Roy Belajar Musik

Roy ingin menjadi pemain musik. Kebetulan ayahnya juga suka musik. Gitar merupakan alat musik yang sering dimainkan ayah Roy. “Aku ingin seperti ayah. Aku juga ingin bisa memainkan gitar seperti gitaris Gigi, Dewa Bujana,” demikian kata Roy.

“Bagus kalau kau ingin bermain musik. Tapi ingat pelajaran kamu. Sebentar lagi kamu akan ulangan kenaikan kelas. Jangan sampai kamu tinggal di kelas empat. Malu, kan?” kata Ayah Roy mengingatkan anaknya.

Untuk mewujudkan cita-cita, Roy minta masuk ke sekolah musik di kotanya. Sekolah musik ini dilaksanakan setiap Minggu pagi. Awal masuk sekolah musik, Roy diajari main seruling. Permainan serulingnya sudah bagus. Roy merasa bosan. Ia ingin belajar musik lain. Gitar  merupakan alat musik yang ingin dimainkannya. “Huh, sebel aku! Bosan main seruling terus. Aku mau belajar main gitar, eh malah main seruling. Padahal aku sudah bisa main seruling,” gerutu Roy setelah pulang dari sekolah musik.

Ayah mendekati Roy dan mengusap kepalanya. Laki-laki paruh baya itu menghibur anaknya yang sedang kesal. “Tidak usah mengeluh. Ikuti saja apa yang disuruh guru musikmu.” kata Ayah Roy. Ia tidak ingin anaknya kecewa berkepanjangan.

“Tapi… Yah. Aku ingin belajar main gitar,” rengek Roy kepada ayahnya.

“Ya sudah, jangan kecewa. Besok Ayah ajari, mau? Tetapi kamu juga harus tetap melanjutkan main musik seruling,” pinta Ayah Roy.

Roy memendam rasa kesal dan kecewa. Ia masuk rumah sambil bersungut-sungut. Ayah hanya tersenyum melihat raut muka anak laki-lakinya yang cemberut.

Sebenarnya sekolah musik tempat belajar Roy juga mengajarkan main gitar. Tetapi permainan alat musik ini diberikan bagi siswa yang sudah mahir memainkan alat musik tiup.

Untuk belajar, Roy dan teman-temannya dibagi dalam kelompok bibit, akar, batang, dahan, dan ranting. Kelompok itu dibentuk berdasarkan tingkat kemampuan. Kebetulan Roy masuk di kelompok bibit. Kelompok ini terdiri dari siswa sekolah musik yang baru belajar dasar.

“Kapan Ayah mau ngajari aku main gitar? Ajari sekarang dong, Yah!” Roy mendekati ayah yang sedang membaca koran di teras. Ia membawa gitar milik ayahnya.

“Baiklah kalau kamu ingin belajar main gitar. Ayo pegang gitarnya!” perintah Ayah.

Roy melaksanakan perintah ayah. Ia mulai mengikuti petunjuk yang diberikan Ayah.

“Kamu sudah siap dan yakin ingin bisa main gitar, to?” Ayah membetulkan letak jari-jari tangan Roy pada kunci gitar. Roy mulai belajar memetik gitar. Karena semangat, jari-jari tangannya sampai terasa perih.

                                                                                                      *****

“Minggu depan Roy ada ujian seleksi peserta konser, Yah.” Roy meletakkan alat musik seruling di meja dekat tempat duduk ayah. Kemudian ia melepas sepatu yang dipakainya.

“Bagus itu, kalau kamu bisa menjadi peserta konser,” ucap ayah.

“Tapi syaratnya cukup berat, Yah. Setiap peserta harus bisa memainkan tiga buah lagu menggunakan alat musik. Alat musik yang dimainkan bisa apa saja,” jelas Roy.

“Lha, kamu mau memainkan alat musik apa?” ayah balik bertanya.

“Aku mau memainkan gitar saja, ah,” jawab Roy dengan penuh keyakinan.

“Tetapi kamu belum mahir main gitar. Menurut ayah permainan serulingmu sudah bagus,” puji ayah.

Roy tetap bersikukuh dengan kemauannya. Ia tidak menghiraukan saran dari ayah. Anak bermata sipit itu tetap akan bermain gitar ketika ujian seleksi besok.

Akhirnya Roy mengikuti ujian seleksi peserta konser. Ia memainkan tiga buah lagu dengan gitar. Sayang permainan gitar Roy tidak cukup bagus. Ia gagal menjadi peserta konser di sekolah musiknya.

Sejak peristiwa itu Roy jadi pendiam. Ia mengurung diri di dalam kamar. Harapan jadi gitaris mulai pupus. Anak laki-laki berambut cepak itu tidak akan bisa menjadi pemain musik terkenal.

Ayah berusaha menghibur Roy. Tok-tok-tok. Suara pintu kamar Roy yang diketuk ayah. “Roy, boleh Ayah masuk?” tanya ayah dari luar kamar.

Roy membukakan pintu kamar untuk ayah. Kemudian ia menghempaskan badannya di tempat tidur. Raut muka anak laki-laki berpipi tembem itu masih cemberut.

Ayah mendekati Roy yang duduk di tepi tempat tidur. Orang tua itu mengelus kepala Roy, anak sulungnya. “Gagal bermain gitar bukan berarti kau tidak bisa bermain musik. Bukankah kau hebat memainkan serulingmu? Manfaatkan kemampuan kamu yang sekarang dulu. Bukankah di sekolah musik, besok kamu juga akan diajarkan main gitar? Kamu coba lagi pada kesempatan berikutnya. Jadikan kegagalan ini untuk belajar lebih baik lagi. Ayo, berlatih lebih giat dan ikuti lagi ujian yang akan datang. Ayah yakin kamu akan menjadi pemain musik hebat. Pemusik yang bisa memainkan beberapa alat musik.”

“Benarkah, Ayah? Kalau begitu aku ingin belajar main musik lagi. Aku ingin bisa memainkan beberapa alat musik,” ucap Roy dengan penuh semangat.

Ayah mengangguk mantap sambil melemparkan senyumnya. Orang tua itu merasa lega karena anaknya bersemangat belajar main musik lagi.

Ditulis oleh: Su Prapti

Reviewer: Seno NS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *