Saat Anak Menjadi Guru Kita

Sumber gambar: liputan6.com

Saat Anak Menjadi Guru Kita (Kisah si Kecil dan Teman-temannya) – Bersyukur adalah hal yang wajib saya lakukan, karena telah dibekali kebahagiaan menjadi seorang Ibu. Orangtua bagi buah hati. Tak semua orang diberi amanah oleh Allah untuk menjaganya. Ada juga sebagian orang yang belum waktunya dititipi. Memiliki seorang buah hati adalah titik balik bagi saya akan kehdupan masa lalu. Belajar berubah menjadikan diri ini hamba yang selalu tak puas dalam belajar.

 

Suatu sore di kediaman kami, anak lelaki kami, Akhtar, seperti biasa bermain di depan kos. Kami tinggal di kos pasutri (pasangan suami istri) yang tiap kamar sewanya berderet memanjang. Kamar berukuran 5×3 m2, hidup bertiga dengan salah satunya adalah batita usia 27 bulan membuat batita ini ingin selalu keluar kamarnya dan mengeksplor lingkungan sekitar. Beruntungnya, tetangga kami memiliki anak-anak yang seusia. Walau jarang di rumah karena selalu menemani orangtuanya bekerja, si kecil dan anak-anak tetangga selalu akrab saat bertemu bahkan bermain bersama.
Van, sebut saja nama batita tetangga kos sebelah saya. Ayahnya merupakan tenaga marketing suatu produk minuman. Bundanya adalah pedagang di suatu pasar di Jogja. Tiap mereka mencari rezeki, Van ikut. Kadang ikut ayahnya mengurus event-event yang berhubungan dengan produk yang ditawarkannya. Sering pula Van ikut menemani Bundanya berjualan buah dan minuman di tenda pasar. Berangkat pagi pulang sore atau bahkan malam hari sering dirasakan Van. Waktunya bermain bersama teman-teman seusianya kurang untuk kebutuhan anak seusianya.
Prasangka awal saya saat tahu Van libur menemani Ayah Bundanya adalah ia akan menghabiskan waktu bermainnya di dalam kamar. Batita laki-laki berusia hampir 3 tahun ini, pasti asyik memainkan gawai bundanya dan tak mau keluar kamar. Namun, saya salah. Van ternyata keluar kamar saat Akhtar menungguinya di depan kamar. Akhtar, yang jarang bertemu Van, awalnya memang hanya mengintip dari seberang teras depan kamarnya. Menunggu siapa tahu teman kamar sebelah nongol. Akhtar dulunya adalah batita yang saat disapa pun akan menjauh dan malu. Namun semenjak saya membiasakannya bertemu keluarga dan teman-teman saya, ia mulai mengembangkan hubungan sosial sesuai usianya.
Pernah suatu hari, saya sedang asyik membereskan kamar dan berniat mengepel lantai. Akhtar keluar kamar saat Van berdiri di sebelah pagar besi depan kamarnya dan seperti mencari teman yang bisa diajaknya bermain. Entah bagaimana prosesnya, yang saya tahu, Akhtar memulai memanggil Mas kepada Van.
“De Akhtar, ada Mas ya? Mau main bareng?” Saya mencoba mengawali ajakan agar Akhtar dan Van main di teras.
Mengeluarkan semua mainan adalah taktik Akhtar menarik Van bermain bersamanya. Akhtar menunjukkan mainannya lalu, “Main. Mas. Main.” Akhtar mengajak Van memainkan mainannya. Sesaat kemudian Van tertarik lalu ikut bergabung.
 
Saya masuk sebentar untuk mulai mengepel lantai. Akhtar dan Van asyik dengan mainannya masing-masing. Usia 2-3 tahun memang usia yang dikenal dengan berkumpul bersama namun dengan mainannya masing-masing. Setelah lama memainkan, mereka meletakkannya lalu mencoba bermain hal lain yang lebih menantang. Para batita laki-laki ini mulai mencari batu dan mengumpulkannya di satu tempat. Lalalala, nanana, tertawa bersama akan hal yang mereka rasa lucu merupakan kebahagiaan yang membuat suasana pertemanan hidup. Tak perlu membawa gawai lalu menjelaskan apa yang sedang dimainkannya, mereka akrab dengan mainan alamnya.
 
Lain Van, lain pula Ra. Ra adalah anak perempuan pertama dari pasangan suami istri yang tinggal di kos yang sama. Ayahnya yang bekerja di pembangunan gedung mengharuskannya pergi pagi pulang sore. Bunda Ra adalah ibu rumah tangga. Ra di  3 tahun usianya sudah disekolahkan playgroup. Setiap jadwal sekolah, Ra akan pergi diantar Bundanya. Akhtar juga sering bermain dengan Ra saat sore hari. Sepulang Ra sekolah di siang hari, ia tak langsung pulang ke kos. Rumah Mbah Ra yang dekat dengan sekolah menjadi tempat transit Ra sampai waktu sore tiba. Walau baru pulang sore hari, anak kecil ini tak pernah kehilangan semangat bermain.
Di saat Ra pulang dari bepergian, Akhtar pasti sudah menunggu Ra di jendela. Menatap ke depan. Terkadang saat Ra melintas, Akhtar cepat-cepat keluar kamar.
“Mbak. Main. Mbak.” Ajakan main selalu terlontar untuk Ra.
Lalu Ra akan meminta izin Bundanya bermain bersama Akhtar. Waktu bermain di sore hari yang singkat tak membuat semangat mereka padam. Ra biasanya akan membawa mainan yang diminatinya ke teras depan kamar kami. Ra berperan sebagai kakak yang baik bagi Akhtar, mencoba mengajarkan bagaimana seharusnya memainakan mainannya walau terkadang ada momen rebutan mainan.
Momen ini adalah momen yang awalnya membuat saya stres. Bagaimana membuat mereka bermain tanpa harus berebut. Kadang saya mencoba mengatakan bahwa mainan itu milik kak Ra, jadi Akhtar harus meminta izin dulu apakah boleh memainkannya. Tapi tak selalu berhasil. Tangisan Akhtar karena ingin memainkan mainan  Ra membuat saya menghentikan dulu keasyikan mereka sementara. Namun nyatanya, saya sebenarnya tak harus sekhawatir ini. Toh anak-anak diberikan  hati yang lembut oleh Alloh, tak seperti kita. Tanpa mengingat peristiwa yang lalu, mereka akan bermain kembali dengan riang. Seakan-akan momen rebutan mainan itu tidak ada sebelumnya. Suatu pelajaran kecil namun bermakna besar bagi orang dewasa, bukan?
Anak kecil dengan segala fitrahnya memiliki ketulusan hati dalam bergaul dengan siapa saja. Ya, siapapun. Rasa prasangka, khawatir berlebihan, dan semua pikiran-pikiran aneh tak ada dalam kepala mungilnya. Tidak seperti kita, semakin dewasa semakin sering pula tak cocok satu sama lain. Berpura-pura mengerti, iri bahkan dengki, bahkan berniat untuk menghancurkan dengan diiringi senyum kebahagiaan melihat penderitaan orang lain. Peristiwa kecil sang pelopor kebaikan ini menjadi salah satu pembelajaran hidup kita.
Tak mudah sebenarnya memaknai petuah yang dibawa sang anak. Namun kita bisa coba tips-tips berikut ini untuk membuka hati berguru kepada anak.
1. Kosongkan Ilmu Sementara.
Apabila kita mau mengosongkan ilmu kita untuk menerima ilmu lain, ilmu-ilmu tersebut akan sampai di hati kita. Hikmah-hikmah besar akan mudah didapatkan dari suatu peristiwa kecil bermakna denagn mencoba menyelaminya.
2. Mencoba Peran menjadi Anak.
Sesekali, meleburlah menjadi anak. Nikmati perannya di sela-sela waktu kita. Bermain bersama adalah cara termudah menikmati peran anak, mengetahui posisi si anak sesuai kacamatanya.
3. Meluangkan Waktu Memahami Perasaan Anak.
Anak menangis, sedih, inginnya menempel orangtuanya adalah salah satu ekspresi perasaan anak. Sebagai orang tua, membiarkan anak menhghayati apa yang dirasakan membuat kita mengenal lebih jauh buah hati.
4. Anak adalah Manusia, Orang Dewasa Versi Mini.
Memanusiakan manusia adalah cara termudah membuka hati memahami orang lain. Begitu juga anak, hormati apa yang sedang dilakukannya. Dibatasi boleh saja selama batasan itu memberi dampak negatif.
Ditulis oleh: Dhita Erdittya.
Baca Juga:   [Cerpen] Luka Rinda

4 thoughts on “Saat Anak Menjadi Guru Kita

  1. nice article 🙂

    memang harus belajar dari anak, terutama bab memaafkan dan melupakan.
    biasanya anak diusilin temannya, ibuknya yang bapernya lama, padahal anaknya udah balik main lagi sama temannya. hihii…

  2. Saya sering harus bersikap kekanak-kanakan untuk menjiwai peran. Saat berbicara pun dibuat-buat. Kadang malu sendiri kalau ingat hal itu. Terlepas ada beberapa typo, tulisan ini keren. Selamat menjadi ortu yang mengerti dunia anak. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *