Warna-warni Komunitas : Yang Manakah Pilihanmu?

sumber: pixabay.com

Akhir-akhir ini, jumlah komunitas memang sangat banyak. Ada komunitas menulis, traveling, fotografi, craft, motor, parenting, hewan, dan komunitas-komunitas lainnya. Banyak sekali. Tahu dari mana? Coba tengok kolom komunitas di koran-koran lokal maupun nasional. Pasti akan ada berita tentang komunitas yang namanya pun terdengar luar biasa.
Menjamurnya berbagai komunitas ini, kadang membuat sebagian orang bingung memilih. Kadang karena kebingungan, mereka menunda atau malah membatalkan niat untuk masuk dalam sebuah berkomunitas. Begitu pula sebaliknya, munculnya berbagai komunitas, membuat sebagian orang tergoda untuk bergabung dengan semua komunitas yang ada di depan mata. Walaupun akhirnya, mereka menjadi tidak fokus dan kurang optimal dalam komunitas tersebut.
Sebenarnya, masalah seperti ini, hanya akan membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk fokus dalam kegiatan yang mereka ikuti. Nah, fenomena seperti ini bisa diminimalisir dengan 5P. Apa sih 5P itu? 5P adalah manfaat dalam berkomunitas, yakni passion, pengalaman, pertemanan, positive vibes, dan portofolio.
Ah gaya! Pengalaman berkomunitas saja dijabarkan dengan definisi segala! Sebenarnya bukan mau bergaya, tapi agar lebih jelas dan ringkas menjelaskannya, maka poin dalam 5P ini bisa dipakai untuk menyaring, memilih, dan bergabung dalam suatu komunitas.  Intinya, rumus 5P ini membuat kita semakin cerdas memilih komunitas. Mau tahu apa saja 5P itu? Penjelasannya sebagai berikut :
Passion
Ya, pilihlah komunitas sesuai passion. Jangan ikut-ikutan. Passionnya masak, milih komunitas menjahit. Apa jadinya? Masakan gosong, jahitan nggak jadi. Eh, tapi apa sebenarnya passion itu? menurut kamus Merriam-Webster, passion adalah keinginan, sikap, dan antusiasme yang kuat dan konstan akan suatu kegiatan atau barang.
Jadi, jika berkomunitas sangat erat hubungannya dengan passion. Maka memilih komunitas berkaitan dengan sejauh mana seseorang mengenali dirinya sendiri. Intinya, sebelum bergabung dengan komunitas, tanyakan pada diri sendiri, benarkah bidang ini passion-ku? Apa iya kegiatan di komunitas ini termasuk passion-ku?
Contoh kecil, saya baru menceburkan diri ke dalam dunia komunitas tahun 2005. Komunitas pertama saya ini, ruang lingkupnya tidak jauh-jauh dari teman-teman masa SMA. Aktivitas kami saat itu berhubungan dengan kegiatan sosial. Agenda kami adalah bakti sosial ke daerah-daerah terpencil di kaki Gunung Menoreh, Gunung Kidul, Gunung Merapi, atau Gunung Merbabu. Di komunitas ini, semuanya serba sukarela. Kegiatannya pun baru bisa berjalan apabila ada dana dan solidaritas antara donatur juga relawan.
Tapi, semua anggotanya terlihat bahagia bergabung di komunitas yang serba minim ini. Salah satu rahasianya karena semua yang bergabung memiliki passion yang sama. Jadi, perlu diingat, jika kegiatan dalam komunitas tersebut membuat ketagihan, mata berbinar bahagia, dan kita tidak pernah capek mengerjakannya, itu berarti komunitas tersebut sesuai dengan passion kita.
Pengalaman
Dengan berkomunitas, kita pasti mendapatkan ilmu dan kepernahan. Ilmu yang kita dapatkan bisa sejurusan atau satu konsentrasi dengan ilmu akademik. Bisa juga baru dan belum pernah kita pelajari sama sekali.
Sedangkan kepernahan, apa artinya? Ini salah satu ‘nilai’ dari pengalaman yaitu pernah. Pernah mengalami. Pernah merasakan. Kepernahan ini adalah semboyan yang sering didengungkan oleh guru saya di sekolah menegah dahulu dan masih teringat sampai sekarang. Kepernahan itu berarti siap menerima, mengalami, dan merasakan hal-hal baru di luar aktivitas rutin yang sering kita lakukan. Ibaratnya, kita siap mengosongkan gelas untuk ilmu dan pengalaman baru. 
Seperti di tahun 2010, saat itu saya bergabung dengan sebuah komunitas relawan sebuah LSM, komunitas profesional pertama yang saya ikuti. Saya bergabung sebagai relawan bahasa untuk YKBH Bandung. Sebuah organisasi nirlaba yang concern pada zero waste. Di YKBH, posisi relawan bukan sekedar relawan, kami diberi uang saku sekaligus sertifikat. Treatment-nya pun berbeda karena organisasi ini bekerja dengan LSM asing. Ilmu yang saya dapatkan di YKBH benar-benar baru. Saya sama sekali tidak paham tentang ilmu biologi, masalah sampah, ataupun perubahan alam. Nah, di sinilah kepernahan itu mewujud. Selain itu, saya juga dituntut untuk mau menerima, mengosongkan gelas, dan belajar tentang hal baru yang belum didapatkan sebelumnya.
Pertemanan
Ini sudah jelas, bahwa dengan bergabung di komunitas berarti kita mendapat teman-teman baru. Berkenalan dengan orang-orang yang satu passion. Jika hubungan kita baik, maka kita akan bertemu dengan teman-teman yang konsisten dan komitmen dengan passsion mereka. Bahkan tak menutup kemungkinan, akan terbuka pintu menuju kesempatan-kesempatan yang lainnya.
Contoh nyata seperti komunitas TPY ini, Temu Penulis Yogyakarta. Komunitas ini diinisiasi untuk mewadahi para penulis dan calon penulis untuk sharing tentang tetek bengekdunia kepenulisan. Yang ditawarkan oleh tim perumus TPY bukan hanya kesempatan untuk menghasilkan buku, tapi juga kesempatan untuk menjembatani anggotanya saling berbagi, mengembangkan diri, dan berkarya di dunia kepenulisan.
            Positive Vibes
            Poin penting nih, karena di dalam sebuah komunitas, pasti ada energi positif yang memengaruhi tumbuh kembang komunitas tersebut. Sebab landasannya sudah jelas, ada ketertarikan yang sama dari para anggota dalam komunitas tersebut. Energi positif itu bisa dalam bentuk semangat berkarya, belajar, atau semangat untuk berbagi dengan orang lain.
Salah satu komunitas yang selalu melahirkan positive vibes untuk saya dan mungkin juga para memberlain adalah Komunitas Ibu Profesional. Komunitas yang lahir pada tahun 2011 ini mengelola ribuan anggota baik di Indonesia maupun di luar negeri. Kunci bagaimana komunitas ini bisa eksis dan memiliki ribuan member ada pada sistem di komunitas dan role model atau figurnya.
Jika sistem-nya sudah bekerja untuk membangun energi positif di dalam komunitas. Maka role model dalam hal ini founder, menjadi pondasi dan tolak ukur para member untuk memasang milestonedan target dalam hidup. Intinya, kunci positive vibes ini satu, komunitas itu membuat anggotanya semakin bersemangat membenahi kekurangan diri dan memiliki goalatau pencapaian yang lebih baik dari sebelumnya.
Portofolio
            Nah, ini salah satu benefit  berkomunitas. Portofolio bisa menjadi “tabungan” anggota komunitas. Pengalaman ketika bergabung dengan komunitas tertentu bisa berbuah positif. Terutama jika komunitas tersebut mempunyai arsip atau data keanggotaan yang lengkap, memberikan sertifikat penghargaan untuk member yang berkontribusi dalam komunitas, memiliki unit pemberdayaan anggota, sistem koperasi, atau bahkan memberikan hibah beasiswa bagi para member.
Upgradesistem seperti beberapa poin yang saya jabarkan di atas cukup penting, karena bargaining position komunitas akan semakin kuat. Sistem seperti ini juga sedang diinisiasi oleh Komunitas Ibu Profesional.  Alasannya pun jelas, karena upgrade sistem akan memberi banyak peluang dan manfaat bagi anggotanya untuk berkembang. Tentunya, peluang dan manfaat itu bisa menjadi portofolio anggota selama berada di komunitas tersebut. Di samping itu, portofolio bisa digunakan juga pada kesempatan-kesempatan tertentu. Pertukaran pelajar contohnya. Asyikkan!
Ada satu hal yang perlu digaris bawahi, setiap komunitas memiliki aturan mainnya sendiri. Komunitas juga mempunyai kode etik yang harus ditaati. Oleh karena itu, ketika berada di komunitas tertentu, hormati peraturan yang ada, dan hargai para penggerak atau pengurus yang sudah meluangkan waktu untuk membangun komunitas. Mudah sekali!  
Jadi, sudah siap dong memilih dan mensortir komunitas mana saja yang sesuai dengan rumus 5P di atas! Selamat bergabung di komunitas yang baik, bermanfaat, dan membahagiakan!
//–//
Ditulis oleh: Wahyu Mardhatilah.
Mom blogger, content writer

5 thoughts on “Warna-warni Komunitas : Yang Manakah Pilihanmu?”

  1. YKBH itu singkatan dari apa yaa, mba?
    Yang saya tahu Yayasan Kita dan Buah Hati-nya Bu Elly Risman.

    Tapi ternyata mengelola sampah.
    Hiihi…pasti sayanya yang miss understanding niih…

    Suka banget sama pemaparannya.
    Haturnuhun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *