Tiga Makna, Tiga Cerita Perihal Jodoh

Apa yang terlintas dalam pikiran saat pertama kali mendengar kata jodoh?

90% orang menjawab bahwa jodoh adalah satu hal antara pria dan wanita. Atau mereka para pasangan yang tadinya hidup sendiri, kemudian menemukan menikah, jadilah sebagai jodoh. Bisa juga dengan kata lain adalah semua hal yang berhubungan dengan hal itu, meski dalam bahasa yang berbeda. Padahal, kata jodoh menurut KBBI V bukan sebatas itu. Setidaknya ada tiga makna, yang berbeda maksud. Berikut adalah tiga makna tersebut, sekaligus cerita pengalaman pribadi saya yang sesuai dengan maksud.

  1. Jodoh adalah orang yang cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; imbangan.

Ini makna yang sudah akrab. Saking akrabnya sempat ada band lokal yang menjadikannya sebagai lagu dengan judul “Cari Jodoh.” Kata ini juga sangat akrab dengan para jomlo (yang lain juga iya sih), apalagi yang sedang menginginkan segera menikah.

 Jodoh, oh, jodoh. Di mana kau disimpan-Nya?

Mungkin kalimat ini sedikit mewakili jeritan atau rintih hati. (maaf bila ada yang kurang berkenan).

Bagaimana cerita saya tentang jodoh yang bermakna demikian? Setidaknya, saya memiliki satu perjalanan yang berliku, hingga sebelum akhirnya bertemu jodoh di dunia (semoga saja masih berjodoh di akhirat nanti). Sekitar enam tahun, saya mengupayakannya. Dalam bentuk yang berbeda antara tahun pertama, kedua, hingga keenam. Jika ada lagu “Arjuna Mencari Cinta” mungkin lelakon yang saya lalui itu serupa “Arjuni Menunggu Cinta.” Ketika yang mencari dan menunggu belum juga bertemu, maka jadilah namanya sebagai penantian.

Di usia 23 tahun, saya sudah merasa siap menikah. Namun, kesiapan itu masih berupa siap fisik. Saya belum belajar banyak tentang bagaimana menjadi seorang istri, ibu, atau sosok yang harus mendampingi seorang pria.

Beberapa peristiwa rasa ikut mewarnai, dari lucu, ngenes, sedih, haru, dan hampir putus asa. Dari yang kenalan sendiri (saat itu masih belum mempraktekkan secara syar’i), dikenalkan teman Bapak, teman kerja, sampai dicarikan saudara. Bahkan, seorang mentor saya pernah menawarkan adik temannya.

Pertanyaan, “Kapan nikah?” sudah menjadi makan wajib. Pagi sebagai sarapan, siang ya untuk makan siang, malam salip-menyalip dengan makan malam. Bahkan kadang, jauh lebih rutin daripada itu.

Itulah secuplik cerita tentang jodoh dalam makna yang pertama.

  1. Jodoh adalah sesuatu yang cocok, sehingga jadi sepasang.

Makna jodoh selanjutnya adalah, berbeda dengan yang pertama. Misalnya saja tentang sandal, sepatu, atau kaus kaki kita. Jika satu sandal kita hilang, berarti jodohnya hilang. Ngomong-ngomong tentang sandal, saya juga punya kenangan tersendiri. Apalagi dulu, saat masih tinggal di panti asuhan. Cerita tentang sandal selalu berganti versi.

Misal antara sandal dan anak panti asuhan. Saya pernah punya sandal yang sama bentuk, warna, dan merknya dengan yang dipakai anak panti asuhan. Kadang, saya bingung, pagi-pagi mau menjemur cucian, eh, sandal raib. Tahu-tahu sudah ada di rak depan kamar anak panti asuhan.

“Lho, Mbak. Ini sandal saya kenapa nangkring di sini?” tanya saya heran.

“Oh, itu punya ibu? Kirain punyaku.”

Usut punya cerita, dia baru saja memakai sandal ke masjid, lalu pulangnya tanpa alas kaki. Jadilah dia mencari sandalnya dan menemukan sandal saya yang sama. Langsung pakai tanpa bertanya.

Cerita lain tentang sandal adalah antara sandal dan anak-anak. Bila Ramadan tiba, saat kami di panti asuhan, biasanya ada undangan keliling (berganti-ganti tempat). Anak-anak kami sering ikut, kemudian pulangnya ada saja yang terjadi dengan sandalnya. Yang hilang satu, yang tertinggal. Nah, kalau hilang satu, mau dipakai juga tidak bisa, beli lagi mana mungkin boleh bila hanya satu saja. Jadilah sandal anak-anak banyak yang kehilangan pasangan. Kehilangan jodoh.

  1. Jodoh bisa berarti cocok; tepat.

Arti jodoh untuk selanjutnya bisa bermakna cocok atau tepat. Misalnya saja, ketika kita sakit, kita minum obat dari dokter A, belum juga sembuh, kemudian datang ke dokter B dan mendapat resep berbeda, lalu sembuh. Berarti kita cocok dengan obat dari dokter B tadi.

“Udah sembuh nih?”

“Iya, obatnya jodoh.”

Begitu kira-kira bila ada dalam dialog.

Kemudian, cerita saya tentang jodoh yang sesuai makna ketiga ini, baru saja saya alami. Saya batuk pilek, biasanya sih saya cukup jalan pagi sambil berjemur, minum banyak air putih, dan istirahat cukup. Tapi, karena saya memiliki aktivitas lebih, daripada masa jalan dan berjemur dulu, maka saya ambil keputusan untuk minum obat. Bukan ke dokter memang, tapi beli ke apotek, dengan resep yang biasa dipakai keluarga kami.

Ada dua obat yang dulu pernah ditawarkan ibu saya. Saya minta tolong suami untuk beli yang agak mahal, di antara keduanya. Setelah minum beberapa kali, sesuai petunjuk yang ada, seharusnya kadar batuk saya sudah berkurang, tapi yang terjadi, tiga malam kemarin, saya kesulitan tidur. Begitu kepala menyentuh bantal, batuk menyerbu tiada henti. Paginya, kepala saya otomatis cekot-cekot karena tidak menerima hak dalam istirahat yang wajar.

Akhirnya, saya beli obat lain. Jeda beberapa waktu dari obat pertama, baru minum obat kedua. Malamnya, Alhamdulillah saya bisa tidur. Kekhawatiran akan datangnya serbuan batuk tidak terbukti. Bahkan, saking menikmati istirahat, saya lupa berbaring di depan TV. Malam-malam baru celingukan, pada ke mana anak-anak, kok enggak kelihatan? Barulah saya sadar, saya tidur bukan pada tempat yang pas. Mungkin bawaan minum obat yang memiliki efek samping mengantuk.

Tadi, saat tidur, saya berdoa apa enggak, ya?

Jadi berpikir demikian. Karena kantuk datang dengan sangat memberatkan mata. Maunya memejam, dan berbaring. Semoga saja Dia mengampuni saya yang sedang berproses dalam ikhtiar untuk sembuh.

Demikian tadi tiga makna dari kata jodoh. Jadi, bila ada yang memperbincangkan kata “jodoh” bagi yang masih belum menikah, bisa simak baik-baik dulu. Apakah itu jodoh yang dimaksud bermakna seperti nomor 1, 2, atau 3. Enggak usah  baper dulu. Hehe. Salam hangat. PC, Yk, 3 Mei 2018

Ditulis oleh:  Kayla Mubara

Reviewer: Hapsari TM 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *