layang layang putus

[Cernak] Layangan Putus

Terik matahari masih cukup menyengat. Namun itu tak mengganggu Anton dan kedua temannya. Mereka terlihat ceria dan semangat. Sejak tadi mereka asyik menarik-ulur tali layangan yang membumbung.

Anginnyo bagus nian, nih!” pekik Anton sambil menoleh ke kiri, di mana posisi kedua temannya berdiri.

“Iyo, Ton. Tapi sampai sekarang kok belum kelihatan layangan musuh, ya?” balas Andi tetap menatap layangan miliknya. Matanya sedikit menyipit.

“Mereka takut. Layangan Anton sudah menang beberapa kali,” ucap Budi yang tidak sedang bermain layangan.

Budi memang lebih suka menonton. Dia menyukai layangan yang beradu kuat di angkasa. Sesekali dia ikut membantu temannya menggulung benang.

“Haha, oh jelas!” Anton menanggapi.

Angin yang kurang kencang berembus, membuat Anton dan Andi terus menarik benang. Keduanya  langsung menggulung benang pada kaleng yang mereka bawa.

“Siul, dong, biar anginnya datang,” pinta Anton yang tidak bisa bersiul.

layang layang putus
Sumber: id.fanpop.com

Andi dan Budi pun langsung bersiul. Ajaib. Tidak lama kemudian angin berembus kencang. Kembali  layangan mereka pun terbang.

“Kok. bisa ya?” tanya Budi heran.

“Iya, Ton, kamu tahu dari siapa, Ton?” Andi tak kalah heran.

Anton tertawa kecil. “Waktu kecil, aku sering lihat bapak main layangan besar. Nah, bapakku bilang, bersiul bisa memanggil angin.”

Andi dan Budi mengangguk meskipun bingung. Beberapa menit kemudian, Budi melihat ada sebuah layangan dari desa seberang yang mulai meninggi.

“Ada musuh datang!” Budi yang sempat mengantuk, kini segar kembali.

“Oke. Dia belum tahu layanganku!” seru Anton sambil bersiap.

Layangan musuh semakin mendekati layangan milik Anton. Bocah bertubuh jangkung itu mulai mengulur tali. Kini benang layangan mendekati layangan milik  musuh.

Suasana terasa mendebarkan. Budi menatap serius kedua layangan yang semakin  berdekatan. Begitu benang layangan Anton menyentuh benang musuh. Tes! Benang yang dia pegang melemah. Layangan miliknya seketika terombang-ambing di angkasa.

“Kejaaar!” teriak Budi.

Teriakan itu didengar oleh anak-anak yang berada di sekitar lapangan. Mereka pun berlarian mengejar layangan milik Anton. 

Anton hanya diam. Ia pun menggulung benang yang sudah tidak segagah tadi. Ini kekalahannya setelah beberapa kali memenangkan kompetisi di angkasa.

“Sudahlah, nanti beli benang gelasan yang lebih tajam,” hibur Andi begitu melihat wajah sedih Anton.

Setelah benang tergulung semua, Anton pun meninggalkan lapangan. Kecewa, sedih dan  marah menjadi satu. Ketika Andi memanggilnya, Anton tak peduli.

Setiba di rumah, Anton melempar kalengnya secara asal. Bapak berada di ruang tamu, melihat hal tersebut.

“Anton … sini, Nak,” panggil Bapak tanpa ada penekanan.

Anton melangkah, lalu duduk di sebelah bapaknya.

“Ada apa?” tanya Bapak hati-hati.

“Layanganku putus, Pak. Kalah sama layangan desa sebelah.”

Bapak kaget mendengar hal itu. “Ya sudah … namanya juga main layangan.

“Tapi, Pak….”

“Namanya pertandingan, kadang menang, kadang juga kalah.” Bapak masih bicara bijak. “Kamu seharusnya belajar dari bermain layangan. Belajar merelakan.”

Anton menyimak pembicaraan Bapak.

“Semua akan hilang dari kehidupan ini. Daun yang jatuh. Balon yang meletus. Nyawa yang mati. Sama seperti layanganmu yang putus, kan?”

Anton mengangguk. Dia paham apa yang Bapak sampaikan.

“Gimana, mau buat layangan sendiri?” Bapak berdiri, lalu berjalan ke belakang rumah.

Ini yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh Anton. Dia akan belajar membuat layangan. Kini Anton merasa senang, dan sudah bisa merelakan layangannya yang hilang entah di mana. Dia pun mengikuti langkah Bapak.

Setelah mengambil parang di dapur, Bapak menuju kebun belakang. Dia pun bersiul dan bernyanyi kecil.

Kuambil buluh sebatang

Kupotong sama panjang

Kuraut dan kutimbang dengan benang

Kujadikan layang-layang

Tiba di rumpun bambu, Bapak lalu memilih batang bambu yang hijau tua. Dia menebangnya dan membawanya ke tanah lapang. “Kamu mau buat layangan yang seberapa besar?” tanya Bapak.

Anton membentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

“Waduh! Kalau segitu, perlu waktu lama.” Bapak tertawa. “Yang biasa saja.”

Anton mengangguk tanpa protes. Melihat proses pembuatan layangan, membuatnya lupa dengan kekecewaannya.

Bapak asyik memotong, menghaluskan dan mengukur. Bambu yang sudah diraut, kemudian dibentuk kerangka layangan. Kerangka itu disatukan dengan benang. Ternyata, kerangka layangan itu sedikit lebih besar dari yang biasa Anton beli di warung.

“Tinggal kasih kertas, terus diwarnai sendiri,” ujar Bapak lagi.

Anton menerimanya kerangka layangan itu. Dia pun langsung berlari menuju rumah, kemudian mengambil kertas dari kalender bekas. Setelah kertas terpasang, dia memberinya gambar-gambar bintang dan mewarnainnya.

Begitu keluar rumah, ternyata langit sudah mulai gelap. Anton pun menyimpan layangan itu di kamarnya.

“Terima kasih ya, Pak, sudah membuatkan layangan.”

Bapak tersenyum. “Ya, besok lagi sebelum bermain, siapkan hati dulu untuk menerima apa pun kemungkinan yang terjadi dengan layangannya, ya.”

Anton mengangkat tangan, menunjukan sikap hormat. “Siap, Pak!”

Bapak tertawa ringan melihat tingkah putranya.

Ditulis oleh: Nurwahiddatur Rohman

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: