cernak maya romayanti

[Cernak] Pertunjukan Sulap Zian

Zian menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

“Duh, apa, ya?” Anak laki-laki sepuluh tahun itu tampak sedang berpikir keras.

Sementara teman-teman sekelasnya asyik dengan proyek mereka masing-masing. Ahmad, Fathan, dan Soni sibuk memotong-motong kardus dan menempel stik es krim. Mereka sedang membuat miniatur stadion. Di bagian kelas lain, Sheila sedang menggoreskan krayon pada gambar. Icha sedang berkutat dengan cerita pendek. Hanya tinggal Zian saja yang belum menemukan ide untuk proyek pribadinya.

Minggu lalu, Bu Intan, sang wali kelas, sudah menanyakan tentang proyek. Saat itu, Zian bilang akan membuat kliping tentang minuman dan makanan favorit. Setelah Zian pikir-pikir lagi, rasanya kurang keren kalau hanya buat kliping. Zian sudah tiga kali berganti rencana, sementara presentasi proyek semakin dekat.

Mulai semester ini, di sekolah Zian ada program baru, namanya Genius Hour. Setiap anak harus menentukan sendiri proyek sesuai minat dan bakat masing-masing. Setelah menemukan ide, anak-anak harus mulai merancang dan membuat proyek. Pada tahap akhir mereka harus menyajikan dan menjelaskan karya mereka di depan kelas.

“Bagaimana Zian? Sudah mulai mengumpulkan bahan untuk kliping kamu?”

Zian terperanjat, Bu Intan tiba-tiba sudah ada di sampingnya.

“Eh, be … belum, Bu. Saya enggak jadi buat kliping,” ujar Zian tak berani menatap wajah gurunya.

“Lho, kenapa? Terus kamu mau buat apa? Lihat! Teman-temanmu semua sudah hampir menyelesaikan proyeknya.” Nada suara Bu Intan agak meninggi.

“Iya, Bu. Pokoknya nanti Zian siap kok kalau harus presentasi,” janji Zian.

“Baiklah, ibu percaya sama kamu.”

Di rumah, Zian makin bingung. Ia sudah telanjur berjanji sama Bu Intan harus segera menemukan proyek untuk presentasi. Zian melangkah ke teras, ada Bang Zain, kakaknya, yang sedang asyik menonton sesuatu di gawai.

“Ngapain cemberut aja?” sapa Bang Zain melihat si adik bungsu yang tampak lesu.

“Lagi bete, Bang. Belum dapat ide buat proyek sekolah, nih,” ujar Zian, menghempaskan badan kurusnya di kursi rotan.

“Daripada bete, lihat ini aja, nih. Keren banget, loh!”

Zian melihat video seorang pesulap yang sedang memainkan trik dengan kartu. Wah, benar kata Bang Zain, keren banget triknya. Aha! Zian pun punya ide.

***

cernak maya romayanti
Sumber: pixabay

Pagi itu, anak-anak kelas 4B berkerumun di depan papan pengumuman. Jadwal presentasi baru saja ditempel oleh Bu Intan. Segera suara-suara celoteh bersahutan.

“Wah, aku tampil pertama, nih,” kata Aliya.

“Lumayan, masih ada waktu untuk menyelesaikan stadionku,” seru Fathan.

“Zian, kamu kapan?” tanya Soni.

“Santai, Bro. Aku masih lama, kok.”

Jari Zian menunjuk tanggal yang tertera di jadwal. Masih tiga minggu lagi Zian akan tampil. Zian tersenyum penuh percaya diri. Tunggu saja tanggal mainnya, gumam anak lelaki bertubuh jangkung itu.

Hari-hari presentasi menjadi saat yang paling ditunggu oleh anak-anak. Bagi yang akan tampil, inilah saatnya menunjukkan kemampuan dan hasil karyanya. Aliya tampil percaya diri memaparkan hewan-hewan di Afrika. Ia membawa miniatur savana yang terbuat dari kardus dengan replika hewan-hewan.

Aldi tampil dengan menggunakan power point, ia memaparkan tentang piano. Aldi juga menampilkan video saat bermain piano di salah satu mall. Teman-teman yang lain pun tak mau ketinggalan, berupaya menampilkan yang terbaik saat presentasi.

Giliran Zian pun akhirnya tiba. Setumpuk kartu sudah disiapkan. Zian akan menampilkan trik sulap seperti yang dilihat di video Youtube. Selama beberapa minggu terakhir, Zian berlatih keras untuk bisa menampilkan pertunjukan sulap di hadapan teman-teman. Zian juga ingin menepati janji pada Bu Intan.

“Zian, sudah siap?” tanya Bu Intan.

“Siap, Bu!” kata Zian mantap.

“Teman-teman, hari ini saya akan menampilkan pertunjukan sulap.”

Zian mulai membuka presentasinya. Rasa gugup yang sedari tadi dirasakan berusaha ditahan. Ia sudah berlatih dan berdoa. Semoga ia berhasil melakukan trik-trik yang selama ini sudah dipelajari.

Perlahan-lahan Zian menata kartu-kartu di atas meja. Hari ini ia akan menampilkan dua trik dengan kartu. Pada trik pertama, ia membagi kartu menjadi empat, setelah terbagi rata saatnya bagi Zian untuk mengambil kartu, ia harus mengambil kartu As. Semua teman memperhatikan dengan saksama. Zian mengambil kartu pertama, teman-teman tampak tegang. Berhasilkah Zian? Saat Zian membalikkan kartu, semua bertepuk tangan dengan gemuruh.

Zian berhasil dalam trik pertama, ia menenukan semua kartu As. Saatnya melanjutkan ke trik kedua. Zian tampak lebih percaya diri. Ia meminta Fathan mengambil sebuah kartu. Kartu yang dipilih Fathan kemudian dimasukkan kembali dalam tumpukan, selanjutnya tumpukan kartu itu dikocok. Beberapa saat kemudian, Zian mengambil sebuah kartu. Kartu itu lalu ditunjukkan pada Fathan.

“Apakah ini kartu yang kamu ambil?” tanya Zian.

“Betul sekali!” ucap Fathan sambil mengacungkan jempolnya.

Kelas 4B gemuruh oleh suara tepuk tangan, Zian berhasil menyelesaikan pertunjukan sulap dengan baik. Teman-teman sekelas merasa terhibur dengan presentasi Zian yang unik. Bu Intan pun tersenyum melihat Zian yang telah menepati janji.  

Ditulis oleh: Maya Romayanti

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!