SECUIL TERONG DAN ISTRI KAYA

 

sumber: pixabay

 

Sambil menikmati puncak puasa Ramadhan, saya duduk menghadap layar computer. Ada beberapa tugas yang menunggu untuk dieksekusi. Ramadhan tahun ini, akan ada kegiatan akreditasi sekolah. Tentunya, persiapan demi persiapan dilakukan. Keutamaan waktu Ramadhan menjadi tidak termaksimalkan dengan baik. Maka mendengarkan lantunan ayat suci al-Qur’an dan terkadang ceramah-ceramah islami yang bersebaran di youtube menjadi solusi. Mendulang pahala ganda. Betul-betul lautan ilmu jika dimanfaatkan dengan baik.
Tangan saya berhenti mengetik saat mendengarkan kisah ini diceritakan oleh salah satu ustad. Saya dengarkan dengan seksama, lalu tangan saya mulai membuat catatan-catatan penting. Sebuah kisah indah hijrahnya seorang pemuda. Yuk!
Kisah nyata ini terjadi di zaman tabi’in. Al-kisah, ada seorang pemuda yang memiliki latar belakang yang suram dengan segala kemaksiatan telah dilakukannya. Hidayah datang, yang mengantarkannya mendatangi seorang Syaikh yang alim untuk belajar dan kembali ke jalan yang benar.
“Saya ragu Anda bisa belajar dengan saya,kata Syaikh untuk menguji kesungguhan sang pemuda.
“Saya akan sabar ya, Syaikh,jawabnya membulatkan tekad.
Sang guru tinggal di lingkungan masjid, sebagai pengajar dan imam masjid. Ia hidup penuh kezuhudan, setiap hari ia hanya makan kurma dan air putih saja. Secukupnya.
Hari pertama sang pemuda hijrah ini bisa sabar. Hari kedua masih sabar. Hari ketiga godaan mulai datang.
“Hai sobat, kamu sudah cukup baik. Coba bayangkan syaikhmu ini hanya makan kurma dan minum air setiap hari. Mungkin sudah bertahun-tahun. Cobalah kamu cari makanan yang lebih gurih buatnya untuk kamu berkhidmat.” Bisikan datang dalam bentuk kebaikan. Menolong guru.
“Hem, betul juga ya.” Nafsunya membenarkan. Berangkatlah ia membenarkan bisikan itu. Mencari makan buat sang guru.
Dengan mengendap-endap, ia panjat tembok rumah pertama yang paling dekat dengan masjid. Mengintip mencari-cari makanan. Nihil. Melewati rumah ke dua, ia mencium aroma bau masakan yang menggiurkan. Dilihatnya ada panci di tungku. Tanpa pikir panjang, ia lompat masuk dan menuju ke arah panci. Ketika dibuka ada tiga biji terong yang sudah matang, siap santap.
Bisikan sisi jiwa negatifnya terus mendorong. “Hei, ini cocok untuk Syaikhmu. Cicipi dulu. Kalau cocok kamu tinggal minta bahwa Syaikhmu membutuhkan ini. Pasti dikasih.” Hampir semua orang mengenal keilmuan dan keshalehan sang guru. Jadi, akan sangat mudah baginya meminta sesuatu mengatasnamakan Syaikhnya.
Diikutilah saran hatinya, diambillah satu terong, lalu dicuil, dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Belum sempat ia mengunyahnya, terdengar bisikan, “Istighfar ya Akhi , ini bukan hakmu.”
Sadar dengan apa yang telah diperbuatnya, tiba-tiba ia keluarkan dan muntahkan dari mulutnya secuil terong yang sudah terlanjur masuk. Dan tanpa menunggu lama, ia berlari, bergegas ke masjid tempat Syaikhnya mengajar. Sepanjang jalan, tidak henti-henti ia beristighfar.
Dengan hati penuh rasa bersalah, ia berniat ingin menyampaikan apa yang terjadi padanya dan meminta kepada Syaikhnya agar membimbingnya untuk bertaubat.
Tatkala sudah berada di depan pintu masjid, ia menyaksikan seorang wanita duduk di hadapan Syaikhnya sedang berkonsultasi. Di sampingnya ada seorang bapak yang sedang menunggu.
Melihatnya di depan pintu berdiri, sang Syaikh langsung memanggil penuh gembira, seolah-olah sudah lama menunggunya, “Ya bunayya ta’al. Duduk di sini.”
“Ini ada perempuan, ditinggal wafat suaminya, masa iddahnya sudah selesai, masih muda dan cantik, kebetulan belum memiliki keturunan.” Syaikhnya menjelaskan penuh harap, tanpa memberikan kesempatan kepada muridnya untuk bertanya.
“Karena ingin menghindari fitnah. Maka, ia Ingin mencari pendamping hidup. Dan meminta saya untuk mencarikannya seorang suami. Siapkah Ananda menikah dengannya?”
Kaget. Karena tidak siap dengan pertanyaan yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya. Membuat pemuda ini cukup lama berpikir.
“Ya Syaikh, Anda bercanda, kan? Saya kan, tinggal dengan Anda, makan pun numpang. Bagaimana saya bisa menghidupinya?” ucapnya sangsi.  
“Ananda jangan kuatir, ia hanya butuh laki-laki yang baik yang mampu membawanya ke surga. Ia ditinggalkan cukup banyak harta dari suaminya.”
Singkat cerita, lamaran pun diterima. Berhubung bapaknya sebagai wali sudah ada di tempat, maka pernikahan langsung diselenggarakan.
Setelah menikah, keluarlah mereka dari masjid menuju rumah sang istri. Mereka kemudian melewati rumah pertama yang paling dekat dengan masjid. Hati sang pemuda bergetar, Ya Allah, jangan-jangan ini rumahnya.
Namun, sang istri tidak berhenti. Begitu melewati rumah kedua, ia cepat-cepat menarik tangan istrinya. Tapi istrinya menahan tangan suaminya.
Zaujii, ini rumah kita sayang.” Sambil tersenyum mesra
Dengan hati yang berkecamuk, masuklah ia ke rumah perempuan yang baru saja dinikahnya. “Zaujii, apakah engkau lapar?” tanya istrinya, mencoba mencairkan suasana.
Ia hanya mampu mengangguk, kebayang hanya makan kurma dan minum air selama ini. Mengikuti pola makan gurunya.
“Saya sudah menyiapkan makan spesial hari ini. Sebentar ya, sayang.”
Rupanya ia sudah membuat makanan sebelum berangkat bertemu Syaikh di masjid. Makanan spesial untuk siapa pun yang akan menjadi imamnya.
Terdengar teriakan dari dalam dapur, “Ya Allah, siapa yang makan terong saya.”
Dengan mengumpulkan semua kekuatan yang dimiliki, didatanginya sang istri di dapur.
 “Demi Allah istriku, saya mau jujur. Kejadiannya begini ..., begini, dan begini. Sampai imanku mengatakan keluarkan, lalu aku keluarkan dan kembali ke masjid, bertemu kamu dan sampai kita berada di sini, jelasnya panjang lebar, dari awal sampai ia berdiri di hadapan istrinya. Tanpa ada yang ditutupinya.
Mendengar penjelasan suaminya, didekapnya laki-laki itudengan penuh kehangatan. “Demi Allah suamiku sayang, secuil terong yang engkau muntahkan karena Allah itu, Allah gantikan dengan yang lebih besar. Allah berikan semua sekaligus terongnya dengan panci-pancinya, dengan rumahnya plus pemilik terongnya.”
“Allah Akbar. Apa yang iatinggalkan karena Allah, Allah siapkan yang lebih dan lebih besar dari yang ditinggalkan.” Desahku cukup dalam. Lama saya terdiam sambil bersandar di kursi. Terbayang lemahnya iman selama ini. Tidak begitu yakin akan janji-Nya.
Sambil menikmati sisa ibadah puasa, dada membuncah penuh keyakinan. Seperti tenggerokan yang kering dialiri air yang sejuk nan manis. Cessh. Nikmat rasanya. Allah, janji-Mu pasti benar.
Saya kemudian merapikan catatan kecil ini menjadi tulisan yang utuh. Lalu, saya kirimkan kepada orang yang saya cintai saat ini. Istriku. Agar ia bisa belajar dari kisah ini dan mengajari anak-anaknya mentaati-Nya.
***
Ditulis oleh: Syahrul-seorang guru yang gemar menulis.
Baca Juga:   Membedah Mitos pada Keluarga Pak Santoso

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *