RESIGN DAN HARI-HARI SETELAH ITU

sumber: ihei.wordpress.com

Menikah, umumnya menjadi impian bagi perempuan manapun. Tak terkecuali saya.  Setelah menikah, lalu apa? Yang ada di pikiran saya ketika itu adalah: setelah menikah kehidupan saya tidak akan jauh berbeda dengan sebelumnya. Saya diijinkan untuk tetap bekerja, tapi bukan lagi di Jakarta melainkan Yogyakarta – kota yang dipilih suami saya sebagai tempat tinggal sekaligus tempatnya mencari nafkah. Maka dengan senang hati saya akan tinggal di mana suami saya berada.

Stay at Home Mom atau Working Mom?

Sama saja, keduanya adalah ibu rumah tangga, dengan fungsi dan arti yang sama namun memerankannya dengan cara yang berbeda. Tidak ada yang keliru, pilihan diambil dengan pertimbangan dan untuk kebaikan keluarga masing-masing.

Demikian pula langkah yang saya ambil.  Saya resign dari perusahan tempat saya bekerja selama 8 tahun dan hijrah mengikuti suami setelah anak pertama lahir, di tahun ke-2 pernikahan kami. Di tahun pertama, saya dan suami masih tinggal berjauhan – LDM – Long Distance Married.

Kepindahan saya mengikuti suami dibarengi dengan keputusan : saya tidak akan bekerja lagi. Apa alasannya? Hati saya yang memutuskan demikian. Biasalah ya, perempuan, cenderung lebih suka main hati.

Menjadi istri dan sekaligus ibu ternyata diluar bayangan saya. Ibu saya sendiri tidak bekerja kantoran, beliau menjalankan usaha katering kecil-kecilan di rumah. Jadi saya tidak punya bayangan maupun pengalaman seperti apa menjadi ibu yang bekerja di luar rumah yang harus meninggalkan anak di rumah dengan pengasuhnya.

Menitipkan anak di rumah orangtua juga tidak mungkin, karena baik orangtua saya maupun mertua tidak tinggal di kota yang sama dengan kami. Kalaupun kami tinggal berdekatan, tidak ada dalam rencana kami untuk merepotkan masa tua mereka dengan menjaga anak-anak kami.

Faktor psikologis menjadi alasan terkuat saya ketika mengambil keputusan bahwa saya tidak akan bekerja lagi. Saya belum tahu apa yang akan saya kerjakan nanti selain mengurus rumah tangga dan mengasuh anak, saya hanya ingin selalu dekat dengan anak saya, itu saja yang saya tahu. Saat itu.

Ada Yang Suka dan Tidak

Dari sharing sesama resigner, cerita kami hampir semua sama. Pilihan kami tidak dapat dipahami oleh sebagian orang, dan sayangnya tanggapan negatif justru mengalir dari orang-orang terdekat, terutama keluarga.

Mulai dari dibilang  ‘bodoh’, ‘sayang sekali’ sampai ‘kerjaannya jadi seperti pembantu’.  Dan saya tidak selalu bisa menerima komentar-komentar itu dengan kepala dan hati yang sejuk.  Wajar, kan, kalau sesekali kesal?

Tapi, ‘gangguan’ kecil itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa nyaman yang saya dapatkan. Alhamdulillah, orangtua justru senang dengan keputusan saya untuk keluar dari pekerjaan. Bahkan mertua saya pernah bilang kalau beliau prihatin dengan tetangganya, yang sudah setengah baya tapi masih harus mengasuh cucunya karena kedua orangtua anak itu bekerja. Secara tersirat, saya merasa kalau ibu mertua merestui jalan yang saya pilih.

Kembali lagi, wawasan orang tidak sama rata, orientasi dalam hidup juga berbeda.  Lakukan saja yang menurut kita baik, selama tidak melanggar hak dan kepentingan orang lain.

Jetlag?

Tidak melulu optimisme yang mengiringi metamorfosis saya dari seorang lajang pekerja menjadi istri dan ibu yang tinggal di rumah.

Kekhawatiran akan berbagai hal sempat muncul di awal-awal masa resign saya. Jangan-jangan nanti bosan, lalu bete, uring-uringan. Bisa saja kan? Jenuh suatu saat akan ditemui kalau rutinitas yang kita jalani sudah sedemikian baku.

Mungkin karena belum lama menjalani cuti melahirkan, saya hampir tidak mengalami ‘gegar budaya’. Dari yang semula terbiasa bertemu dengan banyak orang mendadak menjadi orang rumahan. Yang tadinya hanya duduk saja selama 8 jam kerja, menjadi semacam gangsing, berputar-putar dari dapur, kamar tidur, meja makan, kamar mandi, ruang tv, jemuran baju, balik lagi ke dapur dan seterusnya.  Terbayang, kan, maksud saya?

Kembali Membuka File ‘Hobi’

Jumlah waktu yang saya punya sama seperti orang-orang lain, 24 jam.  Dulu saya habiskan 16 jam di jalan dan di tempat kerja, sisanya harus cukup untuk istirahat di rumah.  Sekarang? Kalau aktifitas di rumah dianggap sebagai ‘bekerja’, maka waktu yang dihabiskan kurang lebih sama. Tapi bagi saya, kenikmatannya sungguh berbeda.

Lalu, apa yang akan saya lakukan sekarang? Saya mencari kesibukan lain, yang bisa saya lakukan di rumah. 

Mulai dari mana? Saya memulainya dari hal yang saya sukai, yang menjadi hobi, yaitu membaca dan menulis. Kalau dulu hobi menulis hanya sekedar iseng-iseng suka, sekarang harus lebih lagi. Waktu untuk membaca sudah sangat minim, terselip diantara memasak, bermain bersama anak, berberes cucian, menulis dan … tidur.  Bagaimana pun kita harus meluangkan waktu untuk beristirahat, bukan?

Tapi saya harus membaca untuk mengembangkan kemampuan menulis, meskipun dalam keterbatasan waktu. Bacaan itu bisa berupa apapun : buku cetak, e-book, hingga serangkaian blog yang konten-nya sangat menginspirasi.

Mungkin teman-teman menyukai hobi lain? Berkebun, menjahit atau memasak?  Tentu    sangat menyenangkan, bisa menjalankan hobi kapan saja kita mau, dan bukan tidak mungkin yang semula hanya berupa hobi akan menjadi jalan rejeki. Dan konon katanya, hobi yang menjadi pekerjaan itu merupakan suatu kemewahan tersendiri.

Mencintai apa yang dijalani

Pada akhirnya yang kita hadapi adalah saat ini dan yang akan datang karena hidup itu berjalan maju. Hanya di film saja kita bisa kembali ke masa lalu, melakukan sesuatu untuk memperbaiki masa kini dan masa depan.

Saya sekarang adalah seorang istri dan ibu. Peran yang sangat luar biasa yang diembankan oleh Allah pada kita semua para ibu di dunia ini. Peran yang harus kita cintai sepenuh hati bukan dengan berat hati, karena hanya dengan begitu kita bisa menjalaninya dengan bahagia. Bahagia menjadi ibu rumah tangga yang luar biasa.


*****

Ditulis oleh: Oky E. Noorsari

6 thoughts on “RESIGN DAN HARI-HARI SETELAH ITU”

  1. Nice sharing mb, biasanya lajang pekerja yang berganti statusjd ibu rumah tangga kena post power syndrome. Merasa useless ktka mengerjakan pekerjaan RT, tp klo kembali berkarya sesuai passion pasti lbh oke.

  2. Terimakasih sudah singgah.
    Betul, yang seperti itu juga lazim terjadi.
    Tapi kalau berpikir semua hal yang kita kerjakan,asalkan positif,pasti nggak ada ruginya, akan beda yang dirasakan. Hidup jadi bermanfaat.
    Salam, 🙂

  3. Teman sebaya = teman seumuran
    Setengah baya = Setengah umur? 50 tahun? 35 tahun?

    "…tetangganya, yang sudah setengah baya tapi masih harus mengasuh cucunya…"

  4. Kelas : SMP
    Pelajaran : Bahasa Indonesia
    kategori : Kosakata
    kata kunci : separuh, baya

    pembahasan:
    dalam kamus bahasa Indonesia
    – separuh = setengah
    – baya = umur

    jadi, separuh baya adalah seseorang yang umurnya pada pertengahan rata-rata manusia pada umumnya.
    beberapa narasumber mengategorikan umur yang dibilang separuh baya adalah antara 35 hingga 50 tahun.

    contoh dalam kalimat:
    1) Meski telah separuh baya, ayahku tetap bersepeda setiap hari Minggu mengelilingi kota.
    2) Ibuku dan ibunya Mira adalah teman sebaya (=teman seumuran)

    demikian, semoga membantu,terimakasih 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *