[Cerpen] Bintang Jatuh

Luna merapatkan jaket yang ia kenakan, embusan angin malam yang dingin mengelus lehernya. Ia kembali memejamkan mata, merasakan aroma malam yang berbaur dengan aroma sedap malam menusuk hidung, matanya menerawang jauh ke atas, melihat ratusan bintang bersinar bak pecahan berlian.

Dulu, dulu sekali ketika ia masih kecil, ia sangat menyukai cerita tentang bintang, apalagi cerita tentang dongeng Ursa Major yang sangat terkenal di Alaska.

“Jadi ibu percaya jika bintang jatuh bisa mengabulkan keinginan kita?” tanya Luna kala itu.

Ibu mengangguk.

Tapi itu dulu, karena sekarang Luna sudah sama sekali tidak percaya dengan semua dongeng tentang bintang, apalagi dongeng bintang jatuh. Itu semua adalah cerita bohong. Sama seperti ibu yang selalu berbohong.

Pintu diketuk dari luar. Ibu masuk ke dalam kamar tempat dirinya dirawat. “Minum obatnya dulu, Sayang.”

Luna melempar obat yang diberikan ibu ke tong sampah. “Aku mau keluar dari tempat terkutuk ini.”

“Tapi kamu harus minum obat dulu, Sayang, dua minggu lagi kamu harus operasi.”

Luna sama sekali tidak menggubris ucapan ibu, ia berlari keluar kamar. Ia sudah muak dengan segala sesuatu di rumah sakit ini. Luna tidak peduli ketika kepalanya berdenyut nyeri ketika ia keluar dari kamar tempatnya dirawat, Luna bahkan membentak seorang suster yang tak sengaja ditabraknya.

Embusan angin malam kembali mengelus lehernya, Luna duduk di bangku taman rumah sakit, merasakan luapan ketidakberdayaan dengan semua yang dihadapinya. Ia kembali memandang bintang di langit. Sebuah cahaya menarik perhatiannya.

Bintang jatuh …, bisiknya.

Luna berlari pelan ke arah jatuhnya cahaya berkilau itu. Kepalanya semakin berdenyut menyakitkan, dan begitu sampai di mana cahaya itu jatuh, Luna melihat seorang remaja seumurannya dengan pakaian serba putih.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Luna begitu sampai di sebelah remaja itu.

“Cincin … di mana cincinku?”

“Cincin apa?” Luna mengangkat sebelah alis. “Tunggu di sini, biar aku panggilkan dokter.”

 

***

 

“Bintang jatuh?” Luna mendecakan lidah. “Kamu bilang kamu jelmaan bintang jatuh?”

Remaja berambut ikal itu mengangguk. “Iya, aku berasal dari rasi Canis Major, aku jatuh ke bumi saat sedang melakukan peredaran bintang. Oh ya, namaku Sirius.”

“Kamu bergurau ya?!” dengus Luna. “Sepertinya kepalamu terbentur saat jatuh tadi.”

“Aku tidak bergurau …” jawab Sirius. “Aku harus mencari cincinku.”

“Sebaiknya istirahat dulu,” ucap suster setelah membalut lengannya. “Tanganmu terkilir.”

“Aku baik-baik saja,” jawab Sirius. “Aku harus mencari cincinku.”

“Dasar cowok aneh.” bisik Luna. “Bintang jatuh katanya, dia pasti bohong.”

“Aku tidak bohong.” Sirius tersenyum. “Kami para bintang tak pernah berbohong. Aku juga bisa membaca hatimu, Luna, sudah lama aku memerhatikanmu dari langit.”

Luna tampak terkejut.

“Sudah kubilang aku bisa membaca kata hatimu,” Sirius kembali tersenyum. “Namamu Luna, mempunyai arti bulan.”

Luna memandang Sirius dengan sinis. Ia merasa lelaki di hadapannya sedang membual. Pembohong.

“Bintang Jatuh tak pernah berbohong …,” kata Sirius lagi, berbohong merupakan hal yang paling dilarang dalam Hukum Langit.”

Luna mendengus.

“Kamu juga harus istirahat, Sayang …,” ucap ibu yang sedari tadi hanya terdiam. “Kamu tidak boleh terlalu lelah, dua hari lagi kamu harus operasi. Semuanya pasti akan baik-baik saja.”

“Aku tidak mau dioperasi!” bentaknya. Luna kembali berlari meninggalkan tempat itu. Ia sama sekali tidak percaya dengan ucapan ibu bahwa semua akan baik-baik saja.

Luna kembali duduk di bangku taman. Air matanya kembali membasahi pipi. Gadis itu merasa ada jutaan jarum yang menusuk kepala dan hatinya, ia sudah dengar pembicaraan ibu dan dokter yang akan mengoperasinya, bahwa kemungkinan keberhasilan operasi tumor otaknya hanya sepuluh persen, dengan kata lain ia akan mati jika gagal dalam operasi itu.

 

***

 

“belum menyerah juga rupanya?” Luna kembali melihat Sirius di taman itu, ia masih terlihat sedang mencari sesuatu. “Cincin apa sih yang sedang kamu cari? Beli saja yang baru di toko.”

“Cincin itu tidak dijual di mana pun, Luna, itu adalah cincin yang diberikan Pengeran Langit untuk para bintang.”

Luna hanya memutar bola mata. “Sudahlah, aku yakin kamu tak akan menemukan cincin itu.”

Sirius tersenyum. “Aku tak akan menyerah untuk mencarinya. Jika aku menyerah, semua manusia di bumi akan sedih karena tak bisa menciptakan keajaiban.”

“Apa maksudmu?”

“Cincin itu bisa menciptakan kejaiban. Bukanlah itu yang selalu dilakukan Bintang Jatuh? Menciptakan kejaiban untuk manusia yang tak pernah menyerah.”

Luna terdiam.

“Begitu pula denganmu, Luna, jika kamu tak pernah menyerah, aku yakin kamu pasti akan mendapatkan keajaiban. Oh lihat … itu cincinnya.” Sirius berlari kearah sebuah kilauan kecil di semak. “Lihat, cincin inilah yang aku maksud.”

Entah untuk alasan apa Luna tersenyum.

“Kamu lihat kan, Luna, jika kita tak mudah menyerah, kita akan mendapatkan apa yang kita cari. Begitu juga denganmu, Luna, tetap semangat, jangan mudah menyerah, teruslah berjuang melawan penyakitmu, aku yakin kamu akan sembuh, kejaiban akan selalu datang dari arah yang tak terduga.”

Luna tersenyum, merasakan ada secercah harapan mendengar ucapan Sirius. Ia benar, selama ini belum menemukan keajaiban karena dia sudah meyerah sebelum mencoba. “Kamu benar, Sirius.”

Keesokan harinya Luna memantapkan niat untuk operasi. Ia mengatakan kepada ibunya bahwa ia akan berjuang untuk sembuh. Ia tidak akan menyerah terhadap penyakitnya.

“Aku mnunggumu di sini,” kata Sirius ketika Luna menuju ruang operasi. “Jangan mudah meyerah, Luna, aku yakin kamu akan sembuh.”

Luna mengangguk, dan selama hampir lima jam di ruang operasi Luna bermimpi ia sedang berjalan di sebuah lorong yang sangat gelap, ia ketakutan Karen di lorong itu tak ada siapun kecuali dirinya.

Sebuah cahaya menyilaukan keluar dari ujung lorong. Luna berlari dan ketika sampai di ujung lorong, ia melihat Sirius memberikan sebuah kotak untuknya.

“Terimalah, Luna, kamu sudah menemukan kejaiban.”

Luna membuka mata dan seketika ibunya langsung memeluk, mengatakan bahwa operasinya berjalan lancar. Ia akan sembuh.

Luna tersenyum. “Terima kasih, Bintang Jatuh.”

 

Ditulis oleh: Ragiel JP

Facebook Comments