[Cernak] Tidur Bersama Kodok

“Hore! Asyik, aku bisa bermain lumpur!” teriak Irfan kegirangan.

“Mari kemasi barang yang akan kita bawa!” ajak Ayah.

Irfan segera mengemasi barang bawaan. Ia sangat gembira mendengar ajakan ayahnya. Hampir satu tahun keluarganya tidak menjenguk kakek. Kebetulan tahun ini, ayah Irfan mengambil cuti. Sekolah Irfan juga libur. Irfan akan mengisi liburan di desa. Sudah lama Irfan tidak bermain dengan kakek. Rasanya kangen sekali.

“Sudah siap berangkat?” tanya Ayah.

“Siap, Ayah. Barang bawaan sudah aku kemas rapi,” jawab Irfan sambil menunjukkan tas gendongnya.

“Yakin, tidak ada yang ketinggalan?” tanya Ayah lagi.

“Iya, yakin Ayah. Semua barang yang Irfan perlukan sudah di dalam tas. Ini aku catat agar tidak ada yang tercecer,” sahut Irfan sambil menunjukkan kertas cacatan.

“Oke. Kita siap berangkat ke rumah kakek!” kata Ayah.

Semua barang bawaan lainnya sudah tertata rapi di bagasi mobil. Ayah Irfan mengeluarkan mobil dari garasi. Irfan bergegas masuk mobil. Senyum selalu mengembang di wajah mungil Irfan.

“Sebelum berangkat kita berdoa dulu. Kita mohon perlindungan dan keselamatan!” pinta Ayah.

“Baik, Ayah,” jawab Irfan singkat.

Irfan menyegerakan perintah Ayah. Kebiasaan berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan selalu diterapkan di keluarga ini.

Dalam perjalanan menuju rumah kakek, Irfan disuguhi pemandangan sawah hijau yang terbentang luas dengan udara yang masih segar. Terbayang olehnya suasana di rumah kakek yang sejuk.

Setelah empat jam menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang ditumpangi Irfan berhenti di halaman rumah yang luas. Di depan rumah, kakek dan nenek sedang duduk di kursi rotan menunggu kedatangan Irfan. Irfan segera turun dari mobil dan berlari menghampiri kakek dan nenek. Dengan senyuman, kakek segera menyambut Irfan dengan pelukan hangat. Irfan mencium tangan kakek dan nenek.

“Kakek, Irfan kangen,”  seru Irfan sambil memeluk kakeknya.

“Kakek juga kangen kamu, Fan,” sambut Kakek.

Setelah saling melepas rasa rindu, semua masuk rumah. Mereka beristirahat setelah perjalanan jauh. Keluarga itu berbincang-bincang dan minum teh buatan nenek. Tidak terasa waktu cepat berlalu, siang pun menjelang.

“Kakek nanti ke sawah nggak?” tanya Irfan menyelaerbincangan.

“Memangnya kenapa?” tanya Ayah.

“Sudah, jangan mikir sawah. Kamu istirahat dulu, nanti Kakek ajak ke sawah. Makan-makan dulu. Sudah waktunya makan siang, nih. Sebentar lagi juga adzan dhuhur!” kata Kakek menasihati cucunya.

Nenek dan ibu Irfan sudah menyiapkan makanan di meja. Ia segera mengambil piring untuk makan siang. Ia sangat menyukai apa pun yang dimasak nenek.  Opor ayam kampung yang menjadi favorit Irfan.

“Ehm, masakan Nenek selalu enak. Sering-sering saja Nenek masak opor ayam kampung kesukaanku,” kata Irfan tanpa henti mengunyah makanannya.

“Opor ayam kampung ini sudah disiapkan nenekmu sejak pagi. Makan yang banyak supaya nanti kuat berjalan ke sawah!” sambung Kakek.

“Kamu harus berterima kasih kepada Nenek, Fan! Nenek sudah bersusah payah menyediakan opor ayam kesukaanmu,” ujar Ayah.

“Iya Ayah, tentu!” sahut Irfan.

Setelah menyelesaikan makan siang, Irfan bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat. Irfan, Kakek, dan Ayah berjalan kaki menuju masjid yang tidak jauh dari rumah kakek. Mereka akan melaksanakan sholat dhuhur berjamaah.

                                                            ***

Setelah sholat ashar, Irfan dan Kakek bersiap pergi ke sawah. Mereka membawa sabit dan keranjang.

“Kamu sudah siap ikut dengan Kakek, Fan? tanya Kakek.

“Sudah, Kek. Aku sudah nggak sabar bermain lumpur!” kata Irfan bersemangat.

“Kalau sudah siap, mari kita berangkat!” ajak Kakek.

Sawah Kakek berada di sebelah timur desa. Perjalanan ke sawah dapat ditempuh selama sepuluh menit. Irfan pun menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan menuju ke sawah. Hamparan berwarna hijau yang menyejukkan mata. Warna itu berasal dari tanaman padi yang mulai tumbuh.

“Kita sudah sampai, Fan. Ayo lekas turun ke sawah. Kita harus menyiangi rumput!” pinta Kakek.

Sawah kakek sedang ditanami padi dan semalam dialiri air jadi tanah berlumpur. Irfan bersiap-siap turun ke sawah dengan menggulung celananya agar tidak terkena lumpur.

“Wuih, asyik sekali bermain di sawah!” seru Irfan setelah menceburkan diri di sawah.

“Jangan sampai salah cabut, ya! Kalau yang kamu cabut tanaman padi Kakek, besok akek tidak bisa panen,” gurau Kakek sambil terus mencabuti rumput.

“Iya, Kek. Hore… aku dapat anak kodok!” teriak Irfan tiba-tiba.

“Eh, kodok itu jangan kamu tangkapi! Kamu harus tahu kalau kodok itu sahabat petani. Karena mereka memakan serangga yang merusak tanaman padi,” jelas Kakek pada Irfan yang masih sibuk dengan anak kodok.

Irfan tidak menghiraukan perkataan Kakek. Ia malah memasukkan anak kodok itu ke dalam kantong plastik. Irfan berniat akan membawanya pulang untuk mainan.

“Akan aku bawa pulang anak kodok ini, Kek!” pinta Irfan kepada Kakek.

Karena Irfan terlihat senang dengan anak kodok tersebut, akhirnya Kakek membiarkan Irfan membawa anak kodok tersebut.

Keasyikan di sawah, Irfan dan Kakek tidak memperhatikan cuaca. Awan hitam dan tetesan air hujan mulai turun menimpa Irfan dan tubuh tua Kakek. Hujan semakin deras, mereka berteduh di gubuk kecil pinggir sawah. Suara kodok yang saling berbalas menemani Irfan dan kakek yang sedang melepas lelah.

Karena hujan tidak kunjung berhenti, Irfan pun tertidur di gubuk. Ia tidur dengan suara kodok yang asyik di bawah tetesan hujan. Mereka menunggu hujan reda untuk kembali berkumpul di rumah Kakek. *)

Ditulis Oleh: Suprapti

Reviewer: Redy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *