Senyum Ayah

Saat hujan semakin menitik, senyum ayah membuat dadaku bergemuruh. Degup jantung pun berdentam-dentam, seumpama beduk yang ditabuh tanpa irama. Oh, God! Aku salah tingkah setiap kali lelaki 47 tahun itu menebar pandang ke arahku. Seolah takut kehilangan kesempatan, ia terus saja mengawasi. Apakah ayah tahu, betapa saat ini perasaanku bercampur aduk tak tentu rasa? Ah, entahlah. Aku tak pernah bisa menebak kedalaman relung hatinya.

“Hampir jam delapan, Dit,” ujar ayah penuh penekanan. “Jangan menunggunya lagi.”  

Aku berhenti mengintip ke luar kaca jendela dan segera membenahi duduk. Suara ayah seperti mengingatkan betapa penantian ini hanya sebuah kesia-siaan belaka. Bibirnya yang hitam dan agak tebal, menciptakan senyum yang terasa begitu mendakwa. Aku semakin gelisah. Antara harapan, kesal dan cemas berbaur menjadi satu. Ayah benar, sudah hampir satu jam dari waktu yang dijanjikan, tetapi Hans belum juga tercium kehadirannya. Kendati demikian, sekali lagi aku meyakinkan diri bahwa cowok baru di kelasku itu akan datang seperti janjinya kemarin malam. Aku pun ingin ayah memiliki keyakinan sepertiku.

“Dia akan datang!” tegasku sekali lagi. “Percayalah, Ayah.”

“Kapan? Jam dua belas malam?” Tatapan ayah tajam menusuk. “Kalau dia berniat baik, apa salahnya dia mengabarimu, toh dia punya nomer pribadimu.”

Aku diam beberapa saat mencerna kalimat ayah yang terakhir. Sebenarnya, ingin aku mengatakan kepada ayah bahwa Hans sangat berbeda. Ia bukan cowok yang maniak terhadap gadget. Bahkan untuk menggunakan smartphone dan segala fasilitasnya saja, cowok jangkung itu sangat perhitungan melakukannya. Aku tidak mau diperbudak tekhnologi, begitu alasan yang selalu ia lontarkan. Aku bisa paham. Ini prinsip yang dia pegang, dan aku salut dengan sikap cowok modern namun terkesan kuno ini. 

“Ayah sudah katakan sejak kemarin, Dit.” Mata ayah menyisir wajahku, seperti tengah menakar sebentuk rasa pada rona wajah anak tunggalnya. “Anak itu tidak akan serius menjalin hubungan dengan kamu. Yakinlah, dia hanya akan membuatmu kecewa.”

“Ayah, kami saling kenal baru tiga bulan yang lalu….”

“Tiga bulan bukan waktu yang singkat,” sergah ayah, tidak ingin kehilangan kesempatan berbicara—terlalu mendominasi. “Kalau dia serius bermaksud menjadikanmu pasangannya, dia pasti sudah mengatakannya sejak dulu. Percayalah, anak Cina itu hanya akan menyakitimu.”

Aku bertanya, sedikit menahan emosi. “Kenapa Ayah semakin rasis saja?”

“Dia bukan untukmu, Dit!”

“Anak Ayah ini bahkan belum genap 17 tahun, terlalu muda untuk ngurusin masalah hubungan serius begitu. Ayah, Dita masih SMA kelas dua. Semoga Ayah nggak lupa ini,” protesku mencoba mengingatkan. “Tapi kenapa Ayah jadi seserius ini?”   

“Ayah tidak ingin kamu menderita. Belajarlah dari masa lalu Ayah. Itu akan membuatmu lebih dewasa!” pungkas lelaki berahang kukuh itu, lalu gegas meninggalkanku di ruang tengah. 

***

Ayah memang seperti itu. Selalu saja menganggap serius setiap persoalan, termasuk juga tentang hubunganku dengan teman-teman cowok. Bukan, bukan kali ini saja! Ayah sudah melakukannya sejak ibu mangkat hampir dua tahun yang lalu. Sejak itu, lelaki berbadan tegap itu menjadi amat protektif dan membatasi pergaulanku. Ayah selalu harus tahu ke mana dan dengan siapa aku pergi. Apa yang aku lakukan serta berapa lama waktu yang dibutuhkan. Meskipun sering protes, ayah tidak pernah terlalu peduli. Sikapnya sangat sulit ditebak; kadang manis, tetapi dalam kesempatan yang lain bisa saja menjadi sadis di luar dugaan.

Dalam hal urusan dengan teman cowok, persyaratan dari ayah tidak bisa ditawar-tawar; harus dibawa ke rumah dan berkenalan langsung dengannya. Seperti sudah menjadi tradisi, ayah akan mengintrogasi. Pertanyaan yang tak pernah absen adalah ‘siapa orangtuanya’ dan ‘termasuk dari etnis yang mana’. Dugaanku bisa saja benar, ayah antipati terhadap etnis Tionghoa. Sikap ayah yang terkesan kolot ini, menyebabkan banyak teman cowok agak alergi. Tidak sedikit yang trauma lalu tidak mau berkunjung ke rumah lagi. Itu sebabnya, meskipun hanya teman-teman biasa, belakangan aku lebih sering sengaja menjauhkan mereka dari ayah.

Namun, usahaku menyembunyikan Hans sepertinya telah gagal. Pagi kemarin ayah berangkat kerja lebih awal dari biasanya. Ia memergoki cowok beralis tebal itu di ujung gang ketika tengah menungguku. Yang tidak pernah aku ceritakan pada ayah, sudah lebih dari sebulan kami selalu berangkat bersama ke sekolah. Hans selalu menungguku di ujung gang menuju jalan utama. Dengan motor 150 cc-nya, ia menjemput dan mengantarkanku. Kedekatan ini kadang menciptakan percikan api cemburu di antara teman-teman sekelas. Tentu saja! Selain berwajah tampan dan atletis, Hans adalah cowok yang sangat lembut dan perhatian. Tak kupungkiri, kehadirannya telah mampu menyirami palung hatiku yang belakangan agak gersang.   

“Sekarang kecurigaan Ayah terjawab sudah!” sambut ayah sore harinya. Ia sudah menunggu kepulanganku di ruang tengah. “Kenapa kamu tidak menggunakan motormu, ternyata anak Cina itu penyebabnya. Bukan karena rusak, seperti yang kamu bilang!”

“Tapi motor Dita benar-benar rusak, Ayah.” Aku tidak sedang membela diri tentu saja. Pada kenyataannya, sepeda motorku belakangan ini seringkali tiba-tiba saja mogok. “Dan Hans menawarkan tumpangan, apa salah kalau Dita menerimanya?”

“Kenapa bukan yang lain saja?”

“Ayah, apa salahnya dengan Hans? Dia cowok yang baik dan sopan, kenapa harus menolak bantuannya? Lagian, dia hanya ingin menjadi teman dan belajar bersama kok. Kebetulan kami satu kelompok belajar. Ayah jangan terlalu kaku begitu dong!”

“Kaku katamu?” Mata ayah yang hitam mendelik, sedikit menyeramkan. “Ayah sedang melindungimu, Dit! Anak Cina itu hanya akan menyakitimu. Dari tingkahnya, Ayah sudah tahu dia pemuda macam apa. Ingat Dit, Ayah tidak ingin kisah masa lalu Ayah terulang. Dan Ayah tidak mau kamu merasakan kekecewaan dan penderitaan seperti yang pernah Ayah alami.”

“Aduh, Ayah! Hans hanya membutuhkan teman baru. Biarkan Dita jadi temannya.”

“Kamu bisa berteman dengan yang lain, bukan dengan anak Cina itu!”

“Teman yang lain? Sama saja, toh Ayah nggak akan suka!”

“Dita….” Ayah memandangiku agak lama. “Kamu milik Ayah satu-satunya yang paling berharga. Bagaimana mungkin Ayah rela jika ada yang menyakitimu. Tidak akan, Dit.”

Lantas meluncurlah kisah tentang masa lalunya. Tidak pernah kuduga sebelumnya jika ayah memiliki sesuatu yang tak indah. Tentang gadis keturunan Tionghoa bernama Yona yang pernah mengisi hari-harinya. Mereka pernah berjanji untuk menyatukan cinta dalam bahtera rumah tangga. Namun, ayah harus rela menelan pil pahit dan menerima kecewa. Keluarga Yona tidak pernah merestui hubungan mereka. Kedua orangtua Yona menganggap, perkawinan antaretnis akan merusak kepribadian dan masa depan anaknya yang selama ini tunduk pada tata krama dan aturan yang berlaku di masyarakat dan keluarga besarnya. Ayah menilai ini sebuah alasan yang terlampau konyol. Meskipun ayah berjanji bahwa semua yang mereka khawatirkan tidak akan terjadi, tetapi tetap saja restu itu tak pernah terlontar. 

Ayah harus mau menerima kenyataan bahwa hidup tak selamanya berjalan seperti yang direncana. Ia teramat hancur dan terluka. Terlebih saat Yona dipaksa kawin dengan lelaki pilihan kedua orangtuanya. Tentu, lelaki keturunan Tionghoa yang dianggap sama-sama memiliki etika luhur dan bisa menyelamatkan keturunan etnis mereka di kemudian hari. Dugaanku tepat. Ayah memendam kekecewaan dan dendam terhadap etnis yang satu itu.  

“Ayah, ini semua cerita masa lalu, kan? Sekarang sudah beda jaman.” Aku berusaha menyadarkan ayah yang masih tenggelam dalam bayang-bayang kelam. “Maafkan Dita kalau terkesan mengajari. Tapi, Ibu pernah bilang, hidup dengan dendam hanya akan menyisakan penyiksaan bagi batin. Dendam tidak akan membuat kita bahagia. Apa Ayah nggak bisa move on dari masa lalu, bahkan setelah Ayah memiliki Ibu dan Dita?”

“Kamu tidak akan paham, Dita.” Ayah menarik napas pelan dan lalu menurunkan nada suaranya beberapa oktaf. “Kamu belum kenal anak Cina itu… terlebih keluarganya.”

“Maskipun belum pernah bertemu dengan kedua orangtua Hans, tapi Dita yakin mereka bukan orang yang berpikiran sempit.” Kuhampiri Ayah. Kugenggam tangannya dengan penuh perasaan. “Please, jangan dipukul rata begitu, Ayah. Dita yakin mereka beda.”

“Bagaimana kamu bisa yakin?”

“Dita melihat Hans yang luar biasa,” pujiku dengan kejujuran hati—sok bijak dan dewasa. “Tentu semua ini tak lepas dari peran pola asuh kedua orang tuanya, Ayah.”

Seperti biasa, jika merasa argumennya terbantahkan atau sulit berargumen, ayah akan selalu diam. Diam hingga ia menemukan pembuktian atau argumennya lalu menguap begitu saja. Namun, kalimat pendek berikutnya justru tak pernah kuduga meluncur dari bibir ayah. “Kalau begitu, bawa dia menghadap Ayah,” ujarnya pendek.

Sejak awal, aku sama sekali tidak pernah punya niat—tidak pernah punya keberanian, tepatnya—untuk meminta Hans berkunjung ke rumah. Ada ragu dan takut menelusup di celah hati. Akankah Hans bersikap seperti teman-teman yang lain setelah bertemu ayah? Namun demikian, tak urung aku harus menyampaikannya. Aku sudah siap dengan segala resiko. Dan sungguh tak pernah terbesit dalam benak, ternyata Hans justru merespons positif saat aku ceritakan tentang keinginan ayah. Ia pun berjanji akan berkunjung malam ini, pukul tujuh tepat.

Ayah sudah yakin sejak awal, Hans tidak akan pernah punya keberanian menerima undangan. Ayah juga amat yakin dengan asumsinya, bahwa cowok Cina itu hanya akan menyakitiku. Maka ayah merasa berada di atas angin ketika satu jam berlalu dari waktu yang dijanjikan. Hans tidak akan pernah datang, begitu keyakinannya. Senyum kemenangan tercipta sempurna di bibirnya. Aku semakin berdebar menyaksikan senyum ayah yang terkesan aneh. Menakutkan. Di sisi yang lain, aku tak sabar menanti kehadiran Hans.       

***

Hujan menitik semakin kerap. Jam dinding yang berdetak dengan irama lesu menunjukkan pukul 8.45. Aku menyerah dan harus mengakui bahwa ayah memang benar; Hans tidak akan pernah memenuhi janji. Antara kecewa dan lega menyergap perasaan dalam waktu bersamaan. Ya, aku kecewa jika ternyata Hans hanyalah cowok pengecut yang terlalu gampang mengobral janji. Sungguh, kenyataan ini terlalu pahit untuk bisa diterima. Namun, hati kecilku mengakui bahwa ada kelegaan di sana. Meskipun bukan aku yang mengalaminya, namun hatiku bersorak riang karena Hans terlepas dari introgasi ayah yang kadang terlalu berlebihan.

Manakala Ayah mengingatkanku untuk melupakan Hans, kulihat bayangan di balik tirai jendela. Oh, God! Hans akhirnya datang. Cowok itu mengetuk pintu. Kebimbangan melanda; antara membukakan pintu untuk Hans dan memenuhi keinginan ayah agar tidak menghiraukan cowok itu lagi. Hatiku semakin kecut menyaksikan ayah yang berdiri di tengah ruangan dengan tatapan yang sulit kuartikan. Pandanganya beralih pada pintu, lalu padaku.

“Ayah, kita nggak akan membiarkan Hans kehujanan, kan?” Aku merengek penuh permohonan. Sejujurnya aku kesal karena Hans telah abai pada janji. Namun membiarkan cowok itu diterpa angin dingin dan hujan, tentu tidak pernah terpikirkan olehku. “Dita yakin, ayah bukan lelaki yang nggak punya hati. Dita ngerti siapa ayah.”

“Dit….” Ayah menghampiri dan menjejeriku. “Kamu yakin bisa bahagia bersama dia?”

“Maksud Ayah?”

“Dengar, Dit, Ayah tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti orang yang paling ayah cintai.” Ayah merangkul pundakku secara lembut. Tatapannya menelusuk ke bola mataku. Suara beratnya terdengar tegas. “Ayah tidak akan rela puteri Ayah terluka. Ingat, siapa pun yang berani main-main denganmu, dia harus berhadapan dengan Ayah.” 

Ucapan ayah membuat aku terharu. Tanpa kuasa kucegah, sudut mata ini pun basah. Kupeluk ayah dengan segenap perasaan. “Tak ada apa pun di dunia ini yang bisa menandingi cinta Dita terhadap Ayah. Dan… Ayah tahu, Dita nggak akan pernah mengecewakan Ayah.” 

Suara ketukan di pintu terdengar lagi seiring rintik yang menjadi hujan. Aku diam. Kubenamkan seluruh perasaan dan menikmati degup jantung ayah. Lelaki idola kami ini tidak kejam, aku yakin  ibu benar. Ia termasuk tipe lelaki tegas dan bertanggungjawab.

“Dit, kamu tidak harus belajar dari pengalaman pahit Ayah di masa lalu.” Ayah mengangkat wajahku agar bisa menatap wajahnya. “Bahagia atau tidak, kamu harus bisa memutuskannya sendiri. Dan Ayah yakin, itu semua tidak akan kamu dapatkan jika kamu tak pernah mencobanya. Nah, sekarang Ayah tidak akan ikut campur dalam urusan asmaramu. Silakan, kamu bebas memilih, sejauh bisa membuat kamu bahagia dan lebih baik ke depannya.”

“Jadi….”

“Sudah, lekas bukakan pintu untuk Anak Cina itu….”

“Hans, Ayah.”

Aku menyaksikan senyum simpul ayah saat ia melangkah pelan ke ruang dalam. “Ayah mau bikin teh untuk menghangatkan badan,” ujarnya tertahan. “Tanyakan pada… anak Cina itu, Hans maksud Ayah. Apakah dia suka teh?”

***

Ditulis oleh: Redy Kuswanto

Reviewer: Jack Sulistya

Baca Juga:   BINCANG BARENG EDITOR NOVEL REMAJA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *