Barjo menatap wajah Anita dengan penuh keraguan, kalimat yang ingin terucap menyangkut di tenggorokan. Ia gusar dan gelisah, nampak jelas ia ingin mengucapkan sesuatu.

“An, kamu sayang aku kan?” ucap Barjo dengan pertanyaan yang sama.

“Memang kenapa sih? Dari tadi tanya itu terus!” jawab Anita kesal.

Kedua tangan Barjo memegang tangan kanan Anita dengan erat, tubuhnya sedikit membungkuk.

“Bo…boleh aku menciummu?”

“A..apa?” jawab Anita kaget.

“Sekali ini saja, sayang,” bujuk Barjo.

Anita tidak bisa menjawab apa pun. Belum pernah sekali pun ia berciuman dengan seorang lelaki. Meskipun dengan pacarnya yang dulu. Karena tidak ada jawaban dari Anita, Barjo menganggap bahwa ia tidak keberatan. Bibirnya mendekat ke bibir Anita tanpa napas yang terdengar. Jantung Anita berdegup kencang, antara menolak dan menerima. Namun, belum sempat memutuskan, bibir mereka sudah bersentuhan.

Napas mereka memburu dan beradu. Anita terpejam, desiran dalam dadanya terus memberontak. Ia ingin menolak, tapi perasaan yang berkecamuk memaksanya untuk diam.

Setelah beberapa saat, Barjo melepaskan bibirnya dari Anita. Ia kembali duduk di belakang kemudi. Anita terpaku, lalu ia mengelap bibirnya yang basah.

“An, aku cinta kamu, boleh aku tidur denganmu?”

  Suara itu menyadarkan Anita yang melamun menyesali perbuatannya. Tanpa penjelasan labih lanjut dari Barjo, ia sudah tahu apa maksudnya.

“Tidak! Ini tidak benar!” tolak Anita dengan nada tinggi.

“Tapi kan kita pacaran, An. Kamu mencintaiku kan?” Barjo terus membujuk.

“Kita hanya pacaran, Jo. Aku tidak mau!”

“Tapi kau mencintaiku kan?”

“Ya, tapi bukan berarti cinta bisa membutakan segalanya. Tidak seharusnya kita melakukan semua ini!”

Barjo tidak menjawab. Tangannya mengepal di atas kemudi. Ia kecewa dengan jawaban Anita yang menolaknya.

“Lalu apa artinya kita pacaran? Kebanyakan orang juga melakukannya, An.”

“Pokoknya tidak! Aku mencintaimu karena tulus dari hati, bukan hanya sebatas nafsu belaka, Jo. Ki…kita belum menikah!”

Jawaban itu bisa membuat Barjo sedikit menerima, atau barangkali memendam keinginan itu sejenak. Ia tahu jika memaksa kehendaknya, berarti kehilangan Anita selamanya. Paling tidak Anita sudah jujur jika mencintainya dengan tulus, artinya kemungkinan kecil jika Anita akan pergi.

“Ya, aku tahu An. Maafkan aku.”

Barjo menghela napas dan memacu kembali mobilnya.

Anita bersyukur Barjo bisa menerima keputusannya. Ia senang, hal itu menambah kepercayaan baginya jika Barjo adalah lelaki yang baik. Tidak banyak lelaki yang mau mengurungkan niat itu dalam keadaan seperti ini. Jalanan sepi, gelap, dan jauh dari keramaian kota. Hal buruk apa pun bisa terjadi jika Barjo bukanlah lelaki baik.

Namun, kepercayaannya selama ini runtuh seketika dalam kamar yang remang-remang. Kali ini tidak ada obrolan atau tawaran. Barjo sudah kerasukan setan yang telah lama disembunyikan.

Barjo mendekatinya di atas kasur. Wajahnya seolah berubah menjadi penjahat, tidak ada lagi keraguan. Ia yakin akan merenggut kehormatan Anita dengan paksa.

“Tidak! Pergi!”

Anita berusaha menolak dan melawan, tapi sayang tenaganya tidak sebanding dengan Barjo. Tangan kekar kekasihnya sudah melingkar di tubuhnya. Napas yang memburu terdengar jelas di telinga.

“Tolong! Tolong!” Anita berteriak, tapi sia-sia. Barjo tinggal seorang diri di rumah. Berteriak sekeras apa pun tidak ada gunanya selain menghabiskan tenaga.

“An, aku mencintaimu!” ucap Barjo sambil mencium leher Anita.

“Tidak, cinta tidak seperti ini. Sadar Jo!”

Nafsu yang telah memburu membuat tuli telinga Barjo dengan segala kata tentang cinta. Ia tidak perduli lagi dengan tangisan perempuan di dekapannya. Seperti sudah ahli dengan keadaan ini, Barjo membanting Anita. Kepala Anita terbentur meja di samping kasur.

Tidak banyak yang bisa dilakukan Anita selain menangis, berteriak dan berharap ada yang menolongnya. Namun, doa dan harapannya telah menguap di udara yang hampa dengan sia-sia. Bahkan seekor cicak di dinding hanya bisa memandanginya tanpa rasa kasihan, seperti setan yang tersenyum puas dengan kelakuan Barjo.

Anita terus memberontak sebisa mungkin, tapi lama-lama tenaganya habis. Ia menatap meja itu dengan terus berpikir mencari jalan keluar. Anita melihat sebuah gunting di atas meja, tanpa pikir panjang ia mengambil gunting itu lalu menusuk perut Barjo tanpa rasa kasihan. Darah mengucur membasahi sprei. Barjo tergeletak dan melepaskan Anita. Mulai saat itu ia tidak mau lagi pacaran. Ia menganggap semua lelaki sama saja. Bejat.

Ditulis oleh: Rega Ade Pratama

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: