Putri Junki dan Putri Helti

Pada suatu ketika di Kerajaan Aneka Makanan, hiduplah sepasang raja dan ratu. Sang Raja dan Ratu telah lama merindukan buah hati sebagai pewaris tahta. Berbagai macam usaha telah dilakukan agar Sang Ratu segera mengandung. Siang dan malam keduanya terus melantunkan doa.

Melihat kesungguhan dan doa Raja dan Ratu, Tuhan mengabulkan permintaan mereka. Sang Ratu akhirnya hamil.

Setelah sembilan bulan sepuluh hari, Sang Ratu merasakan janin yang ada dalam perutnya ingin segera ke luar. Rasa sakit luar biasa pun mulai mendera. Namun, semuanya terbayar dengan hadirya dua bayi kembar perempuan.

Dengan penuh kasih dan sayang, Sang Raja dan Ratu merawat serta mengasuh kedua putrinya. Namun, anak kembar itu tumbuh menjadi dua pribadi yang saling bertolak belakang.

“Dayang, dandani aku dengan warna warni yang indah. Beri juga aku pengawet agar kecantikanku tahan lama. Bubuhkan penyedap rasa dan aneka perisa agar aku memiliki cita rasa yang lezat!” teriak Putri Junki.

Putri berparas ayu itu suka membentak para dayang untuk memenuhi segala keinginannya. Ia sangat suka memamerkan kemolekan tubuh yang dimiliki untuk menarik hati para manusia. Dia sangat bahagia ketika dapat berenang bebas mengikuti aliran darah manusia menuju seluruh organ tubuh mereka.

Dengan penuh suka cita, ia lepaskan semua racun yang ada pada dirinya kepada setiap sel tubuh yang ia singgahi. Tertawanya akan semakin lepas ketika menyaksikan manusia merintih kesakitan akibat racun yang telah ia sebarkan. Ya, karena semakin banyak manusia menjadi korban, semakin elok rupawan wajahnya.

Sudah sering kali orang tua dan Putri Helti memperingatkan Putri Jenki untuk mengubah tabiat buruknya. Namun, semua usaha belum juga membuahkan hasil. Putri berparas elok tapi berperangai buruk itu terus menerus mencari korban. Berbagai usaha untuk membuat orang sakit terus ia lakukan untuk memperoleh kecantikan abadi.

Ia tak mau tubuhnya terisi zat-zat makanan bergizi. Sedikit saja nutrisi masuk dalam tubuh, wajah ayunya berkurang. Oleh sebab itu, Putri Junki sangat murka jika dipaksa makan makanan bergizi oleh para dayang.

“Jangan pernah berharap ada gizi dalam tubuhku. Aku hanya ingin gula dan lemak saja. Awas, jangan pernah masukkan serat, protein, vitamin atau mineral, itu semua akan menghancurkan kecantikanku. Jika melanggar, kalian akan aku pecat semua sebagai dayang di istana,” seru Putri Junki kepada para dayang istana.

Mendengar ancaman Putri Junki, para dayang tak dapat berbuat banyak. Mereka tidak ingin dipecat. Terpaksa mereka menuruti semua kehendak Sang Putri.

Putri Helti yang mengerti semua perbuatan saudara kembarnya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa membantu menyelamatkan manusia dari ancaman Putri Junki dengan caranya sendiri.

Putri yang baik hati itu selalu meminta para dayang untuk membubuhi tubuhnya dengan serat dan nutrisi yang dibutuhkan manusia untuk melawan racun yang ditebarkan oleh saudara kembarnya. Ia selalu menjaga tubuhnya dari berbagai bahan kimia, seperti pengawet, pewarna buatan, pemanis buatan, penyedap rasa, dan lain sebagainya. Walau pun ia harus merelakan dirinya tampil dengan cita rasa, warna, bentuk, serta tekstur yang tidak elok.

Sang Putri berusaha menjaga tubuhnya dari berbagai bahan kimia. Ia penuhi tubuhnya dengan protein, serat, karbohidrat, lemak baik, mineral dan zat nutrisi lainnya. Kemudian ia mengikuti saudara kembarnya itu secara diam-diam. Setiap saat Putri Junki melepaskan racunnya ke setiap sel tubuh manusia, Putri Helti melepaskan nutrisinya sebagai penawar racun saudara kembarnya itu. Dengan begitu, banyak manusia akan terselamatkan dari menderita sakit.

Namun, kadangkala Putri Helti telah terlebih dahulu melindungi manusia dari ancaman Putri Junki. Ia meminta tolong para manusia yang peduli akan kesehatan untuk selalu mengingatkan menjaga dirinya dari Putri Junki. Dan Putri Junki itu tak lain adalah sebangsa makanan sampah yang tak ada gunanya sama sekali terhadap tubuh manusia. Maka nama Putri Jenki itu sendiri sebenarnya berasal dari kata junk food yang artinya makanan sampah.

Putri Helti tak pernah putus asa mengingatkan kepada para manusia untuk memakan dirinya. Ia sadar bahwa dirinya tidak secantik Putri Junki alias junk food yang penuh warna. Ia juga sadar bahwa kecantikan alami yang ia miliki tak kan bertahan lama tanpa bahan pengawet. Selain itu, ia menyadari sepenuhnya bahwa cita rasanya tak selezat saudara kembarnya karena ia tak mau dirinya diberi penyedap rasa. Namun ia selalu memastikan bahwa dirinya akan membuat manusia sehat sesuai dengan asal namanya healthy food yang berarti makanan sehat.

“Maka, perbanyaklah makan saya. Saya adalah Putri Helti alias healthy food. Sebaliknya hindarilah saudara kembar saya, Putri Jenki alias junk food. Dengan demikian, kesehatanmu senantiasa akan terjaga,” pesan Putri Helti kepada umat manusia yang dijumpainya.

Ditulis oleh: Widayati,
seorang guru bahasa Inggris yang sedang belajar menulis

Reviewer: Rohman

 

1 thought on “Putri Junki dan Putri Helti”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *