Surat untuk Ayah

“Duh, udah jam segini, kok, Ayah belum pulang? Bisa-bisa gagal lagi, nih,” gerutu seorang bocah berambut ikal. Sejak tadi ia mondar-mandir di teras. Sesekali diliriknya jam tangan hitam di pergelangan tangan.

“Masuk, yuk, Do!” Sebuah suara lembut mengejutkan si bocah.

“Dido mau nunggu Ayah dulu, Bu.” Bocah berusia 9 tahun itu duduk di tangga teras. Kedua tangan bertumpu di lutut. Wajah yang tadi cerah, kini berubah murung.

Bu Kirana mendekati anak lelaki itu. Perempuan berjilbab itu lalu duduk di samping putranya yang sedang bersedih.

“Do, tadi Ayah telepon, hari ini Ayah belum bisa menemani kamu latihan futsal lagi,” ucap Bu Kirana pelan.

Ibu Dido tahu anak lelakinya pasti sangat kecewa. Untuk kesekian kali, bocah itu tak bisa bermain bersama sang ayah. Mata Dido mulai berkaca-kaca. Dengan segera ia mengusap kedua mata agar air mata tak jatuh di pipi. Bocah itu tidak ingin menangis di depan ibunya. Ia bukan anak cengeng.

Dua hari lalu Pak Sigit, ayah Dido, memang berjanji akan menemani putra kesayangannya bermain futsal. Dido sangat senang. Bocah itu berjingkrak-jingkrak kegirangan. Pak Sigit tertawa melihat ulah anak lelaki berambut ikal itu. Tapi, janji itu ternyata tak bisa ditepati Pak Sigit.

Dido mengurung diri di kamar. Jarum pendek jam dinding sudah menunjuk angka 8. Pak Sigit belum juga pulang.

“Do, ayo, makan dulu. Ibu sudah buat telur dadar kesukaanmu, nih.” Bu Kirana mencoba membujuk Dido.

“Dido nggak lapar, Bu,” sahut Dido.

“Tapi Ibu sudah lapar, kamu temani Ibu makan, ya?” bujuk Bu Kirana lagi.

Akhirnya Dido pun keluar dari kamar. Bu Kirana tersenyum dan memeluk putranya.

“Nah, gitu, dong. Ini nasi sama telur dadar spesial buat Dido.” Bu Kirana menyodorkan piring berisi nasi dan telur pada bocah 9 tahun itu.

Dido dengan terpaksa menerima makanan dari ibunya. Bocah itu lalu makan sedikit demi sedikit, tak lahap seperti biasa.

“Bu, boleh Dido lihat TV?” pinta bocah kecil itu setelah selesai makan.

“Mau nonton apa? Jam segini sudah nggak ada kartun, kan?”

“Sebentar aja, Bu. Sambil nunggu Ayah pulang.”

Bu Kirana pun mengijinkan putranya menonton TV. Saat TV menyala sedang ditayangkan siaran dari sebuah lokasi bencana banjir. Beberapa anggota tim SAR sedang membantu warga untuk mengungsi.

“Bu, itu Ayah, ya?” seru Dido sambil menunjuk seorang laki-laki berpakaian oranye. Laki-laki itu sedang menggendong seorang nenek.

“Iya, Do. Itu Ayah.” Bu Kirana membelai rambut ikal Dido.

“Jadi Ayah tidak bisa menemani Dido karena harus membantu warga yang kebanjiran?” tanya Dido.

“Dido sudah tahu kan, Ayah bekerja sebagai anggota Basarnas. Jadi sewaktu-waktu ada bencana, Ayah harus siap bertugas.”

Pagi hari itu langit mendung. Dido bersiap ke sekolah. Ayah Dido belum pulang juga. Setelah sarapan dan berpamitan pada ibunya, Dido segera mengayuh sepeda ke sekolah.

“Selamat pagi, Anak-anak. Siap untuk belajar hari ini?” sapa Bu Risma, guru kelas 3.

“Siap, Bu!!!” serempak siswa kelas 3 menjawab.

“Baiklah, tugas hari ini kalian harus menulis surat untuk orangtua kalian. Boleh surat untuk ibu atau untuk ayah.” Bu Risma memberi penjelasan.

Dido segera mengambil pensil dan kertas. Bocah itu pun segera menulis surat yang diminta sang guru. Setelah beberapa saat, Dido dan teman-teman berhasil menyelesaikan tugas menulis surat. Bu Risma memberikan amplop dan perangko pada setiap siswa.

“Nah, masukkan surat kalian dalam amplop, lalu tulis alamat, dan tempel perangko. Besok saat kunjungan ke kantor pos, kalian bisa kirimkan surat itu,” perintah Bu Risma.

Anak-anak sangat antusias memasukkan surat dalam amplop dan menempel perangko. Besok pagi sudah dijadwalkan kunjungan ke kantor pos sebagai salah satu kegiatan belajar di luar kelas.

Sore itu Dido mondar-mandir di teras. Nampaknya ia sedang menunggu sesuatu.

“Kok, mondar-mandir saja dari tadi, Do?”

“Eh, Ayah. Dido lagi nunggu Pak Pos.”

Suara motor mengalihkan perhatian Dido.

“Pos!” Pak Pos yang ditunggu akhirnya datang juga.

“Surat untuk Bapak Sigit Maryadi,” kata Pak Pos sambil menyerahkan surat pada Dido.

“Wah, sudah lama sekali Ayah tidak menerima surat dengan pos. Terima kasih, Pak,” Pak Sigit melambai pada Pak Pos yang bergegas pergi.

“Ini untuk Ayah.” Dido menyerahkan surat itu.

“Lho, ini dari kamu, Do?”

Dido mengangguk. Pak Sigit segera membuka surat itu dan membacanya.

“Assalamu’alaikum, Ayah. Maafkan Dido, ya. Dido sering sedih karena Ayah pulang terlambat. Dido juga sering marah kalau Ayah tidak jadi menemani main futsal. Padahal Ayah pergi karena harus membantu orang-orang yang kena bencana. Dido bangga sama Ayah. Dido senang Ayah jadi tim SAR karena sering membantu orang. Terima kasih, Ayah. Dido sayang Ayah. Wassalamu’alaikum. Dido.”

Pak Sigit memeluk Dido dengan erat, “Ayah juga sayang Dido.”

***

Ditulis oleh: Maya Romayanti

Reviewer: Redy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *