SERAYU; WISATA KULINER BARU

Daerah ini mudah sekali di temukan, kalau dari utara tentu Anda akan menemukan patung semut. Itulah awal Anda menapaki sebuah dusun yang bernama Serayu. Jalanan yang sudah beraspal halus, memperlancar arus kendaraan. Kalau Anda datang dari selatan maka Anda tinggal belok ke utara, pas ada kandang biru. Kandang ayam yang fenomenal. Kandang yang digunakan untuk memelihara ayam. Ayam yang dipelihara sangat banyak sehingga  menyerap tenaga kerja yang banyak pula. 

Berawal dari situlah, kandang biru itu mulai dikenal banyak orang. Bahkan aku yang bukan warga asil Serayu saja mengenal apa itu kandang biru. Dusun Serayu ini sebetulnya sebuah pedukuhan yang terdiri dari 3 (tiga) dusun yaitu Serayu, Jebugan dan Sabrangkali. Walaupun nama ketiganya berbeda namun dusun-dusun tersebut dipimpin oleh satu kepala dusun saja. Ini jelas terlihat dari Rukun Tetangga (RT) yang ada. Serayu mempunyai RT 1, 2 dan 3, Jebugan mempunyai RT 4, 5 dan 6. Sementara Sabrangkali mempunyai dua RT yaitu RT 7 dan 8.

Sekilas Serayu itu tidak mempunyai keunggulan atau potensi yang bisa dibanggakan. Penduduknya yang sebagian besar petani, membuat mereka fokus pada sawah. Ya, ada juga sih yang menjadi pegawai tapi tidak banyak. Keadaan pemukiman yang cukup padat membuat lahan atau tanah semakin menyempit. Maklum daerah ini masih dalam lingkup kecamatan Bantul sehingga masih termasuk kota Bantul. Melihat keadaan seperti itu, terus terang saja sepertinya tidak ada yang spesial dengan Serayu. Bahkan aku yang sudah menetap 10 tahun di Serayu pun bingung apabila ditanya keistimewaan Serayu itu apa.

Sebab tidak ada yang secara spesifik menonjol dari Serayu. Semua tampak biasa dan wajar saja. Namun, setelah aku amati ya ada sih potensi yang bisa digali dari Serayu ini. Aku menemukan potensi yang besar, yang bisa dikembangkan di Serayu. Potensi keunggulan itu adalah makanan tradisionalnya. Makanan tradisional dari daerah Yogyakarta. Ini mungkin terdengar sepele tetapi aku yakin ini hal yang luar biasa.

Apa yang mau aku sampaikan adalah potensi wisata kuliner yang tersimpan di Serayu. Bila Anda datang ke Serayu, rasakan geliat para pengusaha warung makan. Jangan harap warung makan sekelas Padang, Fried chicken atau Burger itu ada. Tidak ada itu. Wisata kuliner yang aku maksud adalah makanan lokalnya. Di sini, di Serayu ini ada industri makanan tradisional. Mungkin di kota atau beberapa tempat, makanan tradisional ini sudah hilang. Bahkan mungkin para penjualnya sudah meninggal, berhubung orang yang paham makanan itu orang-orang zaman dahulu. Ya, para orangtua dahulu kala. Sehingga kalau makanan dari zaman dahulu kok masih ada, berarti itu yang istimewa.

Makanan tradisional tersebut mulai tumbuh di beberapa titik di Serayu. Jangan lihat penampilan warungnya sebab warung-warung itu tampak sederhana dan apa adanya. Ini bukan karena kurang kreatif. Tidak. Ini disebabkan memang kemampuan dana atau modal mereka tidak terlalu besar sehingga manajemen pemasaran terabaikan. Namun, jangan salah sangka kalau soal rasa, makanan tradisional di Serayu tidak kalah dari tempat lain. Walaupun selama ini konsumennya masih orang-orang sekitar warung tersebut.  

Makanannya belum diproduksi secara massal. Dan belum banyak orang luar kampung yang mau menyempatkan diri makan di sini. Oleh karena itu, warung ini masih memerlukan pembinaan agar bisa berkembang dan maju. Ya, pembinaan dari dinas terkait agar menjadi potensi wisata kuliner yang baru.

Baiklah kalau Anda mulai penasaran dengan wisata kuliner yang ada di Serayu. Sekarang pertanyaannya, Anda mau datang dari arah mana? Semisal Anda datang dari arah utara maka ketika Anda menjumpai patung atau tugu semut, Anda tinggal berbelok ke selatan. Beberapa meter dari tempat itu, Anda akan menemukan warung ala kadarnya. Warung itu menempel di rumah, lebih tepatnya, warung itu ada di teras rumah. Pemilik rumah menyulap teras menjadi sebuah warung makan.

Dengan cara kreatif, dia memosisikan barang-barang di tempat yang tepat. Sehingga jadi deh warung makan yang murah meriah. Lalu ada apa saja makanan yang tersedia? Berhubung warung ini, buka di malam hari tentu sebagian besar makanannya adalah makanan berat. Namun jangan salah biarpun makanan berat, tetap yang disajikan adalah menu makanan khas ndeso.

Di warung ini, Anda dapat menikmati berbagai olahan mie. Yang aku maksud bukan sejenis mie ayam atau mie Jakarta. Bukan. Itu bukan mie asli Bantul. Itu terlalu modern, apalagi mie udong atau spaghetti, yang jelas-jelas makanan import. Kita perlu memperkenankan produk lokal, produk daerah, yang cita rasanya jauh lebih mak nyus. Di warung ini, Anda dapat mencicipi mie godhok, mie lethek, nasi rebus dan lain sebagainya. Itu semua makanan khas orang-orang desa.

Tentu makanan itu sesuai dengan lidah kita yang paham sekali dengan rempah-rempah atau bumbu dapur. Eits, jangan khawatir soal harga sebab harga makanan di warung ini tidak mahal. Murah banget malah. Cuma sayangnya, tempatnya kurang representatif untuk para pembeli. Dengan kondisi seperti itu, kebanyakan pembeli membawa pulang pesanan makanannya. Hm, namun kalau Anda merasa betah membeli dan makan di situ, penjual juga menyediakan berbagai macam minuman. Jadi tenang, Anda tidak akan kehausan setelah makan makanan yang pedas.

Mau mencoba warung makan lainnya? Baiklah. Tidak berapa jauh dari warung pertama, ada warung makan yang tidak kalah enaknya. Warung ini sebenarnya lebih dulu buka dibandingkan yang pertama. Munculnya warung yang baru, tidak membuat khawatir sebab warung ini sudah mempunyai pelanggan tetap. Biarpun tempatnya agak masuk  tetapi banyak yang mencari.  Anda masuk gang kecil, tidak kecil-kecil amat sih, tetapi jalan itu hanya muat dilalui maksimal satu mobil saja.

Jadi kalau ada dua mobil berpapasan maka salah satu harus mengalah; mundur atau balik terlebih dahulu. Yang jelas bergantian mengingat jalannya yang sempit. Warung ini buka dari siang, paling lambat waktu Ashar sampai malam hari. Hampir mirip dengan warung yang pertama, warung ini juga menjual makanan berat. Dari mie dengan berbagai olahan sampai nasi.

Di samping menjual makanan berat, warung ini juga menjual berbagai macam goreng-gorengan. Gorengan yang sering disediakan yaitu tahu isi, bakwan jagung, tempe goreng dan lain sebagainya. Di samping makanan kecil, warung ini juga menyediakan minuman dingin atau panas. Kalau yang sering aku pesan adalah wedang jahe. Semua makanan yang dijual di warung ini, selalu fresh from the oven. Sebab semua makanan dimasak dadakan jadi masih panas dan menggugah selera. Bila tidak mau membawa pulang pesanan, warung ini juga menyediakan kursi dan meja untuk melahapi makanan di tempat. Walaupun tempatnya tidak begitu luas namun cukup nyaman makan di situ.

Banyak orang memesan makanan dan minuman dari warung ini. Bahkan banyak orang-orang sekitar yang ketempatan ronda memesan makanan dan minuman di sini. Di samping harganya murah, pemilik warung juga berkenan mengantar makanan sampai rumah. Sehingga kita tidak usah repot-repot datang lagi ke warung ini. Jadi semacam pelayanan dari Go Food gitu. Warung ini juga menerima pesanan lewat SMS atau WA sehingga kalau pesan tidak perlu datang ke warung terlebih dahulu. Cukup lewat HP.

 Jenis pelayanan ini menjadikan segala sesuatu lebih efektif dan efisien. Itulah berbagai menu kuliner di waktu malam di Serayu. Bila Anda tertarik, cobalah satu atau dua kali datang di sini dan nikmati menu makanan di kedua warung tersebut. Aku yakin Anda tidak akan kecewa. Eits, Anda malas pergi malam hari? Oke, Serayu juga menyediakan wisata kuliner tradisional di pagi hari.

Dari warung ini, Anda tinggal jalan terus ke selatan dan berhentilah saat tiba di gedung serba guna. Di samping gedung serba guna tersebut, seorang nenek dan biasanya dibantu suaminya, menjual makanan tempo dulu. Warung yang kecil dan sangat sederhana itu menyiratkan bahwa makanan di warung itu murah-murah. Di warung ini, Anda bisa menemukan Blendung Jagung.

Blendung Jagung adalah makanan lokal yang terbuat dari jagung dan parutan kelapa. Kedua bahan itu dicampur kemudian ditaburi garam biar terasa asin dan gurih. Hanya cukup dengan uang dua ribu rupiah, Anda mendapatkan sebungkus Blendung Jagung yang gurih dan empuk. Pernah aku mencoba merasakan Blendung Jagung ini dan terasa enak serta jagungnya sendiri empuk, tidak keras. Jadi makanan ini cocok juga untuk nenek, kakek dan anak-anak. Mereka tidak perlu takut giginya tidak kuat sebab biji jagungnya lunak.

Apakah hanya Blendung Jagung saja? Tentu saja tidak. Anda dapat temukan juga bakmi pentil dan bakmi-bakmi yang lain. Ada juga gethuk, makanan yang terbuat dari singkong. Gethuk ini tanpa pewarna, artinya warnanya alami yaitu putih kecoklatan. Warna coklat itu berasal dari warna gula merah yang dicampurkan. Gethuk ini bukan seperti gethuk dari daerah lain yang berwarna-warni tetapi polos saja. Alami.

Mungkin menarik sih gethuk warna-warni tetapi kalau mencari yang higiene, tentu cari saja yang tanpa zat pewarna makanan.  Jadi gethuk ini cukup menyehatkan, minimal membuat rasa lapar kita terobati. Ini juga masih murah meriah. Oiya, ada juga minuman dawet. Walaupun dawet ini bukan buatan sendiri namun itu pun termasuk minuman tempo dulu.

Nah, itu makanan di sebelah selatan gedung serba guna. Kalau di utara gedung serba guna, ada makanan khas Yogyakarta yang lain yaitu gudeg. Gudeg jebugan, Serayu ini cukup terkenal. Konon katanya Bondan “Mak Nyus” Winarno pernah datang ke warung gudeg tersebut. Kalau tidak salah ingat masuk dalam acara kuliner di Trans TV. Hebatkan?

Dengan potensi gudeg yang sudah me-nasional tersebut, Serayu jelas punya potensi. Sebab selama ini kiblat untuk gudeg masih berada Wijilan atau jalan Kaliurang namun dengan potensi gudeg Serayu bukan tidak mungkin menjadi alternatif bagi pecinta gudeg. Tinggal bagaimana metode promosi dan inovasi dari pemiliknya, syukur-syukur pemerintah daerah ikut andil dalam mengembangkan. Ya, paling tidak, dinas terkait turun tangan.

Selanjutnya kita bisa terus berjalan ke selatan. Di dekat tikungan, ada warung bubur dan makanan tradisional lainnya. Bubur ini, bubur khas Yogyakarta bukan bubur ayam khas Jakarta. Bubur di warung ini, bubur dicampur dengan berbagai sayuran. Biasanya ada dua sayuran yang menjadi pilihan; sayur pedas atau sayur tidak pedas. Dengan uang tiga ribu rupiah, Anda akan kenyang makan bubur di sini. Untuk lauknya Anda tinggal pilih sih. Ada tempe goreng, tempe bacem bahkan ada tempe koro bacem.

Tempe koro ini adalah tempe yang berbeda dengan tempe kedelai. Tempe koro ini identik dengan biji tempenya yang besar-besar sebab memang dari biji koro itu besar-besar. Walaupun biji tempe ini besar-besar namun tetap empuk dan tidak keras. Mungkin dalam pengolahannya yang lama atau memang disiasati biar tidak keras bijinya. Di samping tempe koro, ada juga makanan lain.

Makanan lain inilah yang merupakan titipan dari para tetangga yang ingin menjual. Jadi warung ini membuka lapangan usaha bagi para tetangga. Ada tetangga yang membuat peyek kedelai dan peyek kacang dititipkan di sini. Peyek-peyek ini pun khas Yogyakarta, peyek yang renyah dan gurih. Ada juga nasi kuning yang dibungkus plastik transparan. Nasi kuning ini dihargai tiga ribu rupiah, harga yang cukup murah untuk warga sekitar. Belum makanan lain seperti cap jay, mie goreng dan lain sebagainya.

Ada juga lho di Serayu itu pengusaha tempe tradisional. Tempe tradisional itu dibuat dengan cara-cara yang sederhana dan manual. Bahkan pembungkusnya saja masih menggunakan daun. Berbeda dengan tempe buatan pabrik yang dibungkus plastik dan cara mengolahnya pun menggunakan mesin. Namun, fakta membuktikan bahwa banyak konsumen tempe yang lebih memilih tempe tradisional daripada tempe pabrik. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tempe tradisional lebih enak dan gurih. Itulah mengapa, sampai saat ini, tempe buatan pabrik tidak bisa menggeser tempe buatan tangan. Cita rasa tempe yang dibungkus daun memang memiliki ciri khas tersendiri.

Akhir kata, jika Anda ingin berkunjung ke Serayu, Anda tidak perlu membawa uang yang banyak. Cukup bawa uang Rp. 10.000 dijamin Anda pasti kenyang. Sebab makanan yang ada di Serayu itu murah meriah. Anda tinggal pilih saja, mau berkunjung ke Serayu di waktu malam hari atau pagi hari. Idealnya, Serayu menjadi desa wisata yang bisa digunakan untuk berkunjung kapan pun. Sehingga bila ada tamu yang mau menginap, itu pun sangat mungkin. 

Ya, seperti desa wisata yang lain, menyediakan penginapan untuk para tamu. Penginapan yang disediakan tidak perlu yang mewah atau megah, cukup menggunakan rumah warga yang disewakan. Hal ini mirip dengan desa-desa wisata yang lain. Kalau desa wisata yang lain menjual kegiatan atau kerajinan maka Serayu menjual kulinernya. Dengan makanan tradisional yang masih lestari hingga saat ini, bukan tidak mungkin Serayu menjadi destinasi wisata kuliner yang baru. Semoga.

Ditulis oleh: Joko Sulistya

Reviewer: Hapsari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *