[Puisi] Episode Rumah

Sumber Gambar: hotmagz.com

 

PINTU
Diam–diam,
Dari lubang kunci itu,
Dia tahu,
Bahwa kita sebenarnya senang,
Menjaga apa–apa yang sebenarnya tak perlu dijaga
Sekaligus was–was,
Jika yang dijaga tak pernah menjaga.
JENDELA
Pelan–pelan,
Ssssst ….
Jangan kau bangunkan mimpi yang masih terlelap di balik selimut.
Biarkan terang di luar sana,
Dinikmati oleh serumpun ilalang,
Yang tumbuh liar di belakang rumah.
ATAP
Layang–layang putus pun akan terbang rendah,
Walaupun akan hilang, rusak, terkoak.
Begitu pula mereka,
Yang tengadah,
Mendamba kelegaan laksana birunya awan,
Begitu pula mereka,
Yang tinggi menjulang,
Mencandu kebebasan seperti angin,
Yang semilir, yang teduh, sejuk seperti atap
Yah,
Setiap jiwa yang berpetualang,
Tak lelah merindukan rumah.
Mereka mengukir jejak rindu di alisnya,
Tanpa mengucap kata,
Menikmati segala persinggahan,
Demi kembali kepada rumah,
Muara segala lelah,
Rumah segala rumah yang tak henti menerimamu pulang.
Ibu.
24 September 2017
Omah Cahaya – Ba’da Subuh
 
Ditulis olehWahyu Mardhatillah. Seorang penulis yang tinggal dengan keluarga kecilnya di kota penuh romantisme, Yogyakarta. Rumah virtualnya ada di @wahyumardha, www. thediaryofquestions.wordpress.com, dan www.cintaanakyatim.com.

 

Baca Juga:   [Cernak] HIDUP DARI LAUT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *