ZONA ABAL-ABAL PPDB

Tahun ini Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) telah berubah. Bukan hanya namanya yang berubah, sistemnya juga. Entah keren yang mana, tapi dulu namanya Penerimaan Siswa Baru (PSB) dan sekarang berganti menjadi PPDB. Sebelum PSB, namanya hanya terdiri dari tiga huruf: PMB (Penerimaan Murid Baru) dan sebelumnya lagi, eh, enggak ada ding.

Ya, walaupun tidak signifikan tapi kenapa senang sekali bergonta-ganti nama. Kenapa negara tidak mengajarkan kesetiaan. #eaa. Ya, setia dengan satu singkatan. Kalau PSB ya PSB terus. Jangan berubah-ubah, kita jadi bingung kan? Jangankan siswa atau orangtua, lha wong kitanya saja yang guru juga bingung. Apalagi para panitia PMB atau PSB atau PPDB tersebut. Membikin bingung orang lain itu kan dosa, apalagi ini yang dibuat bingung para pahlawan; pahlawan tanpa tanda jasa. Kualat tahu rasa. #Pasangmukasangar

Tahun ini, aku menjadi panitia PPDB atau PMB atau PSB, halah kelamaan, untuk selanjutnya aku pakai bahasa yang kekinian: PPDB titik. Seperti biasa sebelum dilaksanakan, pasti mengadakan rapat dan koordinasi terlebih dahulu. Berhubung tempat rapat tidak terlalu banyak, daripada bilang tidak punya, maka kami rapat di ruang tamu kepala sekolah. Beruntung panitia PPDB hanya 15 orang jadi ruang itu cukup untuk rapat.

Rapat dimulai pukul 9 pagi, pas waktunya istirahat. Guru tidak bisa korupsi waktu mengajar. Kepala sekolah memang Top Markotop, tahu aja celah-celah korupsi. Rapat dipimpin oleh Pak Sukar, biarpun namanya Sukar namun dia mudah berorasi, berdiplomasi dan MC. Makanya dia dinobatkan sebagai wakil kepala sekolah bidang hubungan masyarakat (Humas). Semua guru dan karyawan Tata Usaha (TU) sudah kumpul. Bu Kepala Sekolah sudah stand by di kursinya. Kursi yang menghadap ke timur dan menantang matahari terbit. Itu adalah satu-satunya kursi yang menghadap ke timur. Kursi kebesarannya. Tidak ada yang berani menduduki, sebab takut kualat menjadi kepala sekolah. Kecuali yang berniat dan berambisi menjadi kepala sekolah tentu selalu ingin merasakan nikmatnya duduk di singgasana tersebut.

Kursi-kursi yang lain ada yang menghadap ke barat, ke utara dan ke selatan. Kalau kita mau mendengarkan dan melihat bu kepala sekolah, tinggal arahkan saja kepala kita ke arah barat. Nah, pasti ketemu. Seperti biasa, panitia inti seperti ketua, sekretaris dan bendahara sudah ditunjuk oleh kepala sekolah. Dan ini lebih efektif dan efisien, daripada, ketika bertemu baru membentuk panitia inti. Kalau tidak ditunjuk lebih dulu, nanti saling tunjuk dan saling lempar. Iya kalau yang dilempar hanya omongan dan kata-kata, kalau yang dilempar asbak, meja, kursi kan jadi anarkis. Walaupun itu tidak mungkin terjadi, paling pol saling melempar tanggung jawab; siapa yang mau menjadi ketua panitia PPDB? Itu yang jadi masalah sehingga bu kepala sekolah mengantisipasi. Dan itu menurutku tok cer dan pilihan yang tepat.

Walaupun di awal semester sudah ada sih, tim atau panitia setiap kegiatan sekolah. Dari panitia kegiatan PPDB, Ulangan Tengah Semester (UTS), Ulangan Akhir Semester (UAS) dan kegiatan yang lain. Namun itu baru tim utuh, belum ada dan belum ditentukan siapa ketua, siapa sekretaris, siapa bendahara, siapa yang mengurusi makanan. Eh, makanan enggak ding. Pokoknya teamwork-nya sudah terbentuk di awal semester. Dan hari ini, rapat menentukan tupoksi (tugas pokok dan fungsi). Apa yang mereka harus kerjakan dan kapan deadline pekerjaan itu disetor ke sekretaris. Pekerjaan kepanitiaan itu harus dibagi. Tidak mungkin kan, seluruh pekerjaan kepanitian PPDB diserahkan kepada sekretaris. Apalagi bila sekretarisnya itu aku. Aku pasti langsung tiarap atau melambaikan tangan tanda menyerah. Kalah.

Tet. Pas pukul 9 kami mulai acara. Tidak perlu basa-basi, sebab kami mengejar waktu, waktu mengajar lagi maksudnya. Pak Sukar langsung membuka rapat dan membacakan susunan acara yang mau dijalani. Tentu saja hampir sama dengan acara di manapun, pasti acara dibuka dengan pembukaan, enggak mungkin kan acara dibuka dengan penutupan. Kalau gitu enggak jadi rapat dong. Nah, berhubung sebagian besar anggota panitia PPDB beragama Islam maka permbukaan menggunakan Basmallah. Setelah itu, waktu langsung dioper kepada ibu kepala sekolah. Sebagai pimpinan tertinggi sekolah ini, beliau tentu memberikan wejangan, nasehat, pengarahan, pembinaan dan amplop. Maunya sih amplop.

“Assalamu’alaikum. Bapak dan ibu guru, untuk PPDB tahun ini ada perubahan lagi,” ucap bu kepala sekolah dengan nyaring.

Dia berhenti sejenak dan menarik napas dalam-dalam. Dia berhenti bukan karena kata perubahan tersebut namun memang dia susah bernapas. Tubuh beliau sudah tidak proporsional, dengan kata lain “gembrot” eh, gendut. Dia membetulkan posisi duduk dan melanjutkan ucapannya. Kami masih menanti dengan was-was, apakah perubahan itu.

“Kalau tahun yang lalu kita sudah sistem RTO (Realtime Online) maka sekarang ditambah dengan zonasi.”

Zonasi? Aneh benar istilah itu. Yang biasa kami dengan zona aman menyeberang, zona peperangan dan zona zoni. Eh, siapa itu zona zoni?

“Zonasi itu adalah jarak rumah dari sekolah. Jika jarak rumah ke sekolah dalam radius 1km maka berapa pun NEM wajib diterima di sekolah kita.”

Begitu mendengar kata wajib kami langsung ternganga, takjub. Lebih tepatnya heran. Siapa pula yang membuat aturan itu? Kami harus menerima siswa dengan nilai berapapun. Itu artinya siswa yang nilainya di bawah standar nilai kami, harus tetap diterima. Duh.

“Terus nanti bagaimana kalau melebihi kuota bu?” tanyaku.

“Ya, diutamakan yang jaraknya paling dekat,” jawabnya.

Dengar-dengar sih, pemerintah menjalankan program itu karena berharap semua sekolah itu sama. Tidak ada sekolah favorit-favoritan. Tidak ada sekolah eklusif. Semua sekolah itu sama. Sama?

Apapun dampak kebijakan zonasi itu, kami harus mematuhi dan itu sungguh dilema. Dan rapat panitia PPDB pun selesai dengan informasi baru tentang zonasi.

***

Hari H pelaksanaan PPDB pun tiba. Kami sudah menduduki pos masing-masing. Pak Sukar sesuai kemampuannya dia menjadi humas, wira-wiri. Sesekali memegang mik memberi penjelasan tentang ruang dan tata cara pendaftaran. Pak Iriyanto, guru TIK kami juga sudah siap di posnya, pos verifikasi pendaftaran. Sementara aku aku duduk manis sesuai pekerjaan, sekretaris PPDB. Mencatat, menerima berkas, memberikan berkas, menanda-tangani, memberikan lagi kepada pendaftar, eits, sebentar-sebentar, pekerjaanku kok lebih banyak ya? Sungguh itu lebih banyak dari pekerjaan ketua Tim. Ketua Tim hanya wira-wiri dan sesekali memegang mik mengarahkan para pendaftar dan itu disandang Pak Sukar.

Entry data pendaftar pun segera berjalan. Satu per satu pendaftar dimasukan dan diverifikasi. Namun yang menjadi konsen kami tentu tentang zonasi. Tiba-tiba datang seorang ibu-ibu.

“Pak, ini tetangga saja, depan rumah zonanya kok bisa beda. Padahal kami berdekatan. Aku tertulis 1km tetapi dia kok bisa 500 meter,” protesnya.

Hm, mulai deh zonasi memakan korban. Aneh juga kalau berdampingan jarak rumah ke sekolah kok bisa beda. Seharusnya sama kan, mau dikata naik unta, bus atau go car sekalian tetapi jaraknya tidak berubah. Kecuali rumahnya itu rumah keong atau siput yang dibawa kemana-mana. Lah, ini rumahnya ditinggal. Aneh.

“Maaf bu, coba tanyakan ke kelurahan sebab yang membuat zonasi itu kelurahan bukan sekolahan. Sekolahan itu hanya tergantung sistem dan sistem seperti itu. Yang zonasinya lebih dekat maka pendaftar itulah yang diterima,” jawabku panjang lebar sampai bibir berbusa.

Program Zonanisasi yaitu program penerimaan siswa yang lebih mengutamakan siswa yang dekat dengan sekolah. Jadi berapapun nilai siswa tersebut harus diterima asalkan dapat membuktikan bahwa jarak rumahnya tidak jauh dari sekolah. Bagaimana cara membuktikan? Dia atau orangtua meminta surat keterangan dari kelurahan yang menyatakan kalau radius atau jarak rumahnya dekat dari sekolah.

Itu yang membuat masalah di sekolah. Padahal nih ya, kalau mau obyektif dan valid tinggal pakai GPS saja, pasti masalah kelar. Tidak perlu perkiraan jarak. Kalau hanya kira-kira entar bisa meleset atau bahkan salah seperti yang terjadi kepada dua tetangga di atas. Tetapi ya itu biarpun menggunakan alat yang canggih dan kredibel kalau mentalnya kolusi dan nepotisme ya sudah jarak bisa diakalin. Misalnya jaraknya 1km terus ditulis 500 meter atau kurang, berhubung masih saudara atau family ya sudah, wassalam.

Zonasi abal-abal itu akan melemahkan para siswa dan orangtua bila nilai berapapun bisa diterima asal dekat. Bahkan penulis mendengar seorang siswa yang kecewa dengan dirinya setelah tidak diterima padahal NEM-nya bagus.

Mak, aku rasah pinter-pinter wae. Mending ra pinter sing penting cerak soko sekolahan1),” kata siswa kesal.

Miris sekali mendengar ucapan seperti itu. Betapa hidup menjadi tidak adil. Dia berjuang sungguh-sungguh agar dapat diterima di sekolah. Sesampai di sekolah dia dikalahkan oleh sistem. Kemudian perjuangan untuk dapat diterima di sekolah itu sirna kalau ternyata NEM yang dia perjuangkan tidak dapat menolongnya.

Ada baiknya pihak kelurahan mempunyai alat yang lebih canggih menentukan zonasi siswa, ya paling tidak memiliki GPS (Global Positioning System). Dengan bantuan GPS tentu, para aparat kelurahan bisa menentukan posisi lebih baik dan akurat. Pada akhirnya tidak ada yang dirugikan, baik siswa, orangtua maupun pihak sekolah. Semua senang, semua menang. Semoga. *)

1) Mak, aku tidak perlu pandai. Lebih baik tidak pintar yang penting dekat dengan sekolah.

Ditulis oleh: Jack Sulistya

Reviewer: Oky

2 thoughts on “ZONA ABAL-ABAL PPDB”

  1. Sisi lain zonasi yang positif menurut saya sih, tiap anak berkesempatan bisa mengenyam pendidikan. Karena lebih miris lagi kalau tetangganya gedung sekolah tapi dia nggak bisa sekolah. Ini sepertinya meniru konsep sekolah di Jepang ya? Biar orang tua nggak kesulitan antar jemput anak dan bikin macet jalan karena rumah di pucuk Utara sekolahnya di pucuk Selatan kota. Hehehe

  2. Jadi kasihan sama yang udah berjuang di un, tapi kenyataannya malah enggak berguna ,kalau begitu apa gunanya ikut les sore ,belajar siang malem ,konsultasi guru ,tanya sana-sini .
    Memang sisi positifnya semua anak dapat mengenyam pendidikan ,tapi apa memang kuantitas lebih baik dari kualitas ? Bayangkan di perang , ribuan kukang (lambat) menyerang kastil, dibandingkan seratus singa ganas yang cepat . Mana yang lebih beepengaruh ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *