Tips Menulis Dongeng Seperti di Buku 101 Dongeng Sebelum Tidur

Sumber gambar: Akun Facebook Redy Kuswanto

Dari kabar angin yang tersiar melalui diskusi antara para penulis dan distributor buku tercatat bahwa buku-buku anak masih memegang rekor buku terlaris. Menariknya, padahal harga buku anak cenderung sedikit lebih mahal dibading buku genre lainnya. Entah fenomena ini akan bertahan sampai berapa lama, yang jelas hal ini menyiratkan peluang bagi penulis untuk menyeriusi genre anak.

 
Salah satu penulis yang sedang serius bergerak aktif di genre anak adalah Redy Kuswanto. Sebelumnya nama Redy Kuswanto meledak melalui novel remaja yang dia tulis. Tidak tanggung-tanggung, novel yang berjudul Karena Aku Tak Buta berhasil menyabet juara satu lomba novel “Seberapa Indonesiakah Dirimu” yang diadakan oleh penerbit Tiga Serangkai. Momentum ini kemudian dijadikan Redy sebagai pelecut lahirnya novel-novel berikutnya. Seperti novel Jilbab Love Story, dan novel Cinta dan Dendam yang Tak Akan Membawamu Kemana-mana.
Seolah tak ingin terjebak pada satu genre tulisan saja, Redy mulai menekuni buku anak hingga beberapa buku anak telah lahir dari kreativitasnya. Salah satu bukunya yang menarik perhatian adalah 101 Dongeng Sebelum Tidur yang diterbitkan oleh penerbit Laksana Kidz. Buku yang berisi 80 dongeng Nusantara dan 21 dongeng dunia ini telah tersebar di seluruh toko buku Gramedia di Indonesia. Konon kabarnya sebagian keuntungan dari buku ini Redy donasikan untuk Museum Anak Kolong Tangga.
Minggu (10/9) kemarin buku 101 Dongeng Sebelum Tidur ini dibedah habis-habisan dalam acara Temu Penulis Yogyakarta. Mulai dari penggalian ide, pencarian referensi, proses penulisan, pembuatan ilustrasi, hingga strategi marketing menjadi bahan perbincangan yang menggiurkan. Bedah karya buku anak ini seolah menjadi oase bagi dahaga para penulis yang hadir di forum tersebut. Iya, sebagian besar dari penulis yang hadir di forum TPY memiliki minat kuat untuk menggarap buku anak.
Secara garis besar, dari bedah buku tersebut bisa disimpulkan ada 4 tips menulis dongeng yang diungkapkan Redy. Apa saja itu?
Pertama, pahami inti cerita.

Menulis dongeng berbeda dengan menulis cerpen atau novel. Jika pada umumnya merancang ide cerita, alur, membangun setting, dan menciptakan tokoh wajib dilakukan ketika menulis cerpen atau novel, maka dalam menulis dongeng hal itu tidak mutlak harus dilakukan. Kita hanya perlu memahami inti cerita yang sudah ada, kemudian menulis ulang. Penulis tidak menciptakan cerita dongeng yang baru, melainkan menulis ulang kisah yang sudah tersebar luas dan dikenal banyak orang.

“Kunci utama untuk bisa menulis ulang sebuah cerita dongeng adalah memahami inti ceritanya. Pahami pesan apa yang ingin disampaikan, alur cerita, karakter tokoh utama, setting yang dipakai, juga pahami adegan intinya. Ketika menuliskan ulang cerita tersebut jangan sampai melenceng dari poin inti yang sudah ada.” Redy memaparkan.

Kedua, jabarkan atau ceritakan kembali menggunakan gaya tulisan kita.

Di tengah diskusi, seorang audiens bertanya, “bagaimana Mas Redy mengantisipasi plagiarism? Sedangkan tadi dikatakan bahwa tulisan dalam buku ini ditulis ulang dari kisah dongeng yang sudah ada sebelumnya. Apalagi ditulis ulang dengan gaya tulisan kita. Apa nggak takut dituntut sebagai plagiat, tuh?
Dongeng itu milik siapa, sih? Siapa penciptanya?” Redy menjawab pertanyaan audiens. “Dongeng itu berkembang dari cerita orang-orang, dari mulut ke mulut. Dari kakek buyut ke cucunya, dari orang tua ke anak-anaknya. Mereka kalau ditanya pun tidak bisa menjawab dengan pasti bahwa dongeng A miliki si B. Yang terjadi selama ini adalah orang-orang menceritakan yang mereka dengar, menuliskan cerita dari kisah yang mereka dapatkan dari orang lain. Kalau dikatakan plagiat, kita memplagiat karya siapa?

Bisa saja seorang penulis dituduh plagiat, jika mereka tidak mengubah sama sekali cerita dongeng tersebut lalu mengkomersilkannya. Misalnya mengambil cerita dongeng dari buku lain, lalu diterbitkan dalam buku baru dengan mengklaim bahwa buku itu dia tulis sendiri. Berbeda halnya jika mengambil kisah dongeng sebagai referensi, lalu menuliskan ulang ceritanya dengan gaya tulisan yang berbeda, tapi tidak keluar dari konteks pesan dan cerita yang ingin disampaikan.
 

Redy Kuswanto, Penulis buku 101 Dongeng Sebelum Tidur

Ketiga, hidupkan karakter tokoh melalui dialog, deskripsi, atau menyematkan nama yang khas.

Tokoh yang karakternya pemarah akan lebih hidup ketika dalam dialognya selalu menunjukkan kata-kata ketus, kasar, dan tambahan tanda seru di dalamnya. Bisa diperkuat lagi dengan deskripsi gurat wajah yang mencolok dengan tatapan mata tajamnya, sedikit senyum, dan lain sebagainya. Teknik-teknik seperti ini sangat berguna untuk menguatkan karakter tokoh dalam sebuah cerita.

“Ada beberapa cerita yang saya tulis, nama tokohnya saya ciptakan untuk menghidupkan karakter tersebut. Misalnya tokoh Mohu, dari monyet hutan, Anka dari anjing kampong, ini saya pakai di buku 30 Fabel Asal Mula. Dalam penulisan dongeng yang tokohnya sudah punya nama, nggak boleh diganti. Tapi boleh untuk binatang yang hanya disebutkan jenisnya, misal anjing, kucing, dll.” Redy menjelaskan.

Keempat, jika perlu tambahkan atau kurangi adegan untuk memperkuat alur cerita.

“Pada prinsipnya mengurangi atau menambah adegan boleh-boleh saja asal tidak mengurangi esensi cerita aslinya. Tidak mengubah alur utama. Ada saatnya seorang penulis harus menghilangkan beberapa adegan untuk memenuhi target jumlah halaman yang ditetapkan penerbit.” (Redy Kuswanto, penulis buku 101 Dongeng Sebelum Tidur)

Jika adegan kuncinya adalah Malinkundang di kutuk ibunya, jangan dihilangkan. Atau menambahkan adegan ibu Malinkundang ikut menjadi batu karena penyesalannya. Penambahan adegan yang tidak tepat seperti justru akan merusak logika cerita. Harus berhati-hati dalam hal ini. Jangan sampai terjebak kemudian malah merusak esensi cerita yang indgin ditulis.
Maaf, Mas Redy …, apakah penambahan dan pengurangan adegan ini juga bisa dipakai untuk memperkuat alur cerita dalam penulisan dongeng?
Bisa banget. Untuk mendramatisir dan memperkuat karakter, bisa ditambah dialog-dialog sesuai porsinya; nggak keluar dari konten. Mengurangi juga bisa, terutama untuk penyesuaian konten dan audience (pembaca) sejauh inti cerita dan pesannya tersampaikan.

Nah, Gaes …. Itulah tips menulis dongeng seperti di Buku 101 Dongeng Sebelum Tidur yang dibocorkan oleh Mas Redy Kuswanto. Semoga bermanfaat dan bisa menambah semangat kita untuk lebih produktif berkarya. (Seno NS)
Salam literasi.

Ditulis oleh: Seno NS, Founder Blogerclass.

1 thought on “Tips Menulis Dongeng Seperti di Buku 101 Dongeng Sebelum Tidur”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *