Yen Wedi Ojo Wani-wani, Yen Wani Ojo Wedi-wedi *)

Judul di atas mengingatkanku tentang kisah yang pernah kualami. Sekitar 10 tahun lalu saat aku menjadi guru baru. Sudah lama memang. Tetapi sampai sekarang masih teringat terus. Sebagai guru baru dan penuh idealis, ya begitu itu. Ada kurang dikit protes, ada salah dikit protes. Pokoknya berharap bahwa apa yang terjadi itu sesuai dengan tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi).

Apalagi ini berhubungan dengan tugas pengawas sekolah. Tugas pengawas yang pandai mengarahkan para guru agar begini dan begitu. Maka wajar kan sebelum dia mengarahkan, dia melakukan terlebih dahulu. Itu cukup logis kan? Begitu pun tuntutanku terhadap mereka. Pernah suatu hari ada booming berita tentang pengawas. Kalau tidak salah ingat, para pengawas yang ada di DIY dan paling banyak di Sleman dan Kulonprogro yang copy paste. Kemungkinan di daerah lain ada juga sih.

Nah, menurut sumber berita tersebut, disinyalir banyak administrasi pengawas yang copas (copy paste). Padahal administrasi itu berupa berkas untuk penilaian mereka. Lucunya portofolio mereka sama persis. Hanya data diri yang berbeda, lainnya sama saja. Lah, apa mungkin portofolio kok sama. Padahal wajarnya dan seharusnya portofolio itu ya harus sesuai dengan kemampuan dan kegiatan mereka. Hal itu menjadi aneh saat semua sama. Seolah seperti orang mengerjakan PR terus semua PR itu sama semua. Kalau benar, benar semua dan kalau salah, salah semua.

Peristiwa ini memicuku untuk menuliskan di kolom Opini surat kabar Kedaulatan Rakyat. Langsung deh kutulis apa adanya, dengan judul “Pengawas Yang Perlu Diawasi.” Judul yang menohok dan catchy untuk dibaca. Kebetulan naskah opiniku dimuat di koran tersebut. Sudah deh, heboh para pengawas di DIY. Aku tahu kehebohan itu, ya dari salah satu pengawas yang kebetulan kenal denganku. Dia yang menceritakan dan dia santai saja sebab tidak melakukan copas. Mungkin kalau melakukan jadi kebakaran jenggot.

Bahkan ada yang meneleponku segala.

“Apa maksud Bapak menulis tentang pengawas?” tanyanya.

“Saya hanya mengungkapkan kenyataan dan harapan, Pak,” jawabku mantap.

Aku agak lupa siapa nama orang itu. Namun yang jelas dia seorang pengawas. Belum cukup sampai di situ. Pimpinanku, kepala sekolah, juga sudah mengetahui kabar tersebut. Namun dia juga tidak mempermasalahkan. Hanya yang aku sesalkan, kepala sekolah memintaku membuat surat pernyataan. Surat pernyataan yang berisi permintaan maaf dan tulisan itu tidak bermaksud apa-apa. Duh, kok tulisanku berasa tidak punya arti.

Untuk menghormati pimpinan, aku terpaksa membuat surat penyataan tersebut. Namun aku kok merasa jadi orang yang salah dan terdakwa. Padahal aku hanya menuliskan apa yang terjadi, fakta yang ada. Namun banyak orang yang terancam dan terpojok dengan tulisan itu. Padahal aku menulis itu hanya ingin mengungkapkan fakta. Ini lho ada fakta seperti ini. Makanya sebelum mengawasi atau membina, pengawas harus bisa menjadi contoh terlebih dahulu. Minimal membuat karya atau portofolio dengan ide dan cara sendiri.

Lah, ini malah bertolak belakang dengan tugasnya. Harusnya menjadi contoh malah membuat malu. Tidak perlulah menuntut ini dan itu terhadap guru, wong pengawasnya saja masih suka ikut-ikutan. Maka kuungkaplah fakta tersebut. Namun aku malah tersudut seperti ini. Ya sudahlah. Nasib orang yang suka protes dan menuntut. Namun janganlah aku dijadikan kambing hitam. Seharusnya aku menjadi whistle blower (peniup peluit =pembongkar masalah).

Sekarang aku berjalan sendirian. Orang yang dekat denganku pun diam dan mungkin takut. Ada teman kerja yang dekat, dia juga diam saja. Mungkin mau kasih solusi namun tidak tahu caranya. Mau ikut membela, takut salah. Sehingga aku dibiarkan menghadapi seorang diri. Mungkin peristiwa itu sungguh menakutkan, khususnya bagi guru PNS. Bagaimana pun para guru adalah binaan para pengawas. Lah, kalau pengawasnya kagol (kecewa) tentu berimbas kepada guru yang membuat kecewa tersebut.

Aku hanya berharap masih ada para pengawas yang baik dan bersih. Untungnya masih ada, waktu aku ketemu dia, pengawas tersebut, dia diam saja. Bercakap dan bercanda seperti biasa, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tulisanku tidak memengaruhi hubunganku dengannya. Walaupun masih ada pengawas lain yang meributkan. Tetapi biarlah, bukan pengawasku juga.

Bahkan ada salah satu pengawas, aku cukup mengenalnya. Dia dulu menjadi kepala sekolahku. Sehingga dia hafal betul diriku yang suka menulis. Dia sempat-sempatkan datang ke sekolah dan menemuiku. Katanya sih klarifikasi tentang tulisanku tersebut. Okelah, mungkin dia banyak tekanan di ruang kerjanya. Bagaimanapun aku dulu kan anak buahnya. Jadi logis sekali bila dia yang dikirim untuk ‘menjinakkanku.’

Setelah dia datang ke sekolah, aku diminta menemui oleh kepala sekolah. Setelah bicara ngalor-ngidur, kemudian membicarakan inti kedatangannya. Dari nada bicaranya, dia ‘seolah’ memihakku. Malah terkesan dia ingin menjadi pahlawan di mataku, dengan mengatakan bahwa aku biasa nulis dan tidak bermaksud apa-apa. Itu pengakuannya, yang dia katakan di hadapan teman-temannya. So, dia membelaku.

Setelah ‘kunjungan’ tersebut, aku tidak melakukan apa-apa. Tidak melakukan klarifikasi ke koran atau ke dinas. Ya, walaupun agak beresiko tetapi biarlah. Aku yakin Gusti Allah mboten sare (Allah tidak tidur). Dia lebih tahu yang sebenarnya. Dan seharusnya apa pun itu kalau suatu kebenaran walaupun pahit, tetap harus diterima. Yang penting tujuannya baik. Akui dan perbaiki diri. Begitu.

Malah kalau merunut kejadian-kejadian di Indonesia, aku harusnya mendapat reward (penghargaan). Penghargaan sebagai penyelamat pengawas dari mencontek. Ini berlebihan ya? Ya, minimal mereka bersukur dan berterimakasih telah diingatkan. Biarpun cara mengingatkannya sedikit kejam dan memalukan. Lah, kalau tidak seperti itu, lalu bagaimana caraku mengingatkan pengawas. Secara hierarki, aku dibawahnya. Malah aku kadang menjadi anak buah dan juga binaannya.

Namun ya kembali ke pribadi masing-masing. Ada yang diingatkan lalu berterimakasih dan memperbaiki diri. Ada yang diam saja namun dia memperbaiki diri. Ada juga yang diam saja dan membalas dendam. Alhamdulillah, kalau soal balas dendam sepertinya tidak ada. Mungkin Allah telah berbaik hati mengirimkan seorang pengawas yang amanah. Pengawas yang baik hati dan pengawas yang tidak kolot. Yang pernah protes dan tidak suka kepadaku, kayaknya sudah dijauhkan. Aku jarang bertemu dan dia tidak menjadi pengawas pembinaku. Syukurlah.

Malah pengawasku sekarang benar-benar membimbingku. Aku banyak belajar dari dia. Tentang segala hal, dari administrasi guru, sikap dan juga cara berpikir. Kita sangat akrab bahkan kadang kami seperti dua orang sahabat. Padahal dia seorang pengawas. Secara struktural kedudukannya di atasku. Namun dia tidak gila hormat dan tidak mengharap kami menghormati secara berlebihan. Biasa saja. Yang penting tugas sebagai guru dapat berjalan dengan baik dan sesuai kriteria pengawas.

Dia juga profesional. Di kala harus bertugas, ya harus serius. Tidak peduli, aku teman atau bukan. Semua sama rasa dan sama rata. Mungkin juga Allah mengirimkan pengawas kepadaku untuk menunjukkan bahwa masih ada pengawas yang baik. Masih ada pengawas yang amanah dan bernar-benar mengawasi guru binaannya. Eh, bukan mengawasi tetapi membina dengan baik. Itulah pengalamanku yang mengharuskan aku sedikit banyak repot oleh tulisan.

Banyak hal yang kita tulis bisa merubah cara berpikir, cara bersikap dan cara berbicara. Namun kembali ke judul tulisan ini. Jika yang kita tulis tentang kesalahan orang, kekeliruan instansi atau apa pun, tetap ingat “Yen wani ojo wedi-wedi, yen wedi ojo wani-wani.” Mantapkan hati kita saat mau menulis bahwa yang kita tulis mempunyai tujuan yang baik, ditulis dengan cara yang baik dan melalui media yang baik. Dengan cara seperti itu kita akan terhindar dari masalah berikutnya. Kalau pun terjadi masalah, yakinlah Allah akan membantu dengan cara-Nya. Insha Allah.

                                                                                                            Ditulis oleh : Joko Sulistya
                                                                                                Guru yang masih harus belajar

Reviewer: Hapsari Titi Mumpuni

Keterangan:

*) Yen wani ojo wedi-wedi = kalau berani jangan pernah takut

    Yen wedi ojo wani-wani = kalau takut jangan sok berani

Baca Juga:   Ketika Guru Salah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *