[CERPEN] KOTAK MUSIK LAYSA

Menunggu, aktivitas hal yang membosankan untuk sebagian orang, tapi tidak dengan Laysa. Gadis berambut lurus sepunggung, si pemilik lesung pipi itu cukup menikmati keramaian taman. Mendengar suara anak-anak ceria, gelak tawa, dan sesekali terdengar suara ibu melarang anaknya ketika minta untuk jajan es. Menjadi hiburan tersendiri untuk gadis tersebut.

[Cerpen] Kemarahan Gentayu

Aku melewati pintu rimba hutan yang ditakuti para penduduk kampung. Menurut cerita yang kerapkali menyusup rongga telinga penduduk, hutan akan bersuka cita mengirimkan kabar kematian lewat angin di petang hari, saat mega merah gagah tampakkan keanggunan warna, ada pula yang menafsir sebagai waktu bergelimang darah.

[Cerpen] Boneka untuk Murni

Suara Mak Maemunah yang tipis melengking membuat Udin siaga. Dia menarik badannya supaya lebih tersembunyi di antara tumpukan kardus yang memenuhi separuh rumah singgah itu. Sedikit lagi, tinggal kutambahkan pita, lalu selesai. Udin bergegas merampungkan pekerjaaannya.

[Cerpen] Fate

  ‘Hati ini terlalu bertakhta untuk sebuah kehilangan’ (Eden Bridge) Ini dimulai dari yang namanya kehidupan. Sebenarnya aku tidak tahu dari mana mengawalinya, tapi sepertinya hidup itu dimulai dari sebuah pertemuan dan diakhiri oleh satu kesepakatan yang namanya perpisahan. Entah perpisahan untuk siapa dan kepada siapa? Mungkin, setiap manusia pernah mengalaminya, awal dari kehidupan. Pertemuan […]