SEANDAINYA WAKTU ADA 25 JAM SEHARI, MASIH BELUM CUKUPKAH?

Rupanya, waktu akan berasa begitu berharga jika setiap detiknya kita lewati dengan sadar, bermanfaat, dan berkesan. Entah, waktu itu untuk bekerja, untuk bersendagurau dengan anak, untuk beribadah, maupun untuk aktifitas lain. Kita akan merasa bahwa waktu kita cukup saat kita melakukan segala sesuatunya dengan efisien, tidak terburu-buru. Kapan itu terjadi? Saat semua sudah berjalan sesuai dengan planning. Jadwal. Begitu pentingnya. Ada jadwal kegiatan yang waktunya tidak dilewati waktu salat? yaitu pagi hingga siang. Merupakan waktu yang paling longgar, waktu antara salatnya.

Bagaimana saat kita membandingkan dengan waktu lainnya? Hampir, semua waktu lainnya akan “diganggu” oleh datangnya waktu salat. Nah, sadarkah kita, hal apakah yang selama ini paling sering membuat kita merasa tidak atau belum tenang? Satu-satunya adalah salat. Melakukan aktifitas apapun, kita tidak akan merasakan ketenangan, sebelum kita tunaikan salat, di setiap waktu salat. Apa jadinya, saat kita melaksanakan salat di akhir waktu? Kita akan merasakan ketenangan, sebentar saja. Setelahnya? Resah lagi, karena harus menunaikan salat lagi di waktu berikutnya, yang ternyata sudah langsung datang.

Beruntung, jika kita bisa menunaikan salat saat itu juga, artinya kita dapat menegakkan salat tepat diawal waktu. Celakanya, karena kita baru saja salat untuk waktu salat sebelumnya, maka kita akan tunda lagi untuk salat yang waktunya baru datang tersebut. Karena merasa masih banyak waktu untuk menunggu. Begitu seterusnya. Ternyata, perasaan risau, tidak tenang dan menunda-nunda salat itulah, menjadi penyebab utama kita merasa tergesa-gesa dan selalu merasa kurang waktu, untuk hal-hal lain yang ternyata bersifat dunia.

Belajar, bagi sebagian besar siswa merupakan aktifitas yang biasanya diborong menjelang ujian saja. “SKS” atau Sistem Kebut Semalam, orang sering meyebutnya. Hingga rela tidak tidur semalaman, hanya untuk merampungkan bab yang mau diujikan esok pagi. Rupanya, waktu begitu cepat berlalu karena kita asyik membaca dan menalar segala hal yang dipelajari saat itu. Tahu-tahu pagi datang. Padahal masih banyak yang belum dibaca. Hehe. Ini, juga merupakan contoh ketergesa-gesaan yang membawa ketidaktenangan, akhirnya berujung kepada protes, kenapa waktu hanya 24 jam dalam sehari? Sepertinya kurang nih! Setidaknya, protes kita, tidak akan memberi solusi apa-apa.  Intinya, lebih baik mengerjakan sesuatu di awal waktu, akan lebih memberi banyak waktu luang yang bisa dinikmati sempurna. Seperti halnya salat, yang menjadi kewajiban kita, sehari 5 waktu. Gimana tidak akan meneror setiap saat? So, hanya dengan memperbaikinyalah kita bisa memperoleh waktu tenang lebih banyak, dan hari-hari pun akan berjalan menyenangkan setiap saat.

Contoh kecil lainnya, saat kita sedang asyik menyapu, tiba-tiba terdengar suara azan. Kemudian kita berpikir, “Ah, sebentar lagi selesai kok,” kita lanjutkan menyapunya, tanpa menghiarukan suara panggilan Allah melalui muazin itu. Yang ada, setelah selesai menyapu, kita tetap belum beranjak mengambil wudu, apalagi salat. Rupanya, ada “pekerjaan” lain yang muncul, padahal tadi belum terpikirkan. Tiba-tiba gerimis, baju sudah kering dijemur, sayang kalau kehujanan. Setelah angkat baju dari jemuran, “Ah, sayang mumpung masih hangat, kalau langsung dilipat ‘kan bisa menghemat listrik untuk setrika.” Selesai lipat baju, tengok jam dinding, sudah setengah 5 sore, “Ah, manasin air untuk mandi anak-anak, sekalian ditinggal salat nanti pas panas airnya.” Bener, multitasking! Tapi apakah habis itu salat? Belum tentu juga, karena tiba-tiba anak bungsu menangis, rebutan mainan sama kakaknya. Begitu seterusnya, bergumul dengan urusan yang sepele namun tidak ada akhirnya. Tahu-tahu kita lihat jam 17.30, astaghfirullah, belum salat asar! Nah! Ada yang seperti itu? Atau hanya aku saja yang pernah mengalaminya?

Rupanya hal-hal tidak jelas itulah yang sering menyita waktu kita, mencuri waktu kita tiba-tiba habis. Beda cerita, jika saja saat kita sedang menyapu tadi, kita mendengar azan asar, kita langsung salat. Seandainya pun tetap hujan gerimis, kita akan melewati sore dengan hati yang lebih tenang, semua akan baik-baik saja, dan kita punya banyak waktu yang dilalui dengan lebih enjoy. Terutama, karena ketenangan kita sudah menunaikan salat, dapat kita ambil lebih cepat dari yang sebelumnya. Kita akan lebih tenang menjalani semuanya.

Bagi sebagian orang, 24 jam sehari teramat sempit. Seolah bernegosiasi, seandainya bisa, dalam sehari, memiliki waktu lebih dari 24 jam, pasti bakal tersampaikan semua agenda. Biasanya, orang yang merasa kurang waktu tersebut, adalah orang-orang yang terlampau sibuk dengan aktifitasnya, yang dia anggap penting semua. Di sisi lainnya, pun ada orang-orang yang meski aktifitasnya sangat banyak, namun tetap enjoy menjalani waktu, yang memang tidak bisa di utak-atik lagi. Ya, sehari, sudah dan akan selalu 24 jam. Mereka adalah orang-orang yang salatnya selalu di awal waktu.

Seorang pedagang pasar misalnya, bangun sebelum subuh, bersiap ke pasar, ada yang salat dulu, ada yang sekedar mencuci muka karena ia tidak menjalani salat. Bagi pekerja PNS, juga akan merelakan jam tidurnya berkurang, beberapa menit hingga jam untuk bangun lebih awal, memasak dan mengurus anak, sebelum akhirnya jam 07.00 pagi, harus sudah berada di kantor. Penjual sarapan, apalagi, setiap hari harus bangun dini hari untuk mengejar segala sesuatunya agar siap sebelum jam sarapan dimulai. Belum lagi, bila kita lihat, orang-orang yang bekerja di luar kota atau jauh dari tempat tinggalnya. Sebelum subuh sudah harus berangkat kerja, untuk menghindari kemacetan yang menggila, bahkan tak pernah sempat sarapan di rumah. Sekedar menyiapkan sarapan untuk anak-anak, pun tak ada waktu, semua dipercayakan kepada pembantunya. Berangkat sebelum subuh, pulang saat hari telah larut malam. Begitu seterusnya. Mau gimana lagi? Memang harus melewati semua itu, demi apa? Ada yang demi harta, ada yang demi masa depan, dan lain-lain.

Dari contoh-contoh di atas, bisa kita bayangkan betapa sibuk dan repotnya menjalani aktifitas yang hampir setiap hari sama? Bisakah menikmati waktu yang bergulir detik demi detik? Atau semua hanya terlewat begitu saja, tanpa bisa kita sadari, hanya karena fokus pada lelah dan target kerja yang begitu tinggi. Bahagiakah selama menjalaninya selama ini? Tercapaikah tujuan hidup selama ini? Jika harta yang dikejar, berapa milyar harta yang sudah terkumpul hingga detik ini? Atau, seberapakah bahagia anak-anak kita selama ini? Yang notabene, tujuan setiap usaha kita, adalah untuk kebahagiaan anak.

Membahas masalah waktu. Tentu saja tidak akan bisa ditawar lagi. Sehari akan tetap sama, 24 jam. Namun, dari masing-masing individu pasti berbeda dalam menyikapinya. Ada yang setiap saat mengeluh kurang waktu. Ada juga yang berandai-andai, bilamana waktu dalam sehari ditambah 1 jam saja. Bisa dipastikan, semua yang mengeluh hal serupa itu, pasti tidak bisa menikmati waktu, dan selalu merasa kurang waktu. Bahkan, jika sehari menjadi 25 jam. Tidak bisa menikmati waktu sama dengan tidak bisa menikmati hidup. Tentu saja, karena hidup adalah seluruh waktu yang kita lewati, dalam keadaan bernyawa di dunia ini.

Ada sebagian orang yang enjoy, menikmati setiap detik yang ada, serta hampir tidak pernah mengeluh mengenai jumlah waktu yang diberikan Tuhan kepadanya. Meski sama-sama 24 jam sehari, sama dengan lainnya, tapi dia berasa sangat cukup, bermanfaat, ceria, tidak terburu-buru, tenang dan terpancar kebahagian yang tulus dari setiap pancaran matanya. Ialah yang selalu menjaga salatnya di awal waktu. Gimana? Mau waktunya ditambah sehari menjadi 25 jam? Atau cukup dengan 24 jam sehari, namun semua dapat dilalui dengan tenang, gembira dan penuh manfaat untuk orang lain. Kemudian yang terpenting, dapat menjalaninya untuk membahagiakan keluarga tercinta? Salam.*) Ditulis oleh: Eka Wahyuni

Baca Juga:   Galeri Event Temu Penulis Yogyakarta - 6 Oktober 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *