Tips Menulis Novel Remaja dengan Metode Tiga Babak



Temu Penulis Yogya (TPY) meet up untuk kali ke lima, Minggu, 24 September 2017 di Pendopo Tahfidz, Sutopadan. Kali ini TPY menghadirkan tiga orang narasumber untuk berbagi ilmu dan pengalaman menulis. Gari Rakai Sambu yang biasa disapa Mas Gari adalah salah satu narasumber yang menyampaikan materi mengenai bagaimana menulis novel remaja.


Mengapa sih harus menulis novel?

Begitulah pertanyaan pertama yang terlontar dari Mas Gari kepada para peserta. Penulis novel remaja kelahiran Bandung pada 13 Juni 1987  silam ini berbagi alasan mengapa harus menulis novel.

“Semua penulis harus memiliki reason atau alasan agar konsisten menulis, misalnya alasan mencari uang, dll. Contoh reason lainnya misalnya dengan karyanya yang baik akan mampu mengubah dunia menjadi lebih baik,” ujarnya dengan mengarahkan pandangan mata kepada para peserta seolah berharap jawaban lain dari para peserta yang hadir.

Sebagai salah satu peserta yang hadir satu itu, saya sangat setuju dengan pernyataan Mas Gari bahwa dengan menulis novel akan mampu mengubah dunia menjadi lebih baik. Alasan ini yang paling kuat mendorong saya untuk belajar menulis novel. Kenapa begitu? Ya, karena saya seorang pendidik. Ada sesuatu yang mengganjal selama ini terkait dengan gerakan literasi di sekolah yang mewajibkan setiap siswa membaca buku selain buku pelajaran selama lima belas menit sebelum memulai jam pertama pelajaran di sekolah.

Setiap kali mendampingi peserta didik dalam kegiatan membaca selama 15 menit, keprihatinan sering kali menggelayuti ruang hati dan pikiran saya. Betapa tidak prihatin jika seringkali saya temui buku-buku bacaan yang tidak bermutu. Novel remaja yang sering dibaca murid-murid saya yang duduk di bangku sekolah menengah pertama tak lain dan tak bukan bercerita seputar cinta remaja yang kurang mendidik. Walau  ada, jarang  saya temui novel yang menceritakan seorang tokoh utama yang memiliki karakter kuat memperjuangkan masa depannya demi menjadi generasi muda yang berkualitas yang siap ikut ambil bagian dalam pembangunan nasional negara kita.

Saya pribadi berpikir buku bacaan adalah nutrisi bagi otak pembacanya. Jika buku bacaan itu bagus, maka pembaca akan memperoleh asupan gizi yang baik bagi otaknya, dan sebaliknya. Jika buku yang mereka baca berkisah tentang orang-orang berpacaran, maka tak heran jika masa remaja saat ini kebanyakan mengidentikkan masa remaja sebagai masa romantis untuk berkasih sayang antar lawan jenis meski pun dengan dalih saling menyemangati belajar sekali pun. Tak jarang anak-anak SMP seringkali kepergok mojok di sudut-sudut ruang kelas atau belakang gedung sekolah untuk berbagi kasih dengan sang pujaan hati pada saat jam istirahat atau setelah usai jam sekolah. Bahkan seringkali guru terpaksa ngoprak-oprak siswa yang bandel tidak segera pulang karena asyik berduaan dengan sang pacar. Waduh, kok malah curhat ini ya?  Maafkeun, saya.

Pada prinsipnya, saya sangat berharap melalui TPY saya dapat menulis novel remaja yang berkualitas. Saya ingin bisa menulis novel remaja dengan menghadirkan tokoh utama yang memiliki karakter kuat dan patut diteladani agar kaum remaja tumbuh menjadi generasi muda yang berkualitas,  yang siap ikut serta memajukan bangsa dan negara Indonesia tercinta.


Lalu, bagaimana caranya menulis novel remaja? Mas-Mas dan Mbak-Mbak Bro, ayo kita simak yang berikut ini.

Pada umumnya, menulis novel remaja sama dengan menulis novel lainnya. Dalam kesempatan itu, Mas Gari menyampaikan cara menulis novel menggunakan tiga babak. Seperti apakah menulis novel dengan tiga babak? Yuk, kita intip bersama tips menulis novel dengan tiga babak yang dibagikan Mas Gari.

Pada babak pertama, menulis novel remaja  bermula dengan mengenalkan karakter atau tokoh utama. Babak pertama adalah babak awal menceritakan kepada dunia tentang bidang personal, profesional dan privacy  tokoh utama.

Untuk memperkenalkan bidang personal tokoh utama, kita dapat menjabarkan kehidupan karakter utama dalam melakukan pekerjaanya sehari-hari. Kita dapat memperlihatkan (showing) apa yang dilakukan si remaja di lingkungan rumah atau sekolanya. Kita juga perlu memperlihatkan masalah apa yang dialami sehingga tokoh utama mengalami ketidaksempurnaan dalam hidupnya. Apakah keluarganya mengalami broken home, apakah dia sering di-bully oleh teman sekelasnya, apakah dia merasa tidak percaya diri, dll.

Sedangkan untuk memperkenalkan kehidupan profesionalnya, kita dapat menceritakan hubungan karakter utama dengan sekolahnya. Apakah ekskul yang ia ikuti? Bagaimanakan mutu sekolahnya? Jika yang diceritakan tokoh utamanya anak SMP, maka tidak ada salahnya memperlihatakan kehidupan profesionalnya ketika masih mengenyam pendidikan di bangku SD dan atau TK.

Terakhir, dalam bidang privat kita dapat memperlihatkan bagaimana tokoh utama menghabiskan me time-nya. Apakah ia menjalankan hobinya? Apakah ia menyendiri duduk termenung? Apakah ia nongkrong sendirian di suatu tempat? Apakah ia berdoa atau sembahyang?

Pada intinya, babak pertama adalah perkenalan tokoh utama dan ketidaksempurnaan hidup yang dialaminya. Misalnya, tokoh utama adalah siswa SMP yang berprestasi ketika masih duduk di bangku sekolah di SD.

Bagian kedua dari babak pertama adalah tokoh utama menyadari ia mendapatkan masalah dalam menjalani hidupnya. Bagian ini adalah titik awal cerita bermula. Tokoh utama mulai berpetualang untuk menemukan jalan keluar mengatasi masalahnya sehingga ia dapat mencapai kehidupan ideal yang ia impikan. Misalnya, tokoh utama bertemu dengan sekelompok teman yang berperangai buruk di  sekolah sehingga ia mulai terjebak ke dalam salah pergaulan yang menghalanginya untuk meraih impiannya untuk menjadi pelajar yang berprestasi seperti yang telah ia raih ketika di SD. Pada bagian ini juga diperlihatkan bagaimana tokoh utama mulai sadar bagaimana seharusnya ia keluar dari salah pergaulan sehingga berlanjut pada babak kedua.

Pada babak kedua, tokoh utama sudah memiliki tujuan dan menghadapi rintangan dalam mencapi tujuan. Tujuan adalah babak yang menceritakan bagaimana tokoh utama menyelesaikan masalah dan rintangan adalah konflik yang dialami tokoh utama dalam meraih tujuannya atau menyelesaikan masalahnya. Dalam contoh kali ini, tujuan tokoh utama adalah keluar dari salah pergaulan. Dalam menyelesaikan, tokoh utama mengalami berbagai rintangan, baik yang berasal dari faktor internal tokoh utama itu sendiri atau faktor eksternal.

Akhirnya, babak ketiga dari novel adalah resolusi. Pada babak ini, penulis novel memperlihatkan hasil upaya tokoh utama dalam menyelesaikan masalah. Hasilnya bisa jadi  gagal mencapai tujuan (sad ending), berhasil mencapai tujuan (happy ending), atau  kombinasi antara berhasil dan gagal mencapai tujuan (bitter sweet ending).

Di akhir sesinya, Mas Gari juga membocorkan sedikit rahasia dapur agar novel kita mampu menjebol gawang redaktur penerbit mayor. Pertama, buatlah sinopsis yang menjelaskan semua isi novel. Kedua, ikuti trend industri cerita yaitu cerita yang membuat orang penasaran sejak awal hingga akhir.

Demikian ya tips yang dibagikan Mas Gari untuk calon-calon novelist hebat yang mampu mengubah dunia menjadi lebih baik dengan melahirkan karya-karya novel hebat yang mampu menginspirasi para penggemar novelnya menjadi orang-orang hebat. 

Ah, jadi ingin segera bisa nulis novel nih, saya. Edisi meyakinkan diri saya sendiri mampu menulis novel, walau pun sama sekali belum pernah berpengalaman menulis novel, he he he. Apalagi bersama TPY, saya yakin bisa. 

Semoga bermanfaat dan selamat mencoba serta berkarya, ya Guys!



Ditulis oleh: Widayati. Penulis kelahiran Sleman, 20 Maret. Saat ini aktif sebagai seorang pengajar bahasa Inggris di SMP N 1 Turi. Mulai aktif menulis sejak 2016. Dapat dihubungi via wa: 081804344104, email: widayati.izwa172@gmail.com

6 thoughts on “Tips Menulis Novel Remaja dengan Metode Tiga Babak”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *