[Cernak] Pasar Kangen

pasar kangen
Sumber: pinterest

Zen tak sabar menunggu pagi datang. Rasanya malam pun terlalu lama berganti. Maka, begitu ayam jantan berkokok, ia segera merapikan tempat tidur. Bocah lelaki berusia 9 tahun itu berjingkat ke luar kamar. Ia menemui Nenek Pur di dapur.

“Eh, Cucu Nenek sudah bangun,” sapa Nenek Pur yang tengah membuat teh. “Ini masih terlalu pagi, Cah Bagus. Adzan Subuh saja belum terdengar.”

“Tapi Zen nggak bisa tidur lagi.” Bocah berambut kriwil itu menguap beberapa kali. “Kakek janji mau ke Pasar Kangen. Zen mau beli jajanan kayak yang kemarin.”

“Oh, jadah tempe yang dibawa Kakek itu?”

“Iya, enak banget. Katanya beli di Pasar Kangen.”

“Oalah. Pasarnya hanya buka sore sampai malam.”

“Kok, bisa begitu, Nek?”

“Pasar Kangen itu hajatan tahunan di Yogya. Konsepnya pasar jadul. Makanan tradisional dan barang-barang lawas bisa kita temukan di sana.” Nenek Pur menjelaskan.

“Siapa saja boleh datang, kan?”

Nenek Pur tertawa. “Pasar Kangen adalah ajang bernostalgia bagi generasi sebelum kamu,” ujar Nenek Pur lagi.

“Zen tahu,” sela Zen tak sabar. “Orang-orang yang ingin bernostalgia, bisa datang sore hari. Kan, siang mereka bekerja.”

Wah, pinter tenan.”

“Wah, harus nunggu sampai sore, dong,” keluh Zen kecewa.

Zen mengikuti Nenek Pur duduk di sisi tungku. Ia memang tak sabaran. Begitu tiba di desa kemarin sore, Kakek No memberinya jajanan pasar. Ada jadah tempe dan lupis. Zen ternyata ketagihan jajanan tradisional itu. Maklum, selama ini ia dan orangtuanya tinggal di Jakarta. Mereka hanya pulang kampung ketika liburan tiba.

Selepas sarapan, Kakek No mengajak Zen ke pasar hewan. Matahari belum terlalu tinggi ketika mereka tiba. Berbagai hewan dipasarkan. Ada burung, kucing, kelelawar, anjing, dan bahkan ular. Kakek No berharap, Zen bisa terhibur. Namun, cucunya itu tidak terlalu antusias.

“Zen mau ke Pasar Kangen saja, Kek.” Zen merajuk lagi.

***

pasar kangen
Sumber: pinterest

Sesuai janji, Kakek No mengajak Zen ke Pasar Kangen. Kali ini Nenek Pur juga ikut. Ingin bernostalgia, katanya. Belum pukul empat sore ketika mereka tiba. Pengunjung sudah  berdesakan. Dari pintu masuk lokasi pasar, sudah dipenuhi oleh lapak-lapak para penjual. Di panggung utama, tengah berlangsung Tari Jaranan. Tarian tersebut dibawakan oleh anak-anak seusia Zen.

“Kita ke lapak barang antik dulu ya?” ajak Kakek No. “Setelah itu kita bisa berburu makanan tradisional.”

Meskipun tak sabar, Zen menuruti kata kakeknya. Bocah berumur sembilan tahun itu, menggandeng lengan Nenek Pur. Mereka melihat-lihat lapak barang-barang lawas. Ada radio terbuat dari tripleks yang bentuknya unik. Uang kertas dan koin kuno bertumpuk di antara barang-barang yang lain. Ada juga buku dan komik cetakan lama.

Kakek No menjumput selembar foto hitam putih. “Ini suasana sekolah zaman Belanda.” ujarnya kepada Zen.

“Mereka memakai kebaya dan kain ke sekolah?” Zen penasaran.

“Betul sekali.” Nenek Pur yang menjawab. “Tapi zaman itu ndak semua anak bisa ke sekolah. Hanya anak-anak kaya dan beruntunglah yang bisa bersekolah.”

“Nenek benar,” sambung Kakek No. “Zaman sekarang semua serba mudah. Tetapi masih saja banyak yang tidak mau sekolah. Sayang sekali.”

“Zen senang bisa sekolah,” timpal Zen kemudian. “Zen ingin jadi orang hebat. Orang hebat harus pintar, kan?”

Kakek No dan Nenek Pur tertawa senang mendengar ocehan Zen.

“Benda segi empat yang mereka bawa itu, apa?” tanya Zen lagi.

“Oh, itu buku mereka. Namanya sabak,” jelas Kakek No lagi. “Anak-anak zaman dulu daya ingatnya kuat. Tulisannya tidak bisa disimpan seperti buku. Selesai menulis pelajaran, akan dihapus. Lalu berganti pelajaran lain. Begitu seterusnya.”

Puas melihat-lihat barang antik, Kakek No membawa Zen ke lapak-lapak makanan. Zen penasaran dan ingin mencicipi semua yang dilihatnya. Mereka berhenti di lapak penjual buntil. Kata Nenek Pur, dahulu makanan itu terkenal sekali. Sekarang sudah jarang yang membuatnya.

Buntil terbuat dari parutan kelapa yang dicampur dengan teri dan bumbu.” Nenek Pur menjawab rasa penasaran Zen. “Adonan dibungkus daun talas atau daun pepaya. Lalu direbus dalam santan. Ini lauk loh, bukan penganan kecil.”

Karena Zen ingin mencari jajanan, akhirnya Nenek Pur membawa pulang beberapa buntil. Mereka akan menikmati bersama, saat makan malam nanti.

Di lapak jajanan, mereka kembali berhenti. Zen tertarik dengan jajanan berwarna merah, putih dan hijau. Makanan itu lengket, ditaburi kelapa dan gula pasir.

“Ini namanya cenil.” Nenek Pur kembali menjelaskan. “Cenil dibuat dari pati ketela. Sebelum direbus, adonan dibentuk bulat-bulat atau persegi. Lalu diberi warna.”

“Enak sekali!” seru Zen kegirangan. “Kenyal dan gurih.”

Masih banyak jajanan lain yang ingin dicicipi Zen. Tetapi karena hari semakin gelap, Kakek No mengajak pulang.

“Besok kita bisa kembali,” kata Nenek Pur. “Pelajaran hari ini, Zen bisa mengenal berbagai barang dan makanan zaman dulu. Ini adalah bagian dari budaya leluhur kita. Sebagai generasi penerus, penting rasanya mengenal budaya kita, bukan?”

Zen dan Kakek No mengangguk setuju.

***

Ditulis Oleh: Redy Kuswanto

Facebook Comments
1 comment
  1. Selamat ya kak Redy Kuswanto, cerpennya ringan dan bagus, banyak memasukkan unsur budaya lokal. Keren abis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like
Read More

[Cernak] Celana… Oh Celana…

Setiap libur panjang, aku, Nita, Bapak, dan Ibu berkunjung ke rumah Nenek. Nenek tinggal di Giritontro. Desa itu masih jauh dari keramaian. Fasilitas dan hiburan pun masih jarang. Namun, kehidupan masyarakatnya rukun dan damai. Sejahtera seluruh warganya.