Agar Nasib Hidupmu Tak Berhenti di Ujung Jarimu

Dalam kurun waktu setengah abad terakhir, teknologi komunikasi berkembang sangat pesat dan semakin canggih. Jika dulu kita membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berkirim kabar atau berita, saat ini hanya dalam hitungan detik saja semua berita dapat dikirim dan diterima di seluruh penjuru dunia. Berbagai macam pilihan platform berkirim pesan atau chat yang dapat diunduh dengan mudah di gawai pintar semakin memudahkan kita dalam berkomunikasi.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin memudahkan tersebut, kecenderungan manusia untuk beralih komunikasi lewat media teks (texting) pun semakin besar. Kondisi yang demikian, rupanya membawa perubahan yang besar dalam hal perilaku manusia di era digital ini. Mirisnya, perubahan itu dapat membawa dampak buruk bagi kehidupan manusia itu sendiri jika tidak bijak dalam penggunannya. Perubahan apa saja yang kini terjadi di kalangan masyarakat? Seberapa burukkah dampaknya? Berikut ini paparannya.

  1. Kurang peka terhadap lawan bicara

Perubahan yang sangat kentara dalam hal komunikasi saat ini adalah manusia cenderung melihat ke arah layar daripada menatap ke manusia lain. Pertemuan tatap muka seringkali diinterupsi untuk menjawab chat di gawai. Akibatnya, manusia sekarang ini tidak lagi bisa menangkap isyarat-isyarat yang diberikan oleh orang lain. Kondisi demikian menyebabkan berkurangnya kepekaan dalam hal membaca gerak tubuh dan signal yang dipancarkan oleh lawan bicara. Akibatnya, sering terjadi selisih paham hanya karena tidak terbiasa membaca mimik wajah dan gerak tubuh lawan bicara.

  1. Tidak fokus pada lingkungan sekitar

Perilaku lain yang diakibatkan oleh perilaku texting adalah tidak fokus pada lingkungan sekitar. Sebagai contoh, banyak orang yang berkendara sambil melakukan texting. Akibatnya, tidak sedikit kecelakaan yang terjadi karena perilaku ini. Contoh lain adalah peserta didik yang melakukan texting saat pembelajaran berlangsung. Akibatnya, materi pelajaran tidak dapat diterima dengan baik. Banyak juga kejadian, orang masuk got, terpeleset, atau jatuh terjerembab karena berjalan sambil melakukan texting. Apakah kamu termasuk salah satu dari mereka?

  1. Kreativitas diksi penyebab perselisihan

Sering kali terjadi perselisihan di antara dua orang yang sedang berkomunikasi lewat texting hanya karena pemilihan diksi yang tidak tepat atau karakter huruf yang membingungkan. Terkadang diksi dan tanda baca yang digunakan dapat menimbulkan salah persepsi sehingga menyebabkan adanya selisih paham. Hal ini terjadi, karena intonasi membaca pesan dalam teks berbeda dengan bicara langsung. Umumnya, pesan dalam teks akan dibaca sesuai dengan kondisi kejiwaan masing-masing penerimanya. Hal itu akan semakin parah jika tulisan yang digunakan adalah perpaduan antara huruf dan angka, seperti yang banyak dilakukan oleh kalangan anak alay. ‘6w 3nt4 5af y’ (gue minta maaf, ya) adalah contoh kode tulisan anak alay zaman now yang menyulitkan bagi pembacanya. Walaupun kreatif, namun ternyata kebiasaan itu membuat mereka tidak mampu bercakap dengan baik terhadap orang lain.

  1. Nyali hanya sampai di ujung jari

Jika dulu ada ungkapan ‘Mulutmu harimaumu’ yang artinya bila tidak hati-hati bicara, maka bisa terjadi selisih paham dan terkena masalah, maka sekarang ada ungkapan baru yang berbunyi, ‘Jempolmu harimaumu.’ Dua jempol yang menekan tombol di layar sentuh gawai saat ini aumannya dapat lebih keras daripada bicara langsung. Dan ternyata kebiasaan ini berdampak negatif. Sudah menjadi rahasia umum, saat ini banyak orang yang berani mengungkapkan perasaan atau curhat lewat media sosial, tetapi tidak mau (berani) mengutarakan secara langsung saat bertatap muka. Bahkan, banyak yang berusaha ‘menembak’ cewek atau cowok lewat chat. Sehingga muncul kesimpulan bahwa nyali manusia zaman now hanya sampai ujung jempolnya saja. Nah, hati-hati ya! Jangan sampai kita masuk dalam kategori ini.

  1. Mengarah pada perilaku eskapis

Masalah komunikasi pun tak hanya sampai pada pembahasan nyali di ujung jari. Saat ini muncul kecenderungan orang berperilaku eskapis yang negatif. Banyak orang yang ingin menghindar dari berbagai macam kesulitan, terutama dalam hal menghadapi masalah yang seharusnya diselesaikan secara wajar. Lihat saja, banyak kasus besar seperti pemutusan hubungan kerja, perceraian, atau memutuskan hubungan hanya lewat texting saja. Padahal seharusnya semua itu dilakukan dengan cara tatap muka sebagai bentuk komunikasi yang mementingkan sisi kemanusiaan.

  1. Menderita kecemasan

Komunikasi lewat texting memang tidak seperti komunikasi langsung. Terkadang lawan bicara tidak langsung membalas pesan yang dikirimkan. Bagi orang tertentu, hal itu dapat menimbulkan rasa cemas bahkan curiga. Kemudian timbul pertanyaan, mengapa tidak dibalas? Apakah ada yang salah? Apakah sedang marah? Bahkan kadang bagi pasangan sampai berburuk sangka, mengira sedang selingkuh. Kecemasan yang tidak perlu ini mengirimkan signal bahaya yang membuat tubuh seakan berada dalam kondisi wawas diri terus menerus, sehingga otak menjadi cepat lelah karena kesal dan tegang berkelanjutan.

Enam hal yang dipaparkan di atas adalah bagian dari texting syndrome. Jika hal itu dialami oleh seseorang secara terus menerus, maka dapat menimbulkan bahaya bagi dirinya dan orang yang ada di sekitarnya.

Apa yang seharusnya dilakukan agar kita tetap dapat menyesuaikan perkembangan zaman namun dapat meminimalisir dampak buruknya? Cobalah letakkan gawai dan berhenti texting sejenak. Buatlah quality time bersama keluarga tanpa gawai. Nikmati waktu dengan berbincang dan bercanda bersama orang-orang sekitar. Jika ada hal penting yang ingin dibicarakan, ajaklah lawan bicara bertemu langsung agar lebih nyaman bicara. Dengan bicara langsung, kita dapat dengan cepat merespon isyarat-isyarat yang diekspresikan oleh mimik wajah dan gerak tubuhnya. Bijaklah dalam menggunakan bahasa, tetap utamakan etika. Lalu, saat berkendara, hindari aktivitas texting agar perjalanan lancar tanpa kendala. Semua itu perlu dilakukan agar nasib hidupmu tak berhenti di ujung jarimu.

 

Ditulis oleh: Maria Ulfa

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!