Pucan dan Cerita Pohon Jati

“Ayo terbang, Pucan! Aku akan bertiup kencang!”

“Bisakah tugasmu ditunda, Sepoisa?”

Sepoisa adalah angin yang menemani Pucan jalan-jalan. Hari itu, mereka ke desa kelahiran ibunya Pucan. Desa yang terletak di tepi Sungai Airizone. Sebagian besar  penduduknya bertani dan bercocok tanam.

“Tidak. Mendung sudah berteriak sejak tadi. Kau dengar?”

Pucan terdiam. Sayap Pucan mengepak pelan. Dia melihat ke sekeliling. Tidak ada satu pun kupu-kupu tersisa. Semua sudah pergi. Dia juga mendongak. Suasana gelap sekali, padahal masih pagi. Matahari tertutup mendung yang bergulung.

Air sungai Desa Famwan mulai berwarna cokelat. Itu berarti di hutan utara desa ini sedang hujan lebat. Biasanya, hujan pertama turun dari arah hutan. Kemudian merambat ke selatan, hingga desa Famwan.

 “Ayo, Sepoi! Kita segera laksanakan tugas Yang Maha Kuasa!” teriak Muson, teman Sepoisa.

Muson adalah jenis angin yang mendatangkan musim hujan, atau kemarau.

“Kau dengar itu, Pucan,” tanya Sepoisa.

 “I-iya. Aku berteduh di sini saja, Sepoisa.”

Kupu-kupu bersayap indah itu menghampiri pohon talas. Dia ingin sekali melihat Sepoisa melakukan tugas. Saat Sepoisa bertiup kencang, akan ada banyak pemandangan. Ilalang yang menari, atau pohon-pohon pisang bergoyang.

“Terbanglah ke daun jati itu!” pinta Sepoisa. 

“Oke,” jawab Pucan segera melesat ke arah barat.

Pucan hinggap di bawah daun jati yang kokoh. Kupu-kupu memilih bawah daun, atau ilalang untuk berteduh, ketika hujan. Pucan penasaran, bagaimana Sepoisa dan Muson bekerjasama.

“Kau bertiuplah dulu, Sepoisa!” pinta Muson.

Pucan melihat Sepoisa menari dengan gerakan cepat. Daun-daun kering di ranting pohon berjatuhan. Semakin lama, semakin banyak. Daun-daun berwarna cokelat itu pun melayang ke arah sungai.

Pucan melihat tanaman di tepian tanggul sungai. Ada cabai hijau, terong, dan kacang panjang. Semua bergoyang kencang ke kanan-kiri. Batang pohon tanaman itu seperti akan rubuh, tapi kemudian berdiri lagi. Seperti mau jatuh ke kanan, lalu bangkit dan mencium tanah, ke kiri.

“Hei, apa kau baik-baik saja di situ?” tanya sebuah suara.

Pucan mencari sumber suara. Ternyata itu sapaan Pohon Jati yang ditumpanginya.

“I-iya. Maaf, aku Pucan. Tadi aku lupa permisi,” jawab Pucan kikuk.

“Tidak apa-apa.”

Pohon Jati ikut meliuk. Tubuh Pucan mengikuti arah gerakan Pohon Jati. Daun-daunnya seperti kipas yang terus bergerak. Satu daun berwarna kecokelatan jatuh perlahan. Menyentuh tanah, dan bergeser mengikuti gerak Sepoisa.

“Apakah kau tahu, dulu tempat ini sangat indah?” tanya Pohon Jati pada Pucan.

Pucan masih melihat tetes-tetes air jatuh dari langit. Dia hanya menggeleng.

“Dulu, tanggul sungai ini masih besar. Orang-orang mencangkuli dan menjadikannya lahan seperti milik sendiri,” jelas Pohon Jati dengan sedih.

“Apa tidak ada yang melarang?” tanya Pucan penasaran.

“Menurut orang yang mandi di sungai, Pak RT sudah melarang. Tapi, warga desa tetap saja melakukannya. Mereka menanam seperti yang kau lihat.”

Pohon Jati terus bercerita.

“Kamu banyak tahu tentang desa ini?” tanya Pucan heran.

“Iya, aku sudah sepuluh tahun ada di sini.”

Pucan kembali heran. Dia hanya memiliki waktu hidup satu tahun. Pohon jati ini sudah sepuluh tahun. Sangat lama bagi Pucan. Karena, usia satu tahun bagi kupu-kupu adalah usia terlama. Teman-teman Pucan ada yang hanya hidup selama seminggu.  

“Kenapa orang-orang itu tidak patuh?”

Pucan mendekati batang pohon. Dia melihat kulit kayu jati yang sangat kokoh. Pantas saja umurnya panjang. Badannya sangat kuat, kata Pucan dalam hati.

Hujan turun semakin deras. Air sungai mulai naik.

Pucan semakin erat berpegangan pada daun jati.

“Mereka serakah. Mencangkuli tanggul demi mengisi perut. Menjadikan tanggul menipis, dan mudah jebol saat banjir,” jelas Pohon Jati.

Udara terasa dingin. Beberapa orang Desa Famwan mondar-mandir di atas tanggul. Mereka memakai mantol. Ada juga yang memakai payung. Seorang bapak bermantol biru mendekati pohon pisang. Tangannya mendorong kayu yang tersangkut di sana.

Hujan mulai reda. Sepoisa mendekati Pucan.

“Hei, Pucan. Apa kamu akan pulang sekarang?” tanya Sepoisa saat sudah dekat.

“Apa gerimis tidak bahaya untuk sayapku?” tanya Pucan khawatir.

“Baiklah. Kita tunggu reda. Apalagi kamu khawatir, sayapmu dalam bahaya jika menerabas gerimis,” jawab Sepoisa.

Hari masih pagi, tapi suasana desa sunyi. Titik-titik gerimis semakin kecil, kecil, dan kecil. Sepoisa melesat dan menari pelan. Embusannya mengabarkan pada Pucan bahwa hujan benar-benar sudah reda.

“Ayo kita pulang!” pinta Pucan.

“Eh. Pohon Jati, terima kasih untuk ceritamu,” kata Pucan, kemudian berpamit.

“Sama-sama, Pucan. Semoga kita tidak serakah seperti orang-orang desa ini. Demi menuruti keinginan, mereka membahayakan seluruh penghuni desa,” nasihat Pohon Jati.

“Oke. Terima kasih. Daaah!”

Pucan dan Sepoisa melesat ke arah barat daya. Mereka pulang ke Kerajaan Bufilania. Di belakang mereka, air sungai Airizone kembali naik, naik, dan naik. Apakah hari ini tanggul sungai Airizone akan jebol, ya? []

Ditulis oleh: Kayla Mubara

Reviewer: Rohman

 

One thought on “Pucan dan Cerita Pohon Jati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *