Sihir Sebuah Musik dan Persoalan Cinta Remaja

Sebuah lirik lagu yang waktu itu paling hits jadi mars kangen-kangenan di masa SMA adalah lagunya Slank. Kalau enggak salah yang penggalan liriknya seperti ini:

Terlalu manis untuk dilupakan

Kenangan yang indah bersamamu

Tinggallah mimpi….

Terlalu manis untuk dilupakan

Jika kita memang tak saling cinta

Tak kan terjadi,

Diantara kita….

Para remaja yang hidup di tahun 90-an pasti ingat betul bagaimana nge-hits-nya lagu itu. Waktu kegiatan pentas seni di sekolah, atau sekadar kumpul-kumpul, biasanya meskipun sekali, lagu itu tak ketinggalan untuk dilantunkan.

Memang secara chord lagunya sederhana, hanya kunci-kunci dasar saja. Sehingga tidak begitu sulit untuk dipelajari. Tinggal ambil gitar, buka majalah Hot Chord (majalah musik yang berisi chord lagu-lagu hits), kemudian mulai memainkan gitar. Perkara nada sumbang, pikir belakang.

Namun, yang menjadi persoalan sebenarnya bukanlah mahir tidaknya bermain musik, tapi ada sihir apa di dalam musik tersebut sehingga bisa begitu ampuh menjadi teman setia di segala suasana. Saat sedih karena putus cinta, musik jadi pelipur lara. Ketika senang karena jatuh cinta, hati rasanya pengin jingkrak-jingkrak mengikuti alunan irama. Lihat saja film India, haha.

Ada banyak penelitian tentang pengaruh musik terhadap diri seseorang. Terutama pengaruhnya terhadap kecerdasan, emosi, dan perilaku sosial. Sebagian besar penelitian tersebut menunjukkan bahwa musik memang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kondisi-kondisi tertentu yang dialami seseorang. Hingga kemudian muncul pertimbangan mengenai kemanfaatan musik sebagai terapi yang berkaitan dengan masalah emosi.

Dalam buku Psikologi Musik dituliskan bahwa, musik bisa memengaruhi suasana hati dan berefek pada peningkatan konsentrasi. Selain itu dalam musik juga terdapat analogi persepsi, visual, auditori dan logika. (Djohan, 2009).

Maka, wajar sekali jika seseorang pas lagi kangen-kangenan kemudian bersenandung lagu favoritnya. Karena ketika bersenandung tersebut sejatinya emosi yang ada dalam diri kita sedang menyejajarkan frekuensi dengan suasana yang dibangun oleh musik dan lagu. Bisa karena nada lagunya yang sendu, atau riang seperti perasaan kita. Bisa pula karena makna liriknya yang “gue banget.” Atau bisa jadi karena lagu itu mengingatkan kita pada suatu peristiwa.

Termasuk ketika seorang remaja sedang dililit persoalan cinta. Pasti bawaannya pengin mencari pelampiasan agar kesedihannya berkurang.

Realitanya banyak remaja yang terpuruk akibat masalah cinta yang dihadapi. Terjerumus mengonsumsi narkoba, pergaulan bebas, atau lebih parah lagi, bunuh diri. Miris sekali, bukan?

Permasalahannya bukan karena mereka tidak memiliki media untuk melampiaskan kekecewaan, tapi lebih kepada kemampuan mengelola keadaan untuk menyelesaikan masalah. Tiap-tiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Tergantung bagaimana lingkungan membentuk karakter mereka.

Sering kali meskipun telah mampu mengelola keadaan dengan baik, ternyata rasa sakit dan kenangan itu tidak hilang. Kenangan tentang mantan masih saja membayang seperti roh gentayangan. Maka, beberapa remaja kadang membiarkan kenangan itu tetap ada. Bahkan memupuk kenangan itu menjadi sesuatu yang berharga. Misalnya, menjadi motivasi untuk memperbaiki diri, menulis cerita, atau menulis buku. Namun, banyak juga remaja yang merasa tersiksa. Menganggap kenangan itu sebagai parasit yang merusak jiwa. Hingga bawaannya galau dan merana.

Sebuah hasil penelitian mengenai strategi coping pada remaja pasca putus cinta menunjukkan bahwa, “Kondisi para remaja setelah melakukan berbagai strategi coping ternyata belum bisa sepenuhnya melupakan mantan, masih membenci mantan, dan merasa masalahnya belum selesai. Meskipun ada beberapa remaja yang menyatakan masalahnya sudah selesai.” (Yulianingsih, 2012).

So, memiliki strategi coping yang baik itu sangat penting. Terutama bagi remaja yang kita tahu kondisi emosionalnya yang labil. Mereka sebenarnya masih butuh pendampingan dan arahan untuk bisa melewati permasalahan hidup yang dihadapi. Enggak hanya dari keluarga, tentu dari semua aspek. Baik guru, teman, maupun saudara.

“Strategi coping adalah upaya mengelola keadaan dan mendorong usaha untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan seseorang, dan mencari cara untuk menguasai atau mengurangi stres.” (King, 2010).

Paling menarik ketika melihat bentuk-bentuk coping yang dilakukan remaja ketika putus cinta. Macam-macamlah bentuknya. Salah satunya ya, mendengarkan musik. Sepertinya memang musik memiliki kekuatan sihir yang dahsyat. Hingga bisa klop di segala suasana hati seseorang. Enggak peduli susah, senang, maupun yang di antara susah dan senang. Musik selalu jadi teman menata jiwa.

“Mencari pacar baru, minta masukan kepada teman atau saudara, jalan-jalan, mencari kesibukan, dan mendengarkan musik, merupakan bentuk-bentuk mekanisme coping yang dilakukan remaja pasca putus cinta.” (Yulianingsih, 2012).

Nah, apa kabar mantan?

Terlalu manis untuk dilupakan ….

Ditulis oleh: Seno NS.

Reviewer: Nurul Chomaria

Referensi:

Eagle (1978) dalam Djohan, 2009, Psikologi Musik, Yogyakarta: Best Publisher.

Yulianingsih, Yuli, 2012, Strategi Coping Pada Remaja Pasca Putus Cinta, sebuah naskah publikasi.

King, A. L. (2010), Psikologi Umum (buku 2), Jakarta: Salemba Humanika.

Baca Juga:   Ngapain Harus Jadi Gold Member TPY?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *