[Cernak] Tahu Goreng Elsa

Sejak rumahnya tertimpa longsor, Elsa tinggal di tempat yang baru. Keluarganya mencari rumah kontrakan yang jauh dari rumah yang tinggal puing. Ia pun terpaksa harus pindah sekolah. Kepindahan tempat belajar membuat Elsa harus menyesuaikan diri. Terutama dengan teman-teman yang baru.

Elsa terlihat sedih karena merasa minder dengan teman sekelas. Teman-teman gadis desa itu banyak yang berasal dari keluarga kaya. Mereka antar jemput menggunakan mobil ketika sekolah. Bekal makanan mereka juga enak dan mahal.

“Ada apa? Kenapa terus bersedih?” tanya Bu Maryam, ibu Elsa.

Sebenarnya, ibu Elsa tahu jawabannya, anak semata wayang itu merasa minder dengan teman-teman di sekolah yang baru. Rasa minder Elsa disebabkan ia berasal dari keluarga kurang mampu. Bapak gadis berjilbab itu bekerja sebagai buruh serabutan. Ibunya menjual tahu goreng untuk menambah penghasilan.

“Ini bekal makan siangmu sudah Ibu siapkan.”

“Terima kasih, Bu,” sahut Elsa.

“Jangan lupa makan siang, lho. Jangan sampai perutmu sakit gara-gara telat makan,” pesan Bu Maryam.

Dari hari Senin sampai hari Kamis ada kegiatan ekstra yang harus diikuti semua siswa. Kegiatan sekolah selesai pada sore hari. Setiap ke sekolah Elsa membawa bekal tahu goreng masakan ibu. Namun ketika waktu makan siang, Elsa sembunyi-sembunyi untuk menyantap bekalnya.

“Eh, kita makan bersama, yuk!” ajak Chesa.

“Bekal makan siangmu apa, Sa?” lanjut Chesa.

“Nanti aja, aku masih kenyang, kok. Kamu makan duluan aja,” ujar Elsa.

“Aku bawa fried chicken, enak lho,” pamer Chesa.

Setiap waktu makan siang di sekolah, Elsa sedih. Chesa dan teman kelas lima selalu memamerkan bekal makanan yang enak dan mahal. Sedangkan ia hanya membawa tahu goreng buatan ibu. Elsa merasa tahu goreng makanan ndeso sehingga banyak yang tidak suka. Ia selalu mencari-cari alasan jika diajak teman makan bersama. Kadang kala ia berbohong kepada Chesa agar ia tidak tahu bekal makanan yang dibawanya.

“Kamu makan dulu aja Ches, aku mau ke mushola.” Begitu alasan Elsa setiap kali diajak makan bersama. Anak berparas ayu itu, merasa malu jika ada teman yang mengetahui makanan tradisional yang ia bawa.

                                                            ***

“Waduh, Chesa, kok, belum kelihatan datang ke sekolah. Ini sudah hampir pukul tujuh,” gumam Elsa suatu pagi.

Elsa masih menunggu kehadiran Chesa. Namun, yang ditunggu tak kunjung tiba hingga bel sekolah berbunyi. Anak yang setia dengan teman itu melirik ke jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit. Bu Tanti, guru kelas lima, sudah mengajak siswa di kelas Elsa untuk berdoa.

Selesai berdoa, Bu Tanti mengecek kehadiran siswa kelas lima. Satu per satu nama siswa disebut termasuk juga Elsa. Namun, ketika giliran nama Chesa disebut, Bu Tanti tidak mendengar jawaban.

“Lho, Chesa belum hadir, ya?” tanya Bu Tanti.

Belum selesai guru cantik itu berbicara, tiba-tiba pintu kelas diketuk.

“Assalamu’alaikum,” terdengar suara dari arah pintu kelas.

“Wa’alaikumsalam,” sahut semua yang berada di kelas lima.

Dari arah pintu kelas, terlihat Chesa masuk ruangan sambil melempar senyum manis kepada teman dan guru kelas lima. Ia tampak tergopoh-gopoh ketika menyalami Bu Tanti.

“Maaf Bu Tanti, saya terlambat karena bangun kesiangan,” kata Chesa mendahului sebelum ditanya guru lebih lanjut.

“Ya, sudah. Silakan duduk, pelajaran akan segera kita mulai,” kata Bu Tanti.

Chesa, Elsa, dan teman kelas lima mulai mengikuti pelajaran hingga siang hari. Bu Tanti menyampaikan pelajaran dengan berbagai permainan. Asyik sekali jika belajar dengan cara seperti itu. Siswa kelas lima pun mengikuti pelajaran dengan senang hati.

Tidak terasa waktu makan siang tiba. Chesa pun mengajak makan siang Elsa. Ia merogoh tas sekolah mencari sesuatu.

“Perasaan tadi, bekal makanku sudah aku bawa,” bisik Chesa sambil mengeluarkan semua isi tas.

Sambil berpikir dan tengok kanan kiri di tempat duduk, Chesa mencari bekal makan siangnya.

“Cari apa Ches, katanya mau makan siang? Nggak jadikah?” tanya Elsa ketika melihat Chesa mencari-cari sesuatu.

“Iya, bekal makanku ketinggalan, nih. Padahal tadi sudah disiapkan Mama di dekat tas sekolahku. Lauknya pun sosis goreng kesukaanku. Mau beli di kantin sudah habis jam segini. Kalaupun masih, nggak ada makanan yang enak. Aduh, gimana nih?” keluh Chesa dengan wajah sedih dan kecewa.

Melihat sahabat dekatnya sedih, Elsa mencoba memberanikan diri menawarkan bekal makan siang. “Mau coba makan siangku nggak? Dari pada kamu nggak makan.”

“Emang bekal makanmu apa? Aku nggak doyan makan kalau nggak dengan fried chicken, sosis goreng atau nugget.

“Bekalku tahu goreng buatan ibu. Enak, lho, cobain, deh. Dari pada perutmu sakit,” bujuk Elsa.

Karena takut kelaparan dan sakit perut, akhirnya Chesa mencoba mencicipi tahu goreng Elsa. Mungkin karena lapar, Chesa melahap tahu goreng yang disodorkan teman kelasnya. Sementara itu, Elsa melihat dengan senyum bahagia karena temannya mau mencicipi makanan buatan ibu.

“Hm, ternyata enak juga, ya, tahu goreng buatan ibumu. Kapan-kapan bawain tahu goreng lagi, ya!” pinta Chesa sambil menikmati tahu goreng buatan ibu Elsa.

Elsa pun merasa bangga dengan pujian yang diberikan Chesa. Anak berkulit bersih itu, tidak malu lagi menunjukkan bekal makan siang tahu goreng buatan ibunya.*)

Ditulis oleh: Suprapti

Reviewer: Maya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *