Rindu Ibu, dan Kekhawatiran itu

Sumber gambar: aliexpress.com

“Sejak tahun 1998, Ibu sendirian.”

Aku menghitung mundur. Di tahun itu, aku bahkan belum lulus ‘Aliyah (SMU). Setelah lulus, sempat kuliah di kota pelajar, pindah ke Semarang, Jakarta, dan kembali pulang. Sangat banyak hal yang terjadi, pun kulakukan. Sementara Ibu, wanita yang melahirkan suami, sendirian? Pasti lah sangat sunyi. Mungkin puas bermesra dengan teguhnya doa, dan harap pada anak tunggalnya.
            Bukan!
Sebenarnya suami bukan anak tunggal. Laki-laki yang belum lama kukenal, saat menikah dulu, punya dua kakak. Namun, meninggal saat masih kecil. Jadi, status anak  tunggal disandangnya setelah itu. Dengan catatan, yang masih hidup.
            Tadi, pikiran ini belum menjumlahkan bilangan tahun, dimana Ibu  sendiri. Sekitar 19 tahun. Ya. jumlah yang bila ia adalah seorang bayi di tahun tersebut, maka saat ini sedang menapaki usia dewasa awal. Apa kabar kerinduan Ibu untuk berkumpul? Tak sebatas membuncah. Bahkan, aku tak sanggup mendefinisikan detail satu per satu rasa di hati Ibu.
            Angin menyapa wajah kami. Pintu kamar kecil ini terbuka. Sesekali, kuintip gemintang di langit. Sawah di samping kiri rumah ini gelap. Dalam ruangan, pun hitam saja yang tampak. Ini, kali kedua mati listrik. Dengan situasi begini pula, aku dan suami bisa lebih banyak bercerita, bahkan, ini adalah suasana yang sangat kurindukan sejak enam tahun silam. Selama enam tahun, suasana begini jarang sekali ada. Mau tidak mau, aku harus berbagi suami, dengan aktivitasnya. Eh, bukan. Bukan berbagi suami. Berbagi waktu bersama suami.
            “Lalu, apakah Ibu merasa lebih bahagia sendiri, atau dengan keberadaan kita yang berisik?”
            Aku butuh memastikan, meski aku yakin, berbakti pada Ibu adalah kewajiban, kalimat positif akan membuat makin bersemangat. Bila keberadaan kami masih negatif, maka aku bisa mencari cara lain, untuk membahagiakan Ibu. Karena, Ibu suami, kedudukannya sama dengan ibu yang melahirkanku. Berisik? Betul. Anak-anakku memiliki energi besar. Suara-suara hanya berhenti saat kendali berperan, saat bebas, mereka lepas. Berlarian, berkejaran, saling rebut mainan, bahkan suara tangis adalah lagu wajib si kecil yang berusia empat tahun.
            “Ya lebih senang kita di sini.”
            “Apa sudah tanya soal itu?”
Aku mulai konyol.

Menanyakan kebahagiaan adalah cara tersalah untuk menilai rasa hati seseorang.

            “Ya cukup dengar saat bercerita pada tetangga, dan sikap beliau.”
            Diam-diam, pikiran ini menelisik, apa sebab suami baru kuat iktikadnya saat ini, untuk berbakti.
Ke mana tekad itu, sebelumnya?
Mengapa baru saat ini pindah, dari Yogyakarta ke Madura?
Apakah aku sebabnya?  
Entah.
Yang jelas, aku siap ada di mana pun, selama jalan yang kami tempuh adalah jalan-Nya. In sya Allah. Aku tahu, diri ini tidak lah sesalehah Asma Binti Abu Bakar, tapi tidak ada salahnya meneladani beliau. Ketika banyak yang khawatir akan kehidupan dunia kami, aku ingat kisah beliau.
Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, hijrah bersama Abu Bakar. Ayah Asma itu membawa sekitar 5000/6000 dinar seluruh hartanya. Abu Quhafah, kakeknya Asma’ khawatir. Beliau mengatakan bahwa Abu Bakar membuat sengsara. Serta merta, Asma’ mengumpulkan batu, lalu menyusunnya di gudang. Kebetulan, Sang Kakek (maaf) buta. Beliau dituntun, dan diarahkan pada tumpukan batu dalam kain tersebut. Asma’ mengatakan bahwa itu adalah harta yang ditinggalkan ayah beliau, untuk mereka. Sang Kakek pun tidak khawatir lagi.

 

Ibu merindukan kami, dan kalian mencemaskan kami yang bersama beliau? Doa terbaik, jauh lebih berarti, dari sepeti emas berbalut rasa cemas. [] Sumber kisah: Al Mishri, Mahmud. 2011. 35 Sirah Shahabiyah. Jakarta: Al I’tishom Cahaya Umat.
 
Ditulis olehKayla Mubara: seorang ibu yang menyukai pelangi, embun, dan harapan. Menulis tanpa batas genre, namun membatasi diri dengan kendali religi.

5 thoughts on “Rindu Ibu, dan Kekhawatiran itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *