Strategi Lolos Seleksi Antologi


Buku antologi true story Sekali Hijrah Selamanya Istiqamah.


“Mas …”


“Ya?”
“Mau tanya.”
“Ada apa?”
“Kenapa tulisan saya tidak lolos?”
“Ya karena ada tulisan lain yang lebih bagus.”
“Ooh …”

Begitulah dialog saya dengan seorang peserta antologi yang tulisannya tidak lolos di buku antologi yang saya adakan. Bukan dialog tatap muka langsung, tapi via inbox facebook. Saya paham kenapa dia tanya seperti itu, lantaran di buku antologi yang pertama dia lolos dan tulisan masuk di buku yang sudah terbit: Ya Allah Izinkan Kami Menikah. Lalu kenapa di buku antologi kedua tidak lolos?

Buku kedua yang akan segera terbit bulan ini di penerbit yang sama (Diva Press) itu berjudul Sekali Hijrah, Selamanya Istiqamah. Isinya macam-macam true story (kisah nyata) bagaimana para penulis hijrah dari kebiasaan hidup yang jauh dari-Nya dan berupaya untuk semakin mendekat kepada-Nya (sesuai kemampuannya). Apa yang menarik dari seleksi ini? Banyak tulisan dan akhirnya hanya diambil sepuluh tulisan saja.

Ketika diumumkan seleksi naskah antologi dengan tema hijrah, kebanyakan yang mengirim tulisan membahas soal proses berhijab (dari yang tadinya suka berpakaian ketat menjadi berpakaian syari). Ya tentu saja penulisnya yang berkisah itu kebanyakan muslimah. Artinya apa? Dari sekian banyak kisah hijrah (berhijab), hanya satu saja yang akan diambil. Makanya wajar saja kalau kisah lainnya ditolak. Siapa yang diterima? Yakni yang idenya sama, tetapi kisahnya unik dan tulisannya menarik.

Itu strategi pertama kalau ingin lolos seleksi antologi. Kalau memang kita punya ide yang bisa jadi sama dengan peserta lain, maka mau tidak mau, materi tulisan yang kita sajikan wajib lebih bagus dan menarik dari milik peserta lainnya. Kalau tulisan yang diminta ialah true story, pastilah kisahnya yang tidak biasa-biasa saja.

Misalnya, dari begitu banyak kisah tentang hijrah dalam berpakaian, terpilihlah satu tulisan tentang proses berhijrah seorang mualaf. Kenapa bisa dipilih? Jelas saja karena tantangan yang dihadapinya lebih berat dari tantangan proses berhijab lainnya. Ia tidak hanya berusaha untuk mengubah model dan gaya berpakaian saja, melainkan juga meyakinkan keluarga dan orang-orang di sekitarnya, bahwa ia pun sudah 100% yakin dengan identitas barunya sebagai seorang muslimah. Jadi konfliknya tidak hanya konflik batin, melainkan juga konflik sosial. Berbeda dengan mereka yang sudah beragama Islam sejak lahir dan hanya perlu membeli dan mengenakan baju muslimah (banyaknya konflik batin saja, sebatas kemantapan hati untuk berhijab).

Jadi pandai-pandailah memilih ide apa yang paling unik dan beda. Ini kunci strategi kedua. Sebelum menulis, luangkan waktu untuk merenung dan coba menebak-nebak, “Kira-kira apa ya yang akan ditulis peserta lain?” Kalau kita berhasil menebak ide peserta lain, maka jangan menulis ide yang sama. Cari ide lain yang sekiranya tidak terpikir oleh peserta lain.
Contohnya pada kasus seleksi true story tema hijrah itu. Kebanyakan ide tulisan dari peserta tentang hijrah dalam berhijab, lalu ada lagi soal hijrah dalam pekerjaan dan kisah biasa lainnya. Apa yang unik? Ada yang unik dan beda, artinya tidak ada yang menulis selain satu peserta ini saja. Apa itu? Kisah seorang dancer.

Ia bermimpi ingin menjadi dancer. Orangtua melarang, tetapi dia terus berlatih dan ingin membuktikan bahwa dia bisa berhasil di dunia dancer. Hingga akhirnya dia pun berhasil menjadi apa yang diimpikannya: seorang dancer profesional! Sampai ke luar negeri pula. Namun begitu sampai di puncak karier itu, apa yang didapatkannya justru jauh dari harapan. Mulai banyak konflik dengan rekan timnya hingga mentalnya terpuruk. Di situlah hidayah-Nya menyapa dan apa yang selama ini dia perjuangkan dan didapatkan dilepas demi merasakan kehangatan pelukan-Nya.

Kisah seperti itu, hanya dia yang menulis, ya pasti lolos. Kekuatan ide, konten, dan materi dalam tulisan antologi pastilah diutamakan. Kalau idenya biasa-biasa saja, ya kenapa harus diterima? Kan di website sudah banyak itu tulisan yang bisa diakses bebas tiap waktu. Maka buku antologi yang akan dicetak dan terbit, harusnya bukanlah berisi ide-ide yang biasa. Buku ini harus lain daripada yang lain. Kalaupun akhirnya ada tulisan dengan ide serupa ya itu sebuah kebetulan saja. Yang penting ikhtiarnya, sedari awal kita sudah berusaha mencari ide yang fresh, unik, dan beda.

Ketiga, mainkan kekuatan personal. Ini juga sangat menentukan apakah tulisan layak lolos atau tidak. Buat mereka yang sudah sering menulis, pastinya paham hal ini. Selain ide yang unik dan beda, kita harusnya punya gaya menulis yang khas. Inilah kekuatan personal. Bisa dari cara bercerita (penceritaan), pemilihan diksi, gaya bahasa yang digunakan, dan berbagai aspek personal lainnya yang bisa jadi memang tidak dimiliki oleh penulis lain.

Memang sih, untuk strategi yang ketiga itu biasanya dimenangkan oleh mereka yang sudah terbiasa menulis. Untuk penulis pemula jangan khawatir, peluang lolos tetap ada asalkan rajin membaca. Biasanya dengan rajin membaca, bisa memudahkan seseorang untuk menulis dan punya cara menulis yang bagus. Yang apes itu kan pengin tulisannya lolos, tapi jarang membaca dan malas menulis juga. Bisa dibayangkan hasil tulisannya seperti apa kan?

Intinya bagaimana cara kita menuliskan ide, itu menjadi penilaian yang serius. Ini ada klasifikasi yang bisa kita gunakan untuk mengukur kekuatan kita sendiri saat mau mengikuti seleksi antologi:

1. Ide bagus, tulisan bagus.
2. Ide bagus, tulisan jelek.
3. Ide jelek, tulisan bagus.
4. Ide jelek, tulisan jelek.    


Posisi kita ada di mana? Kalau tulisan kita masuk kategori yang pertama, ya dijamin lolos. Sebaliknya, kalau idenya jelek, tulisan juga jelek ya pasti ditolak. Emang gimana sih tulisan yang jelek itu? Tulisan yang tidak rapi (banyak salah ketik, salah tanda baca), tidak bersih, tulisan kaku dan tidak mengalir, isinya cacat logika, dan banyak lainnya. Kalau mau tahu bagaimana cara menulis yang bagus, silakan ikuti acara Temu Penulis Yogyakarta. Hehehehe …

Nah, dari keempat posisi itu, paling susah memang antara nomor dua dan nomor tiga. Ide bagus tapi kok tulisan jelek. Ini sebenarnya bisa direvisi. Artinya panitia akan menghubungi penulis via email, “Ide kamu bagus, dan peserta lain belum ada yang punya ide seperti itu. Kami terima ide ini, asalkan kamu mau merevisi pada beberapa bagian tulisan. Oke?

Repotnya yang ketiga, idenya jelek tapi cara menulisnya bagus. Wah ini kalau redaksi penerbit tahu, biasanya dikasih ide. “Kamu itu punya kemampuan menulis, hanya saja idenya biasa-biasa saja. Apa kamu mau mengerjakan tulisan? Tapi idenya dari kami.” Masalahnya adalah, untuk seleksi antologi biasanya tidak bisa seperti itu. Panitia dan juri tidak punya stok ide buat peserta. Hehehe … ya kecuali jurinya teman dekat kita sih. Eh.

Begitu ya strateginya. Pengikat tiga kunci tadi hanya satu: sering-sering saja mengikuti seleksi tulisan antologi. Jangan mudah bosan, jangan mudah menyerah. Pelajari teknisnya dan pelajari bagaimana diri kita menuliskan ide-ide yang fresh, unik, beda, dan cemerlang. Oh ya, serius pengin menguji nyali dengan mengikuti seleksi tulisan buat buku antologi? Silakan ikuti even ini: Dicari Naskah True Story Ubah Lelah Jadi Lillah. Berani terima tantangan?

[] Ditulis Oleh: Dwi Suwiknyo.

11 thoughts on “Strategi Lolos Seleksi Antologi”

  1. wah strategi nya jitu nih. soal ide ini memang menantang. kadang kalo true story kan ya ga mungkin diada-adakan to, terima nasib jika kisah pribadinya ga seunik kisah penulis lain, hehe. true story Ubah Lelah jadi Lillah masih nunggu buku datang

  2. Penulis harus jujur untuk menentukan apakah ide dan tulisannya bagus atau jelek.
    Persoalannya hanya Pinokio yang tahu apakah dia jujur atau berbohong. Penulis enggak bisa seperti Pinokio.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *