cernak lucunya anak molly

[Cernak] Lucunya Anak Molly

“Meong, meong, meong,” begitulah suara Molly yang mengeong sambil mondar-mandir.

“Ayo, cepat ambil kain yang sudah tidak terpakai!” perintah Bapak tergesa-gesa.

“Ya, Bapak,” jawab Laras dan Faiz hampir bersamaan.

 “Nanti kainnya ditaruh di kardus bekas, ya. Kelihatannya Molly akan melahirkan.”

Dengan cepat, Laras dan Faiz segera mencari kain yang tak terpakai. Mereka berdua sibuk, Laras mencari kain dan Faiz mencari kardus. Laras dan Faiz adalah kakak beradik yang  suka dengan kucing. Di rumahnya sudah ada dua ekor kucing, namanya Molly dan Momo. Dan yang akan melahirkan ini namanya Molly.

Tanda-tanda kalau Molly akan melahirkan sudah kelihatan, diantaranya dia sering mondar-mandir sambil mengeong dan  menggaruk-garukkan kakinya. Apalagi usia kehamilannya sudah dua bulan lebih.

 Molly adalah kucing kampung pemberian dari tetangga. Namanya Bude Tini. Beliau juga  suka dengan kucing. Dan salah satu yang diberikan kepada kami adalah si Molly, yang kami pelihara sejak masih kecil dan imut. Bulu Molly berwarna loreng-loreng hitam dan abu-abu. Makanan Molly setiap hari adalah nasi dicampur dengan ikan keranjang yang kata orang itu namanya ikan tongkol. Molly makan dengan lahap sekali. Tidak heran, kalau badannya cepat besar. Kalau tidur biasanya di tumpukan baju-baju.

Setelah kami pelihara beberapa bulan, Molly kalau malam jarang pulang. Pagi harinya dia pasti sudah di rumah minta makan dan kalau sudah kenyang terus tidur.

 “Semalam kamu ke mana?” tanya Laras sambil mengusap-usap kepala Molly.  “Meong, meong, meong,” jawab Molly sambil menggerakkan ekornya ke kanan dan ke kiri.

“Makan dulu, ya, Molly,” kata Laras sambil memberinya makan

Molly adalah kucing kesayangan mereka dan juga kucing yang penurut. Dia lebih banyak diam meskipun sedang lapar. Mudah saja kalau ingin mengetahui  keadaannya, kalau tidur melulu berarti dia kenyang kalau mengikuti Ibu terus ke mana saja perginya pasti dia sedang lapar, karena setiap hari Ibu yang memberi makan dan kadang-kadang juga Mbak Laras. Itupun hanya sedikit sekali dia mengeong.

Setelah kainnya dimasukkan ke kardus dan diletakkan di tempat yang aman dan nyaman,  kemudian Molly dengan sendirinya langsung masuk ke kardus.

“Biarkan Molly sendirian. Kalau ditunggui  terus nanti dia malah stres dan sepertinya sebentar lagi  dia mau  melahirkan.” kata Bapak.

Tapi mereka langsung ingat, “ Ibu kan tidak suka kalau kucingnya bertambah banyak.”

“Jadi bagaimana ya, meyakinkan ibu supaya mau menerina anaknya Molly?” tanya Faiz.

“Iya, ya. Mbak juga bingung nih. Tapi coba nanti saya minta ijin sama ibu supaya mau menerima anak-anaknya Molly. Semoga ibu mengijinkannya.”

Kemudian Mbak Laras, Faiz dan Bapak meninggalkan Molly. Dia sudah berada di kardus yang berisi kain-kain dan semoga dia suka.

Kira-kira satu jam kemudian sudah terdengar suara, meong, meong, meong. Sepertinya suara dari kucing kecil. Laras dan Faiz kemudian mencari arah suara tersebut. Dan ternyata sumber suara tersebut dari anak-anak Molly yang baru saja dilahirkan. Ketika dilihat, Molly sedang menyusui anaknya. Kini Molly sudah melahirkan dan anaknya ada empat ekor. Ada yang loreng-loreng hitam dan abu-abu seperti induknya, ada yang kembang telon dan ada yang putih hitam.

Sore hari ketika Ibu baru  pulang dari kerja,  Faiz langsung memberitahu beliau.

“Ibu, Molly sudah melahirkan, loh,” kata Faiz.

“Oh, ya, anaknya berapa ekor ?” tanya Ibu sambil melihat anak-anaknya Molly.

“Empat ekor Bu,” jawab Laras dan Faiz hampir serempak.

“Wah, warna bulunya bagus-bagus ya, tapi kalau terlalu banyak kucing, Ibu tidak suka. Dan yang pasti jatah makannya juga banyak. Bagaimana kalau sebagian anak-anaknya Molly diberikan kepada dik Arya karena ibunya sudah berpesan kalau Molly melahirkan mau minta anaknya,” kata Ibu .

Mendengar pernyataan ibu, Faiz sudah mulai menangis. Dia tidak mau anak-anaknya Molly diberikan pada dik Arya. Kalau anak-anak kucing dipisahkan dari induknya juga kasihan. Tidak kekurangan akal akhirnya Laras minta ijin sama ibu untuk tetap memelihara Molly dan keempat anaknya.

“Bu, boleh kan anak-anak Molly tetap kita pelihara apalagi anaknya lucu-lucu. Kasihan kalau dipisah dengan induknya. Apalagi dik Faiz sudah menangis loh,” kata Laras.

“Boleh nggak ya. Boleh saja, asal kalian yang merawat anak-anak Molly. Jangan lupa kandangnya selalu dibersihkan dan yang penting selalu dikasih makan ya!” jawab ibu.

 Laras dan Faiz senang sekali mendengar jawaban dari ibu. Kini kucing mereka bertambah banyak. Tak sabar rasanya untuk segera memberi nama pada anak-anak Molly. Ada yang diberi nama, Millo, Miko, Kitty dan Mimi. Yang pasti,  imut dan lucu sekali anak-anaknya.

Ditulis oleh: Dwi Lestari

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!