Takjub Di LautanTulip!

Setelah tahun 2016 lalu gagal berkunjung ke negeri kincir angin, akhirnya tahun 2017 diberi kesempatan Tuhan untuk berkunjung ke negeri tersebut. Berkunjung di bulan April, kami merasa sangat beruntung. Kenapa? Karena bertepatan dengan musim semi, musim dimana bunga-bunga mulai bermekaran. Berada di Belanda pada musim semi maka berlakulah jargon: belum ke Belanda kalau belum ke kebun tulip. Ya, tulip! Bunga tulip merupakan salah satu simbol dari negera Belanda yang memiliki nama latin Tulipa Liliaceae. Bunga warna-warni ini identik dengan negara Belanda meskipun bunga tulip ini berasal dari Turki dan Asia Tengah.

Kami mengawali perjalanan ke Belanda dari Hannover, Jerman, bukan dari Indonesia. Apabila kami berangkat dari Indonesia, Jakarta lebih tepatnya, memerlukan waktu sekitar 14 jam 35 menit untuk sampai di Schipol, Belanda melalui jalur udara, sedangkan jika berangkat dari Jerman cukup ditempuh sekitar 1 jam waktu penerbangan. Karena saat itu sedang peak season yang menyebabkan harga tiket pesawat lebih mahal, kami memutuskan ke Belanda melalui jalur darat.

Transportasi umum jalur darat yang menjadi pilihan ialah kereta atau bus. Lagi-lagi karena harga tiket kereta saat itu lebih mahal dari biasanya, akhirnya kami memutuskan untuk menempuh Jerman-Belanda menggunakan bus, Flixbus. Flixbus merupakan salah satu bus yang digunakan untuk perjalanan jarak jauh, seperti antarkota, antarprovinsi, bahkan sekarang antarnegara di Eropa.

Flixbus saat di halte dengan corak hijau stabilo yang khas (doc. pribadi)

Harga tiket Flixbus memang lebih murah dibandingkan yang lain. Sesuai dengan tagline perusaan ini “Low cost bus travel from just 5 Euro”. Waktu tempuh menggunakan bus bisa lebih lama sekitar 2 jam jika dibandingkan dengan kereta, apalagi jika dibandingkan dengan ICE, kereta tercepat di Jerman. Meskipun harga tiket Flixbus lebih murah dibandingkan moda transportasi lainnya, berkendara dengan bus ini sangat nyaman dan fasilitas di dalamnya nggak kalah dengan ICE. Ada WiFi gratis yang bisa kami manfaatkan selama perjalanan agar tidak bosan.

Setelah menempuh beberapa jam perjalanan menggunakan bus bertingkat ini akhirnya kami sampai juga di Amsterdam. Untuk sampai ke kebun tulip, kami harus melanjutkan perjalan darat lagi dengan bus khusus menuju selatan negeri kincir angin Belanda. Bus yang menuju kebun ini berangkat setiap 15 menit sekali jadi nggak terlalu khawatir jika ketinggalan. Busnya juga nyaman meskipun semua tempat duduk terisi penuh tapi nggak terasa sumpek. Bus langsung menuju kebun tanpa mampir-mampir terlebih dahulu. Selain dengan bus, ada transportasi lain yang bisa mengantarkan pengunjung ke kebun, kereta.

Mendung dan angin sembribit menyambut kedatangan kami di kebun bunga terbesar di dunia ini, Keukonhof. Kebun bunga ini terletak di Kota Lisse, sekitar 37 km di barat daya Kota Amsterdam. Kebun Keukonhof dibuka dari pertengahan Maret hingga pertengahan Mei, saat bunga-bunga di dalam kebun tersebut bermekaran. Ada sekitar 7 juta bunga yang ditanam di area seluas 32 hektar ini. Bunga yang tumbuh menghiasi Garden of Europe tidak hanya tulip saja tetapi ada juga mawar, lily, chrysant, lavender, dan bunga subtropis lainnya. Yang pasti bunga tuliplah yang mendominasi kebun ini. Semua jenis bunga tulip dengan berbagai warna ditanam, ditata, dan dikombinasikan sedemikian cantiknya. Bunga tulip ini lebih cantik dan lebih menarik saat masih kuncup. Saat menuju mekar tetap memesosa. Tulip dapat ditanam dengan dua cara, yaitu menggunakan biji atau umbi. Tulip yang ditanam dari biji membutuhkan waktu antara 5-7 tahun agar dapat berbunga. Untuk tulip yang ditanam dari umbi hanya memerlukan waktu setahun untuk menghasilkan bunga yang cukup besar dan cantik. Bunga tulip tidak bisa hidup di wilayah tropis karena memerlukan suhu rendah pada musim dingin untuk dapat tumbuh. Apabila bunga tidak bermekaran maka kebun ditutup, seperti bulan Januari ini.

Di Keukonhof, kami merasa sedang berada di lautan tulip. Takjub! Sejauh mata memandang semuanya tulip. Warna-warni bunganya tampak hidup. Meskipun sebenarnya di antara tulip-tulip tersebut ada bunga jenis lain, mata dan otak kami menangkap bahwa semua bunga menjadi bunga tulip. Kami memandang ke segala arah, keindahan di kebun Keukonhof benar-benar nyata. Rasanya 16 Euro menjadi sangat murah setelah mendapat pengalaman yang sangat berkesan, berada di tengah hamparan tulip, menyapa dan menyentuh tulip secara langsung.

Kebun Tulip, Keukonhof (doc. pribadi)

Tidak hanya pengalaman hati saja yang diperoleh, bukti nyata berupa foto narsis bersama bunga warna-warni nan cantik bisa jadi tambahan koleksi. Untuk yang gemar fotografi berasa sedang berada di surga karena akan mendapat koleksi foto-foto yang indah luar biasa, jangankan yang gemar fotografi yang tidak gemar pun mendadak jadi gemar. Hehehe…Semua orang mengarahkan kameranya untuk jeprat-jepret. Tidak ingin melewatkan spot-spot yang menarik karena area kebun yang sangat luas, kami mengambil peta panduan yang disediakan di dekat pintu masuk. Gratis! Oya, kalau yang nggak mau capek disediakan juga sepeda sewa untuk keliling kebun. Serukan?!

Setiap tahunnya Keukonhof mampu menarik sekitar 1 juta lebih pengunjung dari berbagai negara. Ada yang istimewa dari Keukonhof ini yaitu setiap tahun selalu menyajikan tema yang berbeda dengan tetap menonjolkan ciri khas Belanda. Tata letak dan kombinasi jenis bunga tulip selalu berbeda sehingga pengunjung tidak bosan meskipun di tahun sebelumnya sudah pernah berkunjung. Keukonhof selalu memberikan pengalaman baru bagi para pengunjung. Tema Keukonhof kali ini adalah Dutch Design. Apa itu? Menurut website Keukonhof: Dutch Design is characterizes by Dutch sobriety combined with innovative solution.

Bagian ujung utara kebun Keukonhof terdapat model kincir angin khas Belanda. Pengunjung dapat memasuki dan menaiki kincir angin tersebut. Dari kincir angin tersebut kami dapat melihat hamparan ladang bunga tulip warna-warni yang ditanam di luar area kebun. Di dekat kincir angin juga ada spot yang tidak kalah menarik sebagai tempat foto, yaitu boat yang berada di sungai. Boat tersebut juga disewakan untuk mengelilingi Keukonhof melalui sungai. Menariknya lagi di Keukonhof juga terdapat semacam farm yang isinya kelinci dan burung. Hewan-hewan tersebut boleh dipegang dan boleh ikut serta untuk foto bersama.

Berbagai macam souvenir khas Keukonhof (doc. pribadi)

Capek dan lapar setelah berkeliling kebun? Tenang, di dalam Keukonhof terdapat restoran dan penjual kue khas Belanda, poffertjes. Sayangnya, kami tidak mencoba kue tersebut jadi kami tidak bisa menceritakan bagaimana rasanya. Pergi ke suatu tempat rasanya menjadi kurang sah jika belum memiliki souvenir, apalagi ke Keukonhof. Nah, kalau mau beli souvenir nggak perlu khawatir karena di dalam area kebun menjual souvenir yang sangat lengkap, mulai dari gantungan kunci, kartu pos, magnet kulkas, hiasan rumah, pernak-pernik lucu yang bergambar tulip maupun yang bertuliskan Keukonhof, Belanda. Jadi kapan kita foto dengan tulip dan beli souvenir di Keukonhof? Tahun ini yuk! *)  Ditulis oleh: Yulia Hartoyo

Baca Juga:   [CERNAK] Berkah di Balik Musibah

2 thoughts on “Takjub Di LautanTulip!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *