[Resensi] Jalan Berliku Dalam Menjemput Jodoh




Judul : Ya Allah, Izinkan Kami Menikah
Penulis : Dwi Suwiknyo dkk
Cetakan : Pertama, Januari 2017
Penerbit : Muhabbah
Tebal : 260 hlmn
ISBN : 978-602-391-307-7
Peresensi: Lintang Kinanti

… seheboh-hebohnya perjalanan hidup, ialah perjalanan menjemput jodoh (hal 4).


Setiap orang ingin menikah di usia idealnya. Mereka menyusun rencana, mencari pasangan, mengumpulkan materi sebagai modal menikah. Namun, tak demikian kenyataannya. Ada jalan berliku dalam menjemput jodoh, seperti 14 kisah dalam buku ini.

Dibuka dari kisah Dwi Suwiknyo. Di usia 24 tahun, Dwi telah menyelesaikan pendidikan S2. Dia juga berkeinginan segera menikah. Ironisnya, Dwi terantuk masalah tiap kali mengenalkan calon istri pada keluarganya. Semua berlangsung hingga calon ketiga. Mulai dari anak lawan politik bapaknya, jarak yang jauh, hingga intuisi orang tua menjadi alasan penolakan yang harus didengar Dwi.

Tak mau terjebak patah hati, Dwi berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang S3 di Malaysia. Sang kakak mengendus rencana itu, dan menentangnya. Kakaknya bersedia melakukan apa saja agar Dwi mengurungkan niatnya, termasuk mencarikan jodoh.

Ketika ditanya jodoh idamannya, Dwi menanggapinya setengah hati. Sembari bergurau, ia mengajukan nama Alyssa Soebandono sebagai acuan (hal 13).


Tak dinyana, dua minggu pasca melemparkan gurauan, kakaknya memberi kabar tentang seseorang yang menyerupai Alyssa. Berbagai rencanapun disusun, dengan sang kakak sebagai moderatornya.

Beruntung, Dwi tak menemui rintangan berarti dalam proses perkenalan, dan pertemuan. Begitu pun keluarganya. Semua proses, hingga lamaran berjalan lancar.  Namun semua tak berakhir di situ. Dwi masih harus menghadapi berbagai masalah justru saat menjelang pernikahannya. Mulai dari perbedaan organisasi antar keluarga, hingga rumor tentang sikap Dwi sebagai sosok asocial. Meski begitu, semua berakhir happy ending.

Bagi K. Mubarokah, menyandang predikat sebagai perempuan yang belum menikah di usia ke-28 tahun, bukanlah hal menyenangkan. Terlebih, kedua adiknya telah menikah. Padahal, bila ditilik dari pertemanan, ia memiliki banyak teman lelaki. Sedang dari segi wajah, ia tak termasuk buruk rupa.

Untuk mengusir kegelisahan hatinya, Mubarokah memilih menambah intensitasnya dalam berlatih bela diri. Ia ingin mempersembahkan sebuah medali pada kabupaten.

Di sela kesibukan, sesekali ia berselancar di dunia maya. Hingga ada satu akun bernama Ahmad, meminta konfirmasi sebagai teman Facebook-nya. Setelah dikonfirmasi, lambat laun terjalin pertemanan serius. Kedekatan itu mengundang tanya ibunya. Mubarokah tergagap. Karena sebelumnya Ahmad tak menjelaskan tujuan kedekatan mereka secara gamblang. Akhirnya, Mubarokah menyampaikan pertanyaan itu melalui temannya.

Jawaban yang didapat sungguh tak terduga. Ahmad merasa tak pantas menjadi pendamping Mubarokah.

Untuk menghapus patah hatinya, Mubarokah kembali fokus pada olahraga bela diri. Hasilnya, ia menyabet medali perunggu pada Pekan Olahraga Provinsi Jawa Tengah tahun 2009. Tak cukup di situ, Mubarokah juga melatih anak-anak SD dan SMP untuk mengikuti POPDA (Pekan Olahraga Pelajar Daerah). Ia telah memasrahkan urusan jodohnya pada Allah. Namun, saat itulah Ahmad kembali muncul dan menjelaskan ke mana arah tujuan mereka selanjutnya (hal 41-42).


Bila ingin tahu seperti apa rasanya bertemu jodoh, sementara belum lulus kuliah, maka bisa membaca kisah Syahrul. Bagaimana tidak? Syahrul hijrah ke Yogyakarta setelah mendapatkan beasiswa dari salah satu organisasi Islam  terbesar di Indonesia. Dia berkesempatan mengenyam pendidikan di sekolah kader, setingkat perguruan tinggi semi pondok pesantren, khusus laki-laki. Dengan konsekuensi mengabdi di sekolah berbasis asrama sebagai musyrif, setelah lulus nanti.

Syahrul memutuskan mengambil kuliah lagi, di jurusan pendidikan. Di dunia kampus inilah Syahrul bertemu seorang mahasiswi yang mampu membuatnya kagum, baik pada sifat, maupun penampilan. Namanya Nurul.

Meski mengaguminya, Syahrul ingin menguji gadis itu. Ketika ujian itu tidak berhasil, Syahrul kian memujanya. Syahrul tahu bila gadis pujaannya telah menyukai seseorang. Ia juga ditolak keluarganya. Hal  itu membuat Syahrul ciut nyali.

Keadaan berubah 180 derajat. Tiba-tiba Syahrul dihubungi untuk datang ke rumah orang tua Nurul. Di sana ia diberondong pertanyaan tentang keseriusannya pada Nurul.

Syahrul terkejut. Karena awalnya ia ingin bersilaturahmi, bukan melamar. Namun, Syahrul tetap menjawab semua pertanyaan dengan kesungguhan hati, menyatakan keseriusannya. Orang tua Nurul menerimanya. Mereka  memintanya segera melamar dan menikahi Nurul.

Hal ini membuat Syahrul dilanda dilema. Di satu sisi, ia ingin menikah dengan gadis pujaannya. Namun di sisi lain, Syahrul terikat pengabdian, yang masih menyisakan waktu 1,5 tahun.

Setelah menikah, ia mengajak Nurul menyembunyikan pernikahan mereka, dari lingkungan kampus dan sekolah tempat pengabdiannya. Nurul menyetujuinya. Hingga di tahun ajaran baru, Syahrul mengundurkan diri dari sekolah tempat pengabdiannya (hal 60).


“Sekali perempuan jatuh cinta, ia akan selalu menungguinya, meski harus memakan waktu hingga 40 tahun lamanya,” ucap seorang gadis manis, pada Adi Wahyudin.

Ucapan itu mampu membuat Adi berusaha keras untuk mencari pekerjaan. Bagaimana tidak, meski fisiknya ringkih, selama ini gadis itulah yang membuat hatinya tertawan. Adi ingin memiliki bekal untuk meminang.

Adi pulang setelah merantau hampir setahun. Berstatus karyawan dan memiliki sebuah motor cicilan, membuatnya mantap menghadap calon mertua.

Ketika bertamu, Adi gagal bertemu kedua calon mertuanya. Adi justru diberi sebuah undangan berwarna biru. Di undangan itu tertera nama calon mempelai, perempuan yang dipujanya dan lelaki lain. Meski perempuan itu berkali-kali meminta maaf, Adi tetap merasa hatinya sakit.

Adi bertekad membuka hatinya untuk gadis lain. Ia menginginkan seorang perempuan yang auratnya tertutup sempurna, sebagai istrinya.

Keinginan itu terjawab ketika ia harus memperbaiki komputer milik kenalan teman kerjanya. Pemilik komputer itu serang akhwat, dengan kriteria yang diinginkannya. Sepulang dari sana, si akhwat menghubunginya melalui sebuah pesan singkat. Ia bertanya, dan bertukar pandangan tentang kehidupan, kesukaan, hingga pernikahan. Semua dipungkasi dengan kalimat ajakan menikah dari si akhwat (hal 134).


Ajakan itu membuat Adi terkejut. Pikirannya berkecamuk. Bahagia, dan bingung menjadi satu.

Adi terdiam sesaat sebelum memberikan jawaban. Dia berdialog dengan hati kecilnya, tentang seberapa siap ia menikah. Setelah melalui pergumulan batin, Adi menyatakan setuju.

Bagi Heru Patria, tak ada yang lebih membahagiakan selain pinangannya diterima oleh kedua orang tua kekasihnya. Namun, kebahagiaan itu hanya sementara. Karena kekasihnya, Wita, datang memberi tahu jika kedua orang tuanya mengubah keputusan. Mereka tidak setuju Heru menjadi calon menantu.

Dari kekasihnya Heru dapat mengetahui, jika penyebab utamanya adalah adat di masyarakat sekitar. Arah rumah Heru dan kekasihnya dianggap akan membawa sial, jika mereka menikah nanti (hal 181).


Setelah memutar otak, akhirnya Heru menemukan cara untuk meruntuhkan keyakinan adat orang tua Wita. Heru meminta kakeknya Wita berbicara pada orang tua Wita, menjelaskan jika keyakinan itu salah.

Ada banyak kisah lain dalam buku ini. Semua disajikan dengan gaya berbeda. Membaca buku ini menyadarkan pembaca, jika jodoh merupakan perkara rahasia. Tak bisa dipercepat, atau ditunda. Jalan berliku yang harus dijalani dalam mencari dan menjemput pasangan, membuat kita sadar betapa berartinya sebuah pernikahan.

Sayangnya, di sana sini terdapat salah ketik, atau penulisan yang tak rapi, sehingga menjadi kurang nyaman dibaca. Namun, terlepas dari  itu, buku ini tetap layak untuk dimiliki. Terlebih, ada tips menjemput jodoh, dari masing-masing penulis, yang salah satunya bisa diterapkan, sesuai dengan kebutuhan pembaca.[]



Ditulis oleh: Lintang Kinanti (nama pena). Seorang perempuan moody penyuka warna biru. Setelah lama merantau di Tangerang, kini ia tinggal di Yogyakarta. Sesekali ia juga bisa ditemui di l-kinanti.blogspot.co.id 

17 thoughts on “[Resensi] Jalan Berliku Dalam Menjemput Jodoh”

  1. Semoga berkenan ya, Mbak. Saya merasa yakin, jika ada banyak di luar sana yang terwakili dengan buku ini. Begitu mereka membaca, bukan nggak mungkin membatin, 'ini gue banget'.

  2. jodoh memang tak dinyana datangnya. makin dikejar makin menjauh. jauh-jauh ke jakarta, ternyata jodoh hanya selang tiga bangku ke belakang semasa masih satu ruang di kelas 5 SD.

    ini komen, atau curhat?

    haaa, resensi yang apik. satu kata, AJARIN! :p

  3. Ini bukan komen, tapi curhat terkomen hari ini. Hihihi.

    Begitu lah, Mbak Oky. Selalu ada perjuangan untuk hal apapun yang ingin terwujud. Bisa jadi, jika kita sudah tahu si jodoh adalah dia yang deketan di kelas, kita bakal leyeh-leyeh dan malas. Ngapain diuber, orang udah jelas? Ngapain usaha, toh udah jelas. Hehe. Ini komen apa orasi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *