SURGA UNTUK SEORANG MANTAN BUDAK

Kita tentu mengenal kisah perjuangan seorang yang pertama kali mengumandangkan azan. Ya, Bilal bin Rabbah yang kisah hidupnya juga ikut diangkat melalui sebuah film tentang nabi Muhammad SAW berjudul “The Message”. Tidak lama lagi, kisah tentang Bilal akan ditayangkan di beberapa negara melalui film animasi berjudul “Bilal: A New Breed of Hero”. Meskipun belum ada kepastian mengenai penanyangan film ini di Indonesia.

Sebagaimana telah kita ketahui, Bilal adalah orang pertama yang memeluk Islam dari kalangan hamba sahaya atau budak. Perjuangannya mempertahankan aqidah sungguh luar biasa. Jadi, coba sampaikan ke Dilan bahwa yang berat itu bukan rindu, tapi mempertahankan aqidah. Bilal saja sampai ditindih batu dan dijemur di tengah terik matahari. Kurang berat apa?

Singkat cerita, Bilal bin Rabbah, dulunya adalah budak dari seorang majikan bernama Umayyah. Semenjak diketahui memeluk Islam, majikannya tidak berhenti menyiksa Bilal agar ia goyah dan kembali kepada ajaran majikannya, menyembah berhala. Sampai pada suatu hari, Bilal disiksa di tengah padang pasir dengan leher yang diikat rantai. Majikannya pun menindih dadanya dengan batu berukuran besar hingga Bilal merasakan sesak.

Sambil terus menyiksa Bilal, sang majikan, Umayyah berkata kepadanya “Aku tidak akan berhenti menyiksamu hingga kamu mau mendustakan Muhammad dan kembali mengikuti ajaran terdahulu. Kembalilah pada agamamu, sembahlah latta dan uzza.”

Bilal dengan menahan sakit mengucap dengan lirih “Ahad! Ahad! Ahad!” yang bermaksud mengakui Allah Maha Esa (Allahu Ahad).

Tiba-tiba, datanglah Abu Bakar Ash Shidiq yang menyaksikan penyiksaan Umayyah terhadap Bilal. Berkatalah Abu Bakar “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki hanya karena mengatakan ‘Tuhanku adalah Allah’?” Maka ditebuslah Bilal bin Rabbah dengan harga yang tinggi kemudian merdekalah ia dengan bantuan Abu Bakar Ash Shidiq.

Setelah bebas dan tidak lagi menjadi seorang budak, Bilal semakin taat mengikuti ajaran Rasul Muhammad SAW. Bilal bahkan mengikuti Rasulullah SAW saat hijrah ke Madinah, sekaligus untuk menjauhi siksaan kaum kafir Quraisy. Bilal sangat mencintai Rasulullah dan mengabdikan hidupnya kepada Rasulullah. Bilal juga selalu mengikuti peperangan yang terjadi pada masa itu.

Setelah hijrah ke Madinah dan Masjid Nabawi selesai dibangun, azan –sebagai penanda waktu salat— disyari’atkan oleh Rasulullah SAW. Karena memiliki suara yang merdu dan lantang, ditunjuklah Bilal untuk mengumandangkan azan. Maka, jadilah Bilal bin Rabbah sebagai orang yang dipercaya mengumandangkan azan pada waktu salat sampai wafatnya Rasulullah SAW. Ia kemudian mendapatkan julukan Muadzdzin ar-Rasul alias Muazinnya Rasulullah SAW.

Keistimewaan lain dari seorang Bilal bin Rabbah adalah jaminan masuk surga dari Rasulullah SAW. Diceritakan dalam suatu waktu selepas salat subuh, Rasul bertanya kepada Bilal tentang amalan yang dilakukan “Katakanlah kepadaku, apa amalan yang kamu kerjakan dalam Islam dan yang paling besar pahalanya?”

Bilal heran, sesungguhnya ia amat paham bahwa Rasulullah jauh lebih mengetahui mana amalan yang nilai pahalanya paling besar. Lalu, Rasulullah melanjutkan pertanyaannya untuk Bilal “Tadi malam, aku mendengar suara langkah kakimu di surga.”

Kemudian Bilal menjawab “Saya tidak melakukan amalan tertentu, wahai Rasulullah. Kecuali yang paling saya sukai adalah setiap selesai berwudhu, baik malam maupun siang, saya melakukan salat dua raka’at yang saya wajibkan untuk diri saya sendiri.”

Dari situlah diketahui bahwa amalan yang membawa Bilal menuju surga adalah kebiasaannya menjaga wudhu. Apabila wudhunya batal, ia akan langsung bersuci kembali. Bilal juga tidak putus melakukan salat sunah wudhu sebanyak dua raka’at. Tidak disangka, bahwa amalan yang terlihat kecil itu justru mampu membawa ke surga.

Bilal adalah sebuah bukti bahwa Allah tidak pernah melihat apa pun pekerjaan dan status sosial dari hamba-Nya. Bilal, seorang mantan budak pun, berhak atas surga Allah atas keimanannya dan amalan yang selalu ia jaga. Allah juga tidak melihat rupa, Bilal, yang konon berwajah tidak rupawan, berkulit hitam dan dipanggil dengan sebutan Ibnus-Sauda’ karena lahir dari seorang wanita berkulit hitam.

Pelajaran lain yang juga ada dalam diri Bilal adalah suaranya yang lantang dan indah. Tidak peduli fisik yang hitam, suaranya mampu membuatnya menjadi istimewa. Ia dipilih sebagai pengumandang azan yang pertama kali. Tidak aneh, jika Namanya kini masih sering disebut di masjid-masjid sebagai sebutan untuk mereka yang mengumandangkan azan.

Tentu semua keistimewaan Bilal bin Rabbah bukan hanya akan menjadi sejarah Islam saja. Mungkin, kita memang tidak bisa menjadi muazin pertama, bukan juga mantan budak yang disiksa sedemikian kasar dan mengerikan, tetapi dalam dimensi waktu yang sungguh berbeda –jauh dari zaman perbudakan–ada amalan yang sangat bisa kita tiru dari seorang Bilal bin Rabbah. Keteguhan hati dan konsistensi melakukan sebuah amal, bahkan yang kita anggap kecil.

Semua kisah Bilal –mantan budak yang suara langkah kakinya terdengar hingga surga­–sarat akan hikmah, wajar jika kisahnya tidak habis diceritakan. Inilah satu bukti kekayaan atas sosok teladan bagi umat Islam. Sungguh, umat Islam tidak pernah kekurangan teladan. Semoga Allah meridainya dan menjadikannya rida kepada-Nya. []

Ditulis oleh: Hapsari Titi Mumpuni

Reviewer: Seno Ners

Referensi:

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/11/07/19/139369-kisah-sahabat-nabi-bilal-bin-rabah-sang-muadzin-rasulullah

https://www.brilio.net/news/belajar-keteguhan-hati-dari-bilal-budak-yang-jadi-muazin-pertama-sosok-bilal-bin-rabah-150617p.html

https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-penyiksaan-bilal-bin-rabah-dan-azan-pertamanya.html

https://www.brilio.net/news/cerita-haru-suara-sandal-bilal-sampai-terdengar-rasulullah-dari-surga-150706y.html

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *