Tips Menulis Buku Non Fiksi Seperti Buku Muslimah Antibaper

Buku Muslimah Antibaper (sumber: FB Kayla Mubara)

           “Kok bisa sih, nulis buku setebal ini?”

Pertanyaan itu ternyata tidak bisa dijawab dengan satu atau dua kata saja. Saya tertarik sekali menjawab di sini, biar jika ada yang bertanya lagi, tinggal minta padanya untuk ketik kata kunci ‘Tips Menulis Buku Non Fiksi Seperti Buku Muslimah Antibaper’. Begitu saja, tanpa perlu ngetik, atau menyusun ulang kata-kata.
Tidak perlu panjang di opening, biar tidak pening, mari kita simak bersama tips berdasar pengalaman kami ini.
1.    Tentukan Target Pembaca.
Ya iya,dong. Masa kita menulis tanpa target pembaca yang jelas. Semakin spesifik, maka akan semakin mudah mengumpulkan data, dan bahasa yang digunakan.
Memang, ada buku-buku yang ditujukan bisa dibaca oleh semua pembaca, namun, Buku Muslimah Antibaper ini spesifik untuk muslimah. Dari usia remaja dewasa, desawa, sebelum, dan sesudah menikah. (kenyataannya, tetap layak baca bagi muslim).
2.    Membuat Konsep Buku.
Sebelum memutuskan untuk menulis, aturan sudah ada konsepnya. Ini sebagai pedoman agar kita tidak akan melompat dari pagar, batas-batas naskah yang semestinya ditulis.
Siapa yang membuat konsep?
Bisa satu di antara tim penulis, atau seperti kami, Pak Dwi Suwiknyo yang menjadi konseptornya. Beliau yang meramu meracik sedemikian rupa bab per bab, sehingga nanti bisa dibayangkan sedekat 5 cm (udah plek judul film dan buku, kan?) bagaimana wujud buku saat naik cetak. Saat dibaca oleh pembaca.
3.    Bagi Job Menulis.
Saya mohon maaf, bila pemakaian kata job ada yang merasa kurang pas. Setidaknya, saya coba menggambarkan, bahwa naskah harus dibagi-bagi pada empat penulis (kami). Bisa saja jika Teman-teman ingin membuat Tim, terdiri dari lima, atau bahkan tiga orang saja.
Karena kami berempat, kami juga kebetulan membahas empat hal. Maka satu orang mendapat jatah satu bab. Pembahasan tersebut disesuaikan dengan latar belakang kehidupan kami. Misalnya saja, untuk bagian Love, ditulis oleh Dik Ratna yang masih single. Di bab ini memang membahas bagaimana memaknai kehidupan muslimah sebelum menikah. Jadi, kehidupan pribadi yang menjalani akan menjadi kekuatan, atau energi tersendiri ketika menulis tentang hal yang berkaitan dengan hidupnya.
Tiga penulis selain Dik Ratna, membahas hal lain. Apa saja yang dibahas? Bisa cek langsung bukunya, ya …
Konsep dari buku ini, sengaja mengangkat keunikan masing-masing penulis. Tidak memaksakan gaya bahasa harus sama persis, tapi saling melengkapi. Memiliki satu model menulis yang mirip, namun tetap dengan gaya masing-masing. (tentu saja saya sedang tidak merasa unik, terus  jadi layak dipajang, ya?).
4.    Riset oleh Penulis.
Setelah masing-masing penulis menerima job tadi, kami langsung riset. Karena di sini saya yang menulis tips, maka saya juga bocorin apa yang saya lakukan, ya? apa saja itu?
Pertama, saya membaca sub bab yang ada. Saya ingat-ingat, buku apa yang pernah saya baca, dan membahas hal itu. Tanpa saya prediksi, dua tahun yang lalu, saya membeli dua buku, dari dua orang teman. Dan subhanallah, buku-buku itu membahas bahasan yang akan saya tulis. Terus, sebelum dan saat saya menikah, saya mendapat hadiah buku dari suami, isinya berkaitan juga dengan naskah yang akan saya tulis. Ada lagi, buku-buku tebal yang saya beli dari teman, ternyata ada bahasan mendukung juga.
Kedua, saya menuju rak buku kami. Saya ambil buku-buku tersebut, dan tumpuk di dekat laptop. Sedikit agak sadis ini, karena saya berpesan pada suami, “Pokoknya buku-buku ini enggak boleh disenggol-senggol. Aku saja yang disenggol.” Hihihi.
Ketiga, saya mulai mencari bab yang pas dengan apa yang akan saya tulis. Saya tandai, dan baca saat menjelang tidur. Biasanya, suasana sekitar sudah sepi. Semua sudah pada tidur. Biasa lah, namanya juga Mamah Rempong yang sedang belajar nulis. Ada saja cara yang bisa ditempuh. Misal, jika anak-anak, dan suami tidur, ya saya ikut tidur. Eh, kadang saya baca dan nulis maksudnya. (ikut tidur itu juga bagian dari fakta).
Keempat, mencari referensi cerita nyata masa sahabiyah, dan cerita nyata sendiri yang tercecer di sana-sini. Ini untuk melengkapi pembahasan sub bab dalam buku. Beberapa cerita, saya ambil juga dari sumber on line, baru cek ke buku, yang kebetulan buku itu ada di rak kami.
Gimana jika buku tidak ada dalam rak?
Karena dana saya terbatas, saya ke perpustakaan.
Gimana kalau perpustakaan jauh, atau tidak ada?
Oh, bisa unduh aplikasi perpustakaan digital.
Gimana kalau enggak ada fasilitas unduh-unduhan di HP?
Ya sudah, telan bulat-bulat alasan, serta berhenti saja mimpi mau nulis buku. (eh, maaf, jadi sadis lagi, nih). Selalu ada cara bagi yang serius ingin mencapai cita-cita.
5.    Mulai Menulis.
Menulis  lebih cepat, daripada 4 poin sebelum ini. Kecuali bagi saya. Saya kadang bisa setor saat sudah selesai per sub bab. Tapi, pas saya ini menemui kendala, misal ketemu pembahasan yang kudu baca buku lagi. Harus cari referensi lagi. Maka, saya menjeda setoran, demi baca-baca lagi. Hmm … sayangnya, saya type kadang khilaf, baca keasyikan, bablas baca, alarm ngetiknya lupa saya nyalakan. Jadi deh baru sadar saat lihat teman sudah setor tulisan lagi, dan saya belum. (ini enggak usah ditiru deh, ya?).
6.    Self Editing.
Oya, sebelum naskah disetorkan, saya membaca ulang dulu. Mengedit semaksimal saya. Bila masih berantakan, otomatis karena kelemahan saya, bukan kesalahan yang mendapatinya (membaca). Hehehe.
7.    Tidak Sungkan Bertanya.
Nah, ini yang kadang bikin kita mandeg. Menemui masalah dalam menulis, tapi tidak mau tanya. Entah karena alasan sungkan, atau bimbang. Saya sempat mengalami sungkan. Mau tanya, agak malu. Tidak tanya kok sudah membuat jeda. Akhirnya, saya pun bertanya pada konseptor. Waaah, dan ternyata jawabannya membuat saya melongo. Merasa terlambat bertanya, karena maksud dari yang saya tanyakan bukan lah-hal yang sulit. Kebayang, ya, bila tidak jadi bertanya? Akan lebih lama mandegnya. Atau ada yang bilang writer block.
Ternyata, ada tujuh tips menulis Buku Non Fiksi Seperti Buku Muslimah Antibaper, yang bisa saya tulis. Kekurangannya silakan bisa ditambahi, kelebihan anggap saja bonus, tapi maaf tidak ada hadiah payung, meski sudah musim  hujan.
Best Regard
Kayla Mubara.

2 thoughts on “Tips Menulis Buku Non Fiksi Seperti Buku Muslimah Antibaper”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *