Wisata Pikiran dan Kabar Facebook Akan Tutup  

“Wisata adalah bepergian bersama-sama (untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang, dan sebagainya),” kata Kamus Besar Bahasa Indonesia

Akhir-akhir ini, ramai diberitakan bahwa facebook akan diblokir di Indonesia. Kabar ini menimbulkan berbagai reaksi para pengguna media sosial. Ada yang galau jika nanti kenangan yang pernah diunggah akan lenyap, ada pula yang resah karena bakal kehilangan lahan untuk berburu pasangan. Tentu masih banyak lagi reaksi-reaksi para pengguna facebook yang tidak sanggup saya jabarkan di sini.

Benar tidaknya kabar ini masih belum jelas. Saya sebagai pengguna facebook belum pernah mendapat surat pemberitahuan resmi terkait rencana penutupan facebook. Entah karena facebook lupa menyimpan email dan data based saya atau memang ada masalah teknis sehingga pihak facebook tidak bisa mengirim surat pemberitahuan resmi kepada para penggunanya. Tentu saja pemilik facebook lebih kompeten mengirim pesan secara broadcast ketimbang emak-emak penjual kosmetik yang tiap pagi dan sore mengirim broadcast ke inbox akun-akun yang berteman dengannya.

Kalau saja kabar ini benar, dan facebook ditutup, pasti banyak orang bakal kecewa. Saya salah satunya, bakal kehilangan destinasi wisata pikiran yang selama ini terlalu menyenangkan bagi saya. Iya, facebook telah jadi obyek wisata bagi saya, dan mungkin juga orang-orang yang selama ini merasa memiliki keterbatasan dana untuk mengunjungi Gurun Sahara, Madagaskar, Menara Eiffel atau Hutan Pinus yang ada di dekat rumah saya. Meskipun kadang punya dana, tapi waktunya tidak ada. Kan, mesti punya dana dan waktu luang untuk berwisata ke tempat-tempat instagramable seperti itu.

Kenapa saya lebih suka berwisata di facebook ketimbang di tempat-tempat instagramable?

Pertama, karena saya tak selalu punya dana untuk berwisata ketika punya waktu luang. Pun sebaliknya, karena saya tak selalu punya waktu luang ketika punya dana untuk berwisata. Jadi, ya lupakan saja angan-angan ke Gurun Sahara, Madagaskar, atau Menara Eiffel. Mimpi beneran tuh.

Kedua, karena tampang saya pas-pasan. Saya kawatir akan merusak citra wisata yang instagramable itu, saat mengunggah foto saya yang sedang berwisata. Bakal merugikan pengelola tempat wisata. Karena bakal banyak yang batal berkunjung setelah melihat foto saya di sana.

Ketiga, karena saya tak selalu punya dana untuk membeli semua buku yang saya suka. Jadi, cukup legowo membaca tauziah pemikiran dan nasihat-nasihat para penulis idola yang di-share di fanspage facebook.

Misalnya, artikel-artikel di fanspage trenlis.co, mojok.co, atau basabasi. Sangat menyenangkan sekali jika setiap saat bisa tahu artikel terbaru yang diposting di sana tanpa bolak-balik buka websitenya melalui browser. Tak perlu ribet dan bisa dinikmati sambil memantau yang lagi trend di media sosial.

Atau yang seperti ini: Penulis luar negeri, “Saya merampungkan naskah buku ini selama 4 tahun karena saya harus riset dan wawancara lebih dari 500 pemimpin perusahaan di 20 negara.” Penulis lokal, “Jujur saja ya, saya merampungkan buku ini selama 4 tahun karena memang rasanya males banget garapnya. Nggak mood nulis soalnya. He … maklum ya!” #MasaDepanPenulis (diambil dari akun facebook Dwi Suwiknyo)

Bikin adem dan menginspirasi, kan? Ini gratis loh. Tidak perlu sowan ke rumah beliau atau janjian bertemu di Gurun Sahara, Madagaskar, atau Menara Eiffel yang tentu saja saya bakalan tidak bisa hadir saat penulis-penulis keren itu bertauziah di sana. Facebook benar-benar wonderfull, pokoknya.

Kira-kira besar mana sih biaya yang dikeluarkan Mark Zuckerberg untuk membangun facebook dibanding biaya pembangunan Menara Eiffel? Besar mana biaya operasional facebook dibanding operasional Menara Eiffel? Banyak mana jumlah pengunjungnya perhari?

Secara pasti, barang kali kita tidak bisa menjawabnya, kecuali punya data angka-angka. Namun, maksud dari pertanyaan di atas sebenarnya bukan untuk membandingkan berapa besaran angkanya. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa facebook dan Menara Eiffel sama-sama dibangun dan dikelola dengan uang. Membutuhkan biaya. Sama-sama harus melewati tahap perencanaan, realisasi, dan evaluasi. Sama-sama memiliki tujuan. Hanya wujudnya saja yang berbeda.

Menara Eiffel ada penampakan fisiknya, sedangkan facebook bentuknya program, bukan bentuk fisik. Apakah kita bisa bersenang-senang saat berkunjung di Menara Eiffel dan facebook? Iya, tentu saja. Orang-orang akan merasakan kesenangan saat berkunjung ke sana.

Untuk pergi ke Menara Eiffel, butuh berjuta-juta untuk bisa sampai ke sana. Sedangkan facebook, tidak perlu berjuta-juta. Cukup punya paket data atau wifi, dan modal perangkat handphone atau komputer.

Di Menara Eiffel orang-orang bisa mendapatkan pengetahuan. Tentang sejarah, pemikiran, dan keindahan yang ada di sana. Di facebook pun kita bisa mendapatkan edukasi, dan menangkap pemikiran-pemikiran. Begitu juga dengan keindahan, cukup menikmati foto dan caption postingan orang-orang yang sedang wisata yang berseliweran di beranda.

Mari kita ingat kembali definisi kata wisata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kalau tidak ingat, coba baca kembali paragraf pertama tulisan ini. Hehe. Bukankah saat ini orang-orang sudah ramai mengunjungi facebook dengan tujuan memperluas pengetahuan, bersenang-senang, dan lain sebagainya? Orang-orang berwisata dengan objek yang diciptakan oleh pikirannya masing-masing dari hasil visualisasi yang disajikan oleh facebook. Barangkali malah facebook sudah merenggut sebagian besar ruang kebahagiaan dalam hidup kita. Uwow! Benarkah?

Kalau facebook tutup, saya kawatir bakal kehilangan hiburan. Kehilangan tempat wisata yang mengasikkan. Kehilangan tauziah pemikiran dari para penulis idola. Juga kehilangan drama perang komentar yang diadu domba oleh penjual berita pencitraan.

#savewisatapikiran

Ditulis oleh: Seno NS

Reviewer: Hapsari T. M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *