Salah Jurusan Bukan Berarti Kamu Jauh dari Kesuksesan

Diantara kegelisahan yang dialami anak muda, merasa salah masuk jurusan kuliah menjadi salah satu alasan yang masuk dalam daftar penyebab gelisah. Terbukti, artikel yang membahas tentang salah jurusan ini sangat mudah ditemukan. Sepertinya, banyak diantara kita yang merasa salah mengambil jurusan kuliah. Memang, ada kalanya apa yang kita usahakan memberikan hasil di luar ekspektasi. Katanya sih, yang ideal itu kalau kita masuk ke jurusan yang sesuai dengan skill dan kompetensi kita.

Makin dilema, ketika orangtua memberi arahan tetapi tidak sesuai dengan skill yang kita punyai. Kita merasa tidak suka tetapi sulit menolaknya. Solusinya? Bisanya kita memilih mendaftar di beberapa jurusan. Pertama, jurusan yang kita suka. Ke-dua, berdasarkan saran atau pilihan orangtua. Lalu yang ke-tiga, biasanya random aja. Mana yang bisa jadi cadangan. Tanpa disangka, kita malah diterima di pilihan yang bukan prioritas.

Kenapa sih, merasa salah jurusan?

Ada banyak faktor yang menyebabkan kita merasa salah jurusan. Pertama, bisa karena kita tidak punya visi sejak awal. Mau jadi apa sih, nanti? Apa yang menjadi mimpimu? Intinya, tujuan yang jelas akan membuat kita semakin mudah merencanakan. Kalau diibaratkan tujuan adalah sebuah kota, maka jurusan kuliah adalah kendaraan. Kalau kita tahu kota tujuannya, kita bisa tahu pilihan kendaraan mana yang cocok digunakan. Dengan demikian, ilmu yang kita dapat saat kuliah bisa kita manfaatkan untuk mencapai tujuan dan mimpi kita.

Faktor lain yang sering menjadi penyebab kita merasa salah jurusan adalah karena alasan yang kurang tepat. Kadang, kita hanya tergiur oleh kesan keren atau mengikuti teman. Kita memilih tanpa melakukan riset yang cukup tentang jurusan yang akan dimasuki. Begitu sudah masuk, ternyata hal-hal yang semula kita anggap keren malah memberatkan. Akhirnya, kita merasa tidak cocok. Maka dari itu, sebetulnya riset tentang jurusan kuliah sangat perlu dilakukan. Setidaknya, kita bisa menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan-tantangannya. Kita bisa mencari informasi mengenai mata kuliah yang harus ditempuh dan bagaimana peluang kerjanya.

Kalau Udah Terlanjur ‘Nyemplung’ Terus Gimana?

Ada pepatah klasik yang tepat untuk menggambarkan situasi ini, bunyinya begini “Nasi sudah menjadi bubur, tinggal tambahkan kerupuk dan ayam suwir supaya jadi bubur ayam spesial.” Memang, pepatah ini sudah bukan dalam bentuk asli dan sedikit guyon. Tetapi kita bisa mengambil motivasinya. Jangan merasa kalah oleh situasi, karena kita masih bisa menentukan sikap. Coba merenung, lihat sudah sejauh apa melewati masa kuliah? Bagaimana hasil kuliah selama ini? Apakah sudah cukup baik? Kalau ternyata kamu mendapatkan hasil yang baik, ini bisa jadi pertimbangan untuk melanjutkannya.

Selain pertimbangan waktu dan hasil sementara, mungkin biaya yang telah dikeluarkan menjadi hal yang membuat kita dilema. Di satu sisi, kita berpikir terlalu sayang untuk melepas biaya yang sudah dikeluarkan. Apalagi, itu adalah hasil kerja keras orangtua. Berdiskusi dengan orangtua akan menjadi sebuah solusi yang tepat. Jujurlah dengan kondisi kita dan mintalah pendapat orangtua. Jadi, kita bisa sama-sama menemukan solusi dengan pertimbangan yang lebih luas. Melanjutkan atau pindah jurusan, keduanya sama-sama memiliki risiko. Tinggal kita sendiri yang memilih. Kembali berjuang dari nol dengan waktu yang mungkin akan menjadi sedikit lebih lama atau bertahan dan berjuang lebih keras untuk beradaptasi?

Kalau Kamu Memilih Bertahan

Kalau sudah memilih untuk bertahan, artinya kita punya komitmen untuk berkompromi. Mungkin, awalnya akan terasa berat tapi yakinlah ada cara-cara yang bisa kita coba untuk membantu beradaptasi. Sadarkan diri bahwa kita tidak sendiri. Kita punya keluarga, jaga komunikasi dengan mereka. Merekalah yang akan mendukung dan menerima segala kekurangan kita. Di kampus atau dirantau, kita pasti punya teman. Jangan ragu untuk meminta bantuan, teman kelas yang pintar tentu bisa menjadi tempat bertanya. Ada juga dosen. Bapak dan Ibu dosen akan menerima kita dengan terbuka. Kalau ada materi yang sulit kita mengerti, silakan bertanya dengan cara yang baik.

Coba juga untuk aktif dalam kegiatan nonakademis. Kita bisa mengasah softskill, menemukan teman baru dan bisa menemukan pengalaman seru yang mungkin bisa jadi hiburan. Jangan salah, prestasi nonakademis juga bisa membantu kita di dunia kerja nanti, loh. Kemampuan leadership, public speaking dan teamwork bisa menjadi bekal untuk menghadapi tantangan di dunia kerja. Kegiatan luar kampus juga bisa membantu kita menambah jaringan. Kita bisa bertemu dengan banyak teman di luar jurusan bahkan luar universitas. Tapi, jangan kesampingkan kuliah ya, karena tugas utama kita tetaplah belajar.

Hargai Prosesnya

Semua kesulitan yang kamu lewati, tentu akan membentuk pribadi kita. Tidak ada masalah yang tidak membawa hikmah. Bisa jadi, salah jurusan adalah jalan kita menemukan jati diri. Kita malah semakin mengenal diri kita, memahami keinginan kita dan terhindar dari hidup yang santai tanpa banyak berusaha. Salah jurusan membuat kita merasa perlu bekerja keras, tanpa disangka kita menjadi sosok yang kuat dan tidak mudah menyerah. Hingga masalah-masalah yang lebih kecil, tidak membuat kita kalah.

Proses kuliah, apa pun jurusannya akan membuat kita belajar berpikir analitis. Kerangka berpikir kita akan dibuat sistematis. Apalagi kalau nanti sudah mulai berurusan dengan skripsi. Selain kerangka berpikir yang terlatih, mental kita juga bisa terlatih. Dari mulai mengurus macam-macam keperluan menjelang skripsi, menunggu dosen untuk bimbingan, melakukan penelitian hingga menghadapi ujian. Semua itu akan menempa kita menjadi pribadi yang makin andal dan tahan banting. Dimana pun kuliahnya, di jurusan apa pun, kita tentu akan melewati masa kritis atau masa-masa menghadapi masalah. Jadi, nikmati prosesnya dan pahami bahwa diri kita akan semakin terbentuk.

Kamu Mungkin Perlu Tahu, Mereka Ini Sempat Salah Jurusan

Kenal Pak Chairul Tanjung, ya? Betul sekali, beliau adalah pemilik jaringan CT Corp. Kita familier dengan Trans TV dan Trans7. Tidak asing juga dengan TransMart yang cabangnya semakin lama semakin bertambah. Siapa sangka, Pak Chairul Tanjung pernah menempuh pendidikan dokter gigi di Universitas Indonesia. Sekarang, kita bisa lihat sendiri kan? Bahwa Pak Chairul bisa sukses dengan bisnis meskipun tidak berkuliah di bidang tersebut.

Di kalangan public figure, ada Adi Nugroho. Kita kenal Mas Adi Nugroho semenjak menjadi pembawa acara di Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Mas Adi ini bergelar S.T. alias Sarjana Teknik. Selain bisa bertahan di dunia entertainment hingga sekarang, Adi Nugroho juga punya bisnis kuliner loh!

Ada lagi satu contoh yang tidak kalah sukses dari dua public figure tadi. Seorang konsultan keuangan, motivator dan juga penulis. Bahkan cerita hidupnya telah diangkat ke layar lebar dengan judul Mimpi Satu Juta Dollar. Siapakah dia? Betul, Merry Riana. Perempuan yang kini berusia 38 tahun itu adalah lulusan dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura. Ia memulai kuliah pada tahun 1998 di jurusan Electrical and Electronics Engineering (EEE). Nah, terbukti kan, dia bisa sukses menjadi konsultan keuangan?

Apakah Jurusan Menentukan Kesuksesan?

Jurusan adalah sebuah alat, berhasil atau tidaknya sebetulnya tergantung dari siapa operatornya. Lalu, siapa operatornya? Kita sendiri. Kita yang sebetulnya menjadi kunci dari kesuksesan kita. Seberapa besar usaha kita untuk terus belajar dan menempa diri. Kesuksesan itu tidak punya rumus pasti. Kalau kita bicara soal cara, tentu ada banyak sekali. Salah jurusan bukan hambatan menuju sukses. Kalau memang jurusan adalah penentu kesuksesan, sudah pasti ada jurusan-jurusan yang terpaksa harus ditutup. Untuk apa ada, kalau dari awal sudah bisa dilihat bahwa lulusannya tidak akan sukses? Lagipula, siapa yang bisa memastikan masa depan, sih?

Ditulis oleh: Hapsari Titi

Reviewer: Jack Sulistya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *