Sekotak Kasih Sayang

Bagi sebagian besar orang yang bekerja di Jakarta, baik yang tinggalnya masih di wilayah Jakarta maupun di Jakarta ‘coret’ alias sekitar Jakarta seperti Bekasi, Bogor dan Tangerang, tentu tidak asing lagi dengan ritual seperti berikut ini.  Berangkat kerja di pagi buta lalu sarapan seadanya di warung sekitaran kantor.  Kemudian pulang saat matahari mulai menghilang dan kadang sambil menunggu terurainya kemacetan memutuskan untuk mampir di warung pinggir jalan.  Selain melepaskan pegal dan menuntaskan lapar tentu saja.

Saya adalah satu dari orang-orang tersebut.  Pamulang – Sudirman adalah rute saya sehari-hari, lima hari dalam satu minggu.  Bukan sopir atau kernet Kopaja, loh, ya. Bukan juga tukang ojek walaupun saya berkendara roda dua.

Kebetulan ada teman satu kantor yang tinggal satu perumahan dengan saya.  Ira namanya.  Bersama dialah saya membelah lalu lintas Jakarta setiap harinya.  Kadang sebagai kompensasi Ira membelikan bensin untuk ‘blacky’ – motor kesayangan saya – karena dia tinggal duduk manis sementara saya harus konsentrasi penuh dan mengendarai ‘blacky’ dengan gesit.

Biasanya di perjalanan kami sudah berdiskusi serius, dengan tema : mau sarapan di mana nih?  Kalau masih ada waktu lumayan lama, kami bisa sarapan sambil nongkrong beberapa saat di bubur ayam Kuningan, misalnya.  Atau lontong sayur enak di Setiabudi.  Tapi kalau sedang macet sekali, kami hanya sempat memilih salah satu dari deretan penjual makanan yang berjajar di trotoar di samping gedung tetangga kantor kami.  Cukup beli dengan dibungkus, lalu makan di pantry. Kebetulan di setiap lantai disediakan pantry kering. Ada kulkas dan kitchen set untuk karyawan menyimpan perbekalan konsumsi sehari-hari.

Begitu pun saat perjalanan pulang.  Rute favorit kami adalah Radio Dalam.  Rasanya semua jenis kuliner ada di situ.  Dari bakso, masakan manado, sate padang, bebek goreng, dimsum sampai steak.  Sangat lumayan untuk menambah tenaga karena rumah kami masih separuh perjalanan lagi.

Terkadang mama Ira menyambut kami di teras rumahnya, untuk sekadar bertanya, “Kok, sampai malam sekali.  Macet, ya?”  Atau, “Sudah pada makan belum?”  Dan kami cengar-cengir sambil mengiyakan walaupun sebenarnya Ira merasa bersalah, karena dia hampir tidak pernah menyantap masakan mamanya.

Lalu suatu pagi, waktu saya menjemputnya, Ira keluar dari pintu pagar sambil menyodorkan kotak makanan.  “Buat elu, gue juga dibawain Mama, nih.”  Dia menunjuk tas kanvas yang dia tenteng.

Dari dalam rumah Mama Ira berseru, “Buat sarapan atau buat makan siang, ya.  Biar ngurang-ngurangin jajan kalian.”

Cesss …, rasanya nyaris tumpah air mata ini.  Tapi bisa repot kalau sampai ingusan di balik helm full face yang saya pakai.  Saya hanya bisa berucap ‘terimakasih’ dengan gemuruh tak terkira di dalam dada.

Membawa bekal makan, untuk bujangan (waktu itu) di perantauan seperti saya jelas suatu kemewahan tersendiri.  Seperti mendapat perhatian istimewa selagi jauh dari keluarga sendiri.  Apalagi mama Ira kadang sampai menanyakan lauk dan sayur apa yang saya suka.  Duh …, so sweet.

Sebenarnya mamanya Ira prihatin melihat sepak terjang kuliner saya dan Ira.  Menurut beliau, tidak sehat kalau jajan melulu.  Tidak sehat di badan dan di kantong.  Begitulah, sampai sejauh itu perhatian beliau pada saya, yang hanya teman anaknya.

Ibu saja sampai terharu waktu saya cerita kalau sehari-hari Mama Ira menyiapkan bekal makan untuk saya.

“Alhamdulillah, anak Ibu ada yang ngopeni [1] di tempat jauh.  Ibu titip salam ya, sama ucapan terimakasih.”  Begitu kata ibu sambil sesenggukan di seberang sana.

Kotak bekal makanan itu menjadi satu cerita manis dalam persahabatan saya dengan Ira, mamanya dan seluruh anggota keluarga Ira.  Sampai setelah hampir 5 tahun kami berpisah pun – karena saya keluar dari pekerjaan dan mengikuti suami di kota lain – hubungan kami tetap hangat layaknya dua saudara perempuan.

Jadi, bukan tidak mungkin, ketika di perantauan dan jauh dari keluarga, kita tidak bisa merasakan kehangatan layaknya di rumah sendiri. Tak jarang persahabatan yang begitu akrab justru menambah saudara baru.

 

Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

Reviewer: Jack Sulistya

 

[1] ngopeni : mengurus

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *